Terhangat

Simbol Kehidupan

Oleh: Yoshi Shofa

Di luar sana hujan turun sangat deras, kualihkan pandanganku dari layar laptop. Lalu kupandangi hujan dari kaca jendela sambil sesekali menyeruput cokelat panas. Satu kata yang bertengger di pikiranku ‘menenangkan.’

            Entah apa yang sedang aku pikirkan, hanya saja aku sangat suka dengan suasana seperti ini sambil mendengarkan lagu, rasanya seperti sedang bernostalgia dengan masa yang pernah ada. Aku bangkit dari kursi lalu berjalan menuju rak yang dihiasi dengan berbagai macam buku. Aku memperhatikan dengan teliti sampai akhirnya ku temukan kepingan kenangan 6 tahun yang lalu, sebuah album foto yang pernah hidup pada masanya.

Aku duduk kembali dan mulai membuka album foto itu, ah ternyata itu adalah kumpulan foto saat aku SMA. Suasana hujan, minuman cokelat panas yang mulai mendingin, dan lagu yang mengalun adalah perpaduan yang tepat untuk bernostalgia. Aku membolak-balik album foto itu, sampai akhirnya aku melihat sebuah foto yang memiliki makna berbeda dengan yang lainnya, Itu adalah foto diriku yang sedang memandang sebuah pohon besar di tepi jalan. Aku ingat sekali kisah di balik foto itu, saat itu setelah pulang dari acara perpisahan SMA, aku tengah berjalan kaki menyusuri jalanan itu sampai akhirnya tiba-tiba hujan turun, aku langsung berlari menuju halte bus yang berada tak jauh dariku untuk berteduh.

            Aku sangat menikmati suasananya, aku tengah duduk dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di seberang sana.

“Hei!” Seseorang menepuk pundakku. Aku sangat terkejut saat itu, ada seorang bapak-bapak tengah duduk tak jauh dariku dan tersenyum ke arahku.

“Habis dari sekolah?” Tanya beliau.

“Iya, Pak. Habis menghadiri acara kelulusan.”

“Wah, selamat kalau begitu!” Ujar beliau sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.

“Terima kasih, Pak,” ujarku sambil menyalaminya.

            Lalu kami berbincang-bincang, beliau pandai sekali mencari topik pembicaraan. Beliau menceritakan dirinya semasa remaja, perihal mimpi-mimpinya serta harapannya dan selalu menyisipkan candaan di setiap ceritanya. Sampai akhirnya ada satu topik yang membuatku terkesan dengan beliau.

“Hei, kau lihat pohon yang besar di pinggir jalan sana?” tanya beliau, aku langsung menengok ke arah yang ditunjukkan oleh beliau.

Aku pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaanya.

"Apa jadinya ketika kehidupan ini tak memiliki pohon atau tumbuhan lainnya?”

“Hmm?” Aku kikuk saat mendapat pertanyaan seperti itu dari beliau.

“Kau tahu, Nak? Saya selalu belajar hal-hal kecil dari pohon, bagaimana tentang kehadiran dia sangat penting bagi sebuah kehidupan di bumi ini. Bahkan banyak pohon yang memiliki julukan ‘1001 manfaat’. Saya selalu merasa takjub dengan pohon, dia bukan hanya bermanfaat di lingkungan sekitar tapi dia merupakan salah satu simbol kehidupan di bumi ini. Saya selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar seperti hal nya pohon, saya selalu merasa senang ketika ada orang yang memanfaatkan kebaikan yang saya tawarkan, setidaknya ada waktu dalam kehidupan ini yang saya habiskan untuk berbuat kebaikan dan dimanfaatkan oleh orang sekitar. Terkadang saya merasa heran, kebanyakan orang merasa terbebani dan dirugikan jika dia berbuat baik dan dimanfaatkan oleh orang lain? Saya tidak menyalahkan, hanya saja jika manusia berpikir ulang semua kebaikan itu akan berbalik pada dirinya sendiri, itu adalah pemikiran saya, kau tidak setuju pun tak apa, karena setiap manusia memiliki pendapatnya masing-masing, bukan?” Ujar beliau.

Aku memandangi beliau yang tengah melepas kacamatanya dengan pandangan takjub akan pemikirannya.

“Huh! Baiklah. Sampai sini dulu pertemuan kita, semoga kau selalu kuat dalam menjalani kehidupanmu dan ini hadiah dariku untukmu agar kau selalu  mengingat pertemuan kita hari ini,” ucap beliau sambil memakai topi bucket-nya dan memberiku sebuah foto polaroid sambil tersenyum.

Aku mengambil foto itu lalu beliau membuka payung dan perlahan pergi menyebrangi jalan. Beliau melambaikan tangannya kepada ku sampai akhirnya beliau benar-benar hilang saat keramaian itu dan foto polaroid itu adalah foto yang sedang aku lihat saat ini, ternyata beliau sempat memotretku dengan kameranya saat aku sedang memandangi pohon yang ia tunjuk.

Ternyata, beliau benar bahwa aku mengingat pertemuan kami pada saat itu.

Tidak ada komentar