Terhangat

Harapan yang Pupus

Oleh: Annisa*


 
            Satu hal yang membuat kita menanti seseorang adalah harapan, harapan yang diharapakan dapat terwujud. Harapan agar kelak ia kembali mengisi relung jiwa kosongku ini dengan coretan keindahan yang ia toreh. Bukan lagi rindu yang selalu menuggu kapan yang dirindukan segera kembali. Ia berjanji untuk kembali dan aku harus esktra sabar dalam menanti. Tahun berganti, dan hari pun ikut mengiringinya, sedangkan aku masih disini menyimpan sebuah harapan agar kelak ia bisa kembali menetapi janjinya. Kini  sudah tiga tahun semenjak kepergiannya tapi masih belum ada kabar ia akan segera kembali.

 “Hay, Ray. Tumben pagi-pagi sudah ke kampus,” sapa Meli menghampiriku.

“Hehe. Iya, Mel. Aku ada masuk pagi ini,” kekehku.

            “Oh iya, Ray. Ini ada undangan buat lo,” ujar Meli sambil menyodorkan undangan dengan warna tosca ditambah motif bunga-bunga menambah kesan indah.

 “Kamu mau nikah, Mel?” tanyaku, sedangkan Meli hanya tersenyum malu-malu.

“Asyik! Meli nggak jomblo lagi,” celetuk seseorang tiba-tiba yang tak lain adalah Adit si tukang onar.

“Sejak kapan lo muncul, Dit?” tanya Meli yang hanya dibalas cengiran oleh Adit.

“Lo juga datang, ya. Gue pergi dulu ya soalnya ada kelas,” ujarnya melangkah pergi.

“Lo kapan nyusul Ray?” tanya Adit tiba-tiba.

“Kayak lo udah aja,” balasku.

“Gue cuma nanya sih. Ray nama calonnya Meli atau Angga? Oh, jangan-jangan Angga pacar lo lagi,”  ujarnya sambil memperhatikan undangan yang ia pegang.

 “Nggak lucu, Dit. Besok pergi sama gue, ya.” 

“Malu lo ya pergi nggak ada gandengan. HAHA. Bye… sahabat gue yang jelek,” ujarnya sambil menoyor dahiku membuatku menatapnya sinis.

“Dasar sahabat laknat.” sedangkan Adit hanya tertawa sambil melangkah pergi.

Hari  ini  adalah hari yang sangat dinantikan oleh Meli dan aku sebagai temannya pun turut berbahagia akan hal itu. Itulah, aku berniat ingin menghadiri acara pernikahan Meli. Aku akan pergi bersama Adit sesuai permintaanku kemarin, tepat jam 7 Adit sudah stand by di rumahku dia memang begitu walau anaknya begajulan, tapi ia tipe orang yang disiplin.

“Gimana lo udah siap belum, lihat Angga nikah?”

“Yang nikah itu Angga calon suaminya Meli, bukan Angga pacar gue.”

“Tapi kan namanya sama-sama Angga sih,” jawabnya sedangkan aku hanya mendengar tanpa ada niatan menjawab ocehan Adit yang tak ada habisnya.

“Ray,” katanya.

Aku hanya berdeham, iya.

“Apa nggak ada harapan untuk gue?”

Aku pun langsung diam mendengar itu semua karena aku tahu apa yang dimaksud Adit.

 “Maaf, Dit. Tapi, ini udah ketiga kalinya lo tanya pertanyaan yang sama dan jawaban gue pun masih sama,” jawabku.

 “Tapi, kenapa Ray? Lo masih nungguin dia, orang yang pergi selama tiga tahun lamanya tanpa ada kepastian yang jelas.” 

 “Hentikan, Dit. Lo itu sahabat gue. Jangan hanya gara-gara masalah ini kita jadi berantem.”

 “Ray coba berhentilah untuk berharap sama dia, lo udah berapa kali kan coba e-mail dia nelpon dia, sms dia tapi gak pernah dibalas kan, dia itu udah lupa sama lo Ray, lo udah dibutakan sama cinta Ray.” 

“Kalau iya gue udah dibutakan sama cinta, lo bisa apa? Gue sms dia, telepon, e-mail semuanya nggak pernah dibalas dan alasan itu semua gue masih berharap, tapi satu hal yang masih buat gue berharap, Dit. Janji dia sebelum Angga pergi dia nyuruh gue untuk menunggunya dan ketika Angga kembali Angga  akan langsung melamar gue ke orang tua gue Dit, itu janji dia Dit, harusnya lo senang lihat gue bahagia,” ujarku parau.

“Tapi itu hanya janji, jangan terlalu berharap.”

“Gue yakin Dit, Angga pasti akan tepati janjinya sama gue, lo yakin kan sama gue,” ujarku sambil tersenyum.

“Kalau itu yang membuat lo bahagia, gue pun akan ikut bahagia.” 

“Ya udah. Yuk, kita turun. Kita jumpai Meli dulu,” ujarku sambil tersenyum hanya dibalas anggukan olehnya.

Tiba-tiba kakiku berat rasanya melangkah apa lagi melihat  seorang lelaki sedang memakai tuxedo hitam sambil tersenyum menyapa para tamu undangan dengan seorang wanita yang memakai gaun putih di sampingnya membuatku membalikkan badanku lalu berlari meninggalkan ruangan ini

“Ray, lo?”  ujarnya menarik tanganku sebelum aku pergi.

“Gue nggak papa, Dit,” ujarku dengan  mata yang berkaca-kaca lalu berlari keluar ruangan.

“Hai, Dit─” ucap  Meli, terhenti melihat Adit  langsung memukul Angga.

“Maksud lo apa ah, bajingan! Lo masih pacaran sama Raya, tapi sekarang lo malah nikah sama Meli!” sarkas Adit sambil memukul wajah Angga.

“Lo apaan sih, gila lo ya?” balas Angga sambil menghapus jejak darah di bibirnya.

“Iya gue emang gila, saking gilanya gue mau bunuh lo sekarang, gara-gara lo sahabat gue jadi sedih. Apa lo tahu? Kalau suami lo ini adalah pembohong,” ujar Adit.

“Maksud lo?” tanya Meli bingung.

“Gia itu pacarnya Ray, yang gue herankan kok bisa dia malah nikah sama lo. Astaghfirullah!!” sarkas Adit.

Di sinilah aku sekarang, di bawah mendungnya langit malam seakan dunia pun ikut bersedih. Aku meringkuh merasakan sejuknya malam ini menusuk tulangku. dengan sekujur tubuh yang membelenggu hingga akhir tetesan air mata tidak dapat tertahankan. membuatku tanpa sadar tak melihat mobil yang lewat.

BRUKK! Suara hantaman mobil. Ilahi, maafkan aku. Aku mati dengan harapan yang memberikan luka.

♥ ♥ ♥

*Pelajar SMA Negeri 1 Kepenuhan, Riau

Tidak ada komentar