Terhangat

The Informers Eps. 1 Awal Langkah

Sumber: republika.com

Oleh M. Ismail

“Bagian Keamanan, Ahmad Zarkasyi - Jombang, Afwan Rizki - Magelang, Rizqi Wilujeng - Pati…” Ustaz Tio pembimbing siswa akhir pondok membacakan susunan panitia bulan Syawal.  Ratusan siswa akhir berkumpul di aula utama pondok di samping gedung bagian pengasuhan santri. Disaksikan oleh para pembimbing angkatan siswa akhir pondok tahun 2017.

Bagi para siswa berkemeja putih dan celana hitam yang belum dipanggil masih berdiri di dalam aula dekat pintu masuk, sedangkan mereka yang sudah disebutkan namanya akan duduk di bangku bagiannya masing-masing tepat di depan panggung aula. Aku masih bersabar menunggu di antara siswa-siswa kelas enam yang resah menunggu panggilan. Sungguh menjadi siswa kelas 6 adalah hal yang spesial di pondok ini. Bagaimana tidak, dari berbagai cabang pondok-pondok yang ada dikumpulkan yang terbaiknya di kampus pusat, dan aku bangga menjadi salah satunya.

“Bagian Penerangan .. Islahul Anam – Jakarta, Sulthan Abimanyu – Kalimantan, Nur El-Nafi – Bogor, …… Muhammad Ismail – Pontianak.” Aku tersenyum puas mendengar namaku dipanggil Ustaz Tio dan segera berjalan cepat. Sungguh harapanku Allah kabulkan untuk menjadi Bagian Penerangan. Sudah lama sekali aku berharap bisa jadi bagian itu semenjak masih di pondok cabang, Kampus Tiga.

Duduk berderetan di bangku bersama wajah-wajah yang tampak pintar dan ahli bahasa membuatku minder. Apalagi harus bersampingan dengan mereka yang pernah merasakan kader bagian tahun lalu, pasti kemampuannya jauh lebih hebat dari yang lainnya. Namun, aku merasa cukup tenang dan senang karena bisa sebagian dengan sobat karib lamaku sewaktu menjadi calon pelajar tiga tahun yang lalu. Ya, namanya Raka Yoranda. Seorang yang penuh percaya diri dan murah senyum, meskipun kata-katanya sedikit pedas jika mengkritik seseorang. Selain dia juga ada Sulthan yang pernah belajar sekelas bersamaku.

Bulan Ramadan di pondok memang terasa begitu cepat, terik panas siang hari pun tak begitu mencekik. Sehingga sore ini aku dan teman-teman dari kampus lainnya bisa memindahkan barang ke kamar bagian. Anam sang ketua CID (Central Information Departement) alias Bagian Penerangan mengajak kami kumpul bersama di ruang tamu. Santri-santri yang memasukkan kaosnya ke dalam celananya ini berkumpul cukup sesak dengan tiga puluh anggota, bahkan lebih. Ketua berkacamata minus satu setengah itu membuka pertemuan dengan salam dan memperkenalkan dirinya. Ia terpilih menjadi ketua karena tahun yang lalu diamanati menjadi kader CID di pondok pusat ini. Sedangkan Sulthan terpilih jadi ketua kedua karena dari intensif[1]. Panji, Husein, Zain, Aidil, dan Revo dengan senang hati meperkenalkan dirinya sebagai penghuni lama kantor bagian penerangan semenjak mereka duduk di kelas lima.

Ada satu orang lagi yang sama seperti mereka, dia duduk di pojokan mengenakan jaket hijau tentara dengan ritsletingnya yang tertutup rapat menutupi lehernya. Anak bermata bulat dengan alis lentik itu tampak malu dan sungkan sembari menatap ke langit-langit. Akan tetapi yang lain amat menunggunya untuk berbicara. Aku heran dari beberapa hari kemarin kenapa dia menjadi pusat perhatian pandangan teman-teman saat di masjid.

“Kenalin, nama ana Nur El-Nafi, panggil aja Nafi.” kata seseorang berkulit putih bersih itu seraya mengangguk menutup kalimatnya. “WOOOOHH NAFIII PEEE!” seluruh ruangan heboh dibuatnya, sorak-sorak yang lainya mengahangatkan suasana, bahkan Bunyan dan Alvis sampai berdiri kegirangan sambil tepuk tangan. Namun jujur saja aku bingung ada apa dengannya.

“Eh kenapa sih sama Nafi? Kok heboh banget?”

“Dah, ente ga tahu dia, Il?” ujar Furqon teman sekampusku saat kelas 5 dulu.

“ Siapa pe, ana aja baru tahu dia sekarang.”

“Ya Allah dia anak angkatan paling terkenal di setiap pondok pee, haduh ente gimana sih kok ga tahu, hahahahahha.” katanya heran dan menepuk bahuku.

“ Yaudah sih gapapa kalau baru tahu juga.” Aku membuang muka padanya.

Nafi tampak canggung di antara kami karena baru saja bertemu hari ini. Raka, Farhat, Faishol, Agilatul dan Luthfi  melanjutkan memeperkenalkan diri setelahnya. Mereka sama seperti Sulthan dari intensif dan sejak dulu sudah belajar di kampus pusat.

“Kenalin nama ana Muhamad Ismail, panggil aja Ismail. Dulu kelas lima bagian mudabbir lungoh[2], abis itu  waktu PBR (Panitia Bulan Ramadhan) jadi jaga gerbang, ga tahu juga kok bisa kepilih jadi CID, hehehe.” Sungguh tak ada yang spesial dalam diriku di antara mereka yang tampak mahir. Hanya bermodalkan sering tampil sebagai MC ketika acara pondok dulu, semoga bisa membuatku bertahan disini sampai menjadi pengurus resmi.

Tibalah giliran seorang berperawakan gagah, berotot kencang, berbadan tegap dengan lengannya yang besar. Persis sekali seperti kuli-kuli bangunan.

“Nama ana Prasetya, panggil aja Prass.”

“KECUP!” Salah satu orang menyelutuk perkataanya.

“WEH, santai aja dong, ga terima maju!” Dia melotot tajam menikam ke sumber suara.

“HAHAHA, santai Cup, ga usah baper ente.

“Iyalah santai, siapa juga yang baper.” Seketika wajahnya berubah penuh canda.

“Hahahahahhahahaha.” Semua menertawainya.

Ana dari Jakarta, tahun kemarin jadi kader CID di Kampus 5.”

Tak hanya dia seseorang sebagai mantan kader CID, ada Furqon, Yazid, mantan kader dari Kampus 3, dan Alvis juga mantan kader CID di Kampus 6. Jika bertemu teman-teman lain dari kampus cabang sekitar Jawa itu sudah biasa, karena saat di Kampus 3 banyak juga santri pindahan dari kampus-kampus cabang lainnya. Namun untuk kelas enam ini spesial karena ada teman dari kampus luar Jawa, seperti Wildan Ainun Mardianto dari Lampung. Meskipun wajahnya tidak terlihat sama sekali berasal dari Lampung, apalagi memiliki nenek yang menetap di Jawa, tetap saja dia besar di Kampus 9, Lampung. Lailatul Qadri, biasa dipanggil Qadri memiliki sifat yang pendiam dan tak banyak menanggapi hal-hal yang baru. Dan dia juga berasal dari kampus luar Jawa, Kampus 10, Jambi.

Di antara teman-teman dari kampus cabang, ada seorang yang paling heboh, dan suka sekali membuat percikan tawa dengan kelakuannya yang lugu dan tidak tahu malu. ‘Bunyan’ anak berbadan kurus, tinggi semampai dengan senyum lebarnya dengan dihiasi giginya yang rapih berbaris bak susunan sate. Dia heboh sekali, menghibur kami semua. Tahun kemarin dia menjabat sebagai Bagian Bahasa sama seperti Umam teman sekampusnya dulu dan sekarang menetap di tempat yang sama. Umam awalnya memiliki sifat yang malu-malu dan  jual mahal pada kami, tapi Revo si anak musikus ini sering kali menggodanya agar berbaur dengan teman-teman. Tak kalah dengan Bunyan, ada juga Trirama. Dia senang sekali dipanggil ‘TRY!’, bahkan ia menulis nama di name tag-nya seperti itu.

Kupandangi setiap wajah tawa mereka, aku merasa kecil di antara mereka yang mempunyai potensi yang besar. Apalah aku yang hanya seorang yang memiliki kemampuan bahasa yang biasa-biasa aja, tidak pandai juga mengoperasikan sound system, hanya dulu ketika kelas 3 intensif  pernah menjadi asisten bagian CID. Selama menjadi asisten, aku membantu hal-hal mendasar seperti, menggulung kabel, mengangkat sound aktif ke atas pundak dan memasangnya. Sedangkan mereka banyak yang telah berkecimpung ketika menjadi pengurus kelas 5, kader, ataupun PBR (Panitia Bulan Ramadhan) pasti lebih mengetahui banyak hal. Bagaimanapun juga Allah mempunyai takdir dan cerita yang terbaik, aku tak mau berkecil hati. Jika saat PBS ini adalah masa terakhirku menjadi CID, maka akan kugunakan sebaik mungkin kesempatan tersebut.

Sofa pink yang lusuh dengan sobekan-sobekan di alasnya, sampai-sampai beberapa bagian kursinya sudah ada yang bolong membuat siapapun yang duduk akan terperosok kedalamnya. Namun, tempat itu menjadi tempat favorit teman-teman CID bercengkerama di depan kamar, memandangi manusia-manusia lalu lalang di lorong Gedung Indonesia. Jika kami masuk kamar, kami dapat melihat suasana lapangan hijau membentang langsung dari jendela belakang ruangan. Cukup sepuluh langkah saja dari kamar sudah bisa sampai ke Walapa[3], dapur umum, ataupun kamar mandi. Bertetangga dengan kantor pembimbing bahasa dan LCD (Language Course Department) menjadi tidak masalah, bahkan terasa dekat dan saling membantu. Sungguh tempat ini amat strategis untuk kemanapun, akan tetapi gampang juga untuk ditangkap oleh ustaz Bagian Pengasuhan jika berbuat ulah. Dan bukan CID kalau tidak pernah buat ulah, yah ada saja ulahnya.

Tiga tahun silam, ketika aku masih anak baru di pondok, sering sekali saat waktu baca Al-Qur’an sore hari di masjid mendatangi al-Akh Zulhazmi. Dia seorang MC acara besar siswa akhir pada tahun itu. Aku belajar intonasi, nada, dan berbagi pengalaman bersamanya. Saat setelah salat Magrib saat yang paling kutunggu adalah mendengarkan pengurus CID membacakan siaran, dengan syair pembukaannya yang menarik dan kalimat-kalimat penutupnya yang unik. Sampai suatu hari aku dan sahabatku Mulki belajar di aula Kampus Tiga. Kala itu juga dipakai tempatnya sebagai masjid untuk sementara. Aku mendekat ke stand mic tempat biasa Al-akh [4] CID itu siaran, Mulki memandangiku dari jauh.

“KI! Lihat nih tiga tahun lagi, ente nanti lihat ana ngomong di sini.” Aku bergaya sambil memegang mic.

“Hehehehhe, iya Il. Kalau ana jadi bagian laundry aja, biar bisa nyuci gratis tiap hari dan ga dibilang bau lagi sama teman-teman,” ujar anak berwajah India itu dengan alisnya yang tebal.

“Hehehehe, iyalah terserah ente Ki. Makanya Ki kalau ga mau dibilang bau, lemarinnya dirapihin, bajunya dicuci, jangan lupa mandi!”

“HAHHAHAHA, ente juga Il.”

“Hehehehe enak aja, ente!” Aku mendorongnya ke depan.

Sepotong percapakan kami berakhir karena ingin melanjutkan belajar di Hari Musamahah[5]. Terdengar sepele kala itu, tapi tak mudah terlupakan. Impianku tak berhenti hanya disitu. Saat kelas lima semester akhir, setiap setelah salat apapun aku sempatkan untuk membaca satu doa yang sama terus-menerus. “Ya Allah jadikan tahun ini, tahun terakhirku jadi santri di Kampus 3, jadikanlah tahun depan aku di Kampus Pusat, jadikan aku Bagian Penerangan, Ya Allah”. Aku juga menempelkan seuntai stiker di depan lemari kayu coklat mudaku, bertuliskan, 2016 terakhir di Kampus 3, 2017 di Kampus Pusat, 2017 CID Kampus Pusat.

Kamar CID termasuk tempat yang paling sering dilewati setiap insan di pondok, termasuk aku. Tapi aku tidak hanya melewatinya begitu saja kala itu, setiap aku masuk, keluar dan melihat kamar Bagian Penerangan itu. Aku bacakan selalu Al-Fatihah dan berdoa agar bisa tetap di kamar tersebut kepada Allah, mungkin jika dipikirkan oleh logika masih banyak yang lebih pantas dariku untuk jadi CID. Namun Allah punya kehendak lain dan aku sandarkan semuanya pada-Nya.       

26 Juni tepatnya Hari selasa adalah hari ulang tahunku, dan untuk pertama kalinya aku mengajak semua teman-teman makan bersama di dalam gudang CID. Sepengetahuanku acara makan-makan bersama adalah cara paling mudah untuk menyatukan orang-orang dan menumbuhkan rasa kekeluargaan. Awalnya ragu untuk tajamu[6] di gudang, karena takut ketahuan oleh ustaz Pengasuhan Santri. Anam sebagai ketua menyakinkanku bahwasanya tidak akan ketahuan dan di gudang sangat aman. Ayam kecap dan minuman sirup Marjan menemani suasana tasyakuran ulang tahunku kala itu, canda dan tawa pun tak lepas mewarnai suasana. Aku bersyukur dan mungkin ini awal kebersamaan CID kami saat kelas 6.

Tidaklah buruk tahun ini tidak bisa balik kampung ke rumah, karena harus menetap di pondok sebagai siswa akhir. Dan juga di pondok seluas ini kami bebas memakai lapangan apa saja, tidak perlu mengantri dengan banyak santri. Apalagi menu makan sahur yang enak seperti, ikan, sate, soto, telur, dan ayam. Begitu pula di kamar kami CID, terasa sangat nyaman mengisi waktu kosong dengan santai membaca buku ataupun bercengkrama di malam yang hangat. Tapi ada ruangan yang tidak boleh dimasuki terlebih dahulu oleh para anggota CID yang baru atau bisa dibilang selain pengurus CID saat kelas 5.

“Oh ya, antum boleh ke ruang tamu dan gudang CID, tapi untuk sekarang jangan ada dulu yang masuk ke sini.” Anam menunjuk satu lorong di pojok ruang tamu kami saat kumpul malam waktu itu.

“ Selain munadzomah faslu khomis [7] yang dulu jangan dulu masuk hall CID[8] sama studio. Tapi buat antum yang mau mengumumkan sesuatu, mic­-nya ana taruh di ruang tamu dekat jam gadang. Nanti biasanya ustaz riayyah[9] atau musyrif[10] kelas 6 minta tolong umumin untuk kumpul, nah nanti kalimatnya gimana sudah ada kertasnya juga ataupun antum bisa tanya-tanya sama teman-teman yang sudah lama kayak Zain, Aidil, atau Nafi.”

“Oke, Nam,” jawab Prass.

“Ya sudah kalau begitu setelah ini antum mau ke mana saja silakan. Dan yang belum masukkin barangnya segera dibawa kesini ya.”

Toyyib-toyyib. Salah satu dari kami menjawabnya.

Peringatan dari Anam menutup pertemuan kami malam itu. Sederhana tapi membuatku termotivasi untuk terus berjuang bisa bertahan di situ sebagai anggota resmi. Dan hari-hari kami terasa lebih berwarna dan menyenangkan di kamar, gudang, ataupun di tempat lainnya. Meskipun kami belum diperbolehkan untuk masuk studio dan hall CID, beruntungnya kami sudah boleh masuk Blue House[11].

Tempat khusus untuk teman-teman qari yang membacakan A-Qur’an setiap hari dan mengumandangkan azan. Ruangan berbentuk kubus besar dilapisi banner hijau dengan dua pintu dari arah yang berbeda. Pintu pertama mengarah masuk ke tempat qari duduk dan mengaji, sedangkan pintu kedua ke tempat lemari mixer pengatur volume segala suara yang ada di masjid dan di bawahnya ada tiga power amplifier[12] besar. Tak hanya suara yang ada di masjid saja, itu juga mengontrol aktifnya pengeras suara yang ada di menara pondok. Tempat Blue House ada satu AC fungsinya agar power amplifier­-nya terjaga suhunya dan tidak kepanasan. Namun sering juga kami sekadar masuk untuk mendinginkan badan sesaat dan terkadang tertidur di dalam. Cukup sederhana tapi terasa sekali nikmatnya yang belum tentu kelas 6 yang lain bisa merasakannya.

Hal-hal kecil mengisi awal langkahku di CID. Namun banyak misteri yang masih tersimpan disini. Apalagi tahun ini adalah masa terpadat di pondok dari dekade sebelumnya. Acara-acara besar akan bertebaran di seluruh tempat. Entah apa yang akan terjadi nantinya, jiwa juangku akan selalu siap menyala menghadapinya.


[1] Kelas percepatan bagi santri lulusan SMP atau di atasnya.

[2] Pengurus bahasa.

[3] Nama salah satu unit usaha santri.

[4] Kakak.

[5] Hari libur khusus untuk belajar di tengah hari-hari ujian.

[6] Makan-makan bareng.

[7] Pengurus kelas 5.

[8] Aula CID.

[9] Pengasuhan.

[10] Pembimbing.

[11]  Tempat baca Al-Qur’an para qari dan alat-alat CID di masjid.

[12] Penguat akhir sistem tata suara yang bermanfaat sebagai penguat sinyal audio yang pada dasarnya adalah penguat tegangan dan arus dari sinyal audio yang bertujuan guna menggerakkan pengeras suara.

Tidak ada komentar