Terhangat

Dulu Pernah Ada

Photo by Philippe Mignot on Unsplash

Oleh Ihsan Khairan

Musim dingin sudah tiba, suhu malam ini sudah hampir membuatku menggigil dan ditambah pula bibir yang sudah hampir pecah-pecah, bisa kupastikan besok pagi bibir ini akan berdarah bila tak ada Vaseline seperti malam malam sebelumnya.

Mataku masih enggan menutup, padahal aku sudah ingin berlayar di negeri mimpiku. Namun ada hal yang berbeda malam ini, entah kenapa aku memutuskan untuk mulai lagi menulis, memindahkan arena bermain jemariku ke atas keyboard Tab kesayanganku. Dan mulai merangkai kata demi kata kedalam sepotong kisah, yang mana aku lebih sering merangkai kata- kata itu langsung di history Instagramku, sebut saja namanya secercah kata. Tapi kali ini sungguh berbeda, ada hasrat yang harus aku curahkan lewat tulisan ini.

Ini bukanlah kisah Tony Stark saat pertama kali ia menjadi ironman, bukan juga kisah Steve Roger ketika terbangun dari hibernasi puluhan tahun dalam bongkahan es. Tapi ini hanya sebuah curahan hati, seorang pemuda biasa yang terpincut oleh kecantikan hati seorang gadis, hanya saja, kisah ini memiliki ending yang kurang baik. Seorang pemuda biasa yang masih dalam pencarian, dan tanpa lelah untuk terus mencari jawabannya meski terkadang di tengah jalan ia berputus asa untuk mencari jawaban yang pasti.

Merasakan bahagia, serta terharu yang dirasakan oleh diri ini, ibarat sedang berjumpa bulan yang turun pada malam hari, Ini dimulai sekitar 4 tahun yang lalu. Ketika itu di hari jumat yang penuh berkah, hari di mana aku merasakan hari spesial di kala itu, di mana aku menemukan keluarga baru di pondok tahfiz, dan aku merasa bahagia bisa diterima dan ikut bergabung dengan mereka, aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena telah menakdirkan kami bertemu untuk berlomba-lomba dalam menghafal. Awal keakraban itu, di mulai ketika kami sedang bermain sepak bola namun, ya, lagi- lagi aku hampir mengacaukannya, hanya karena sebuah kesalahan teknis sepele, namun, pada akhirnya semua berjalan dengan lancar. Dua jam permainan, rasanya seperti melakoni sebuah laga Final UEFA Champions League,  hanya saja dalam skala lebih kecil, dan sarat akan makna persaudaraan dan juga kekeluargaan. Di akhir tim kami keluar sebagai pemenang, namun bukan itu yang membuat hari ini spesial, melainkan cinta lah yang membuat  hari ini spesial. Mengapa?. Karena cinta menjadikan permainan kami menjadi fair, dan tak ada rasa dendam setelahnya. Hari-hariku terus berjalan di pondok tahfiz aku tinggal bersama mereka dan keakraban kami mulai melekat. Aku sempat mendengar kabar simpang siur, tentang seorang gadis yang cantik hatinya, dan hafalannya, namun aku tak terlalu kepo siapa gadis tersebut, apa lagi untuk mencari tahu tentang sosok gadis yang diceritakan oleh anak-anak kamar. Azan Dhuhur sudah berkumandang kami pun segara bergegas untuk pergi ke mesjid, dan harus dalam keadaan siap untuk menyetorkan hafalan, setelah aku menyelesaikan setoran Al-Quran, aku meminta izin untuk pergi ke luar pondok dengan membawa sepada motor, saat aku mengambil sepeda motor di parkiran, tepatnya di belakang bagian pintu masuk wanita, terlintas dan tak sengaja aku melihat sosok seorang gadis nan cantik bak mutiara yang sedang memancarkan sinarnya. Aku memandangnya di balik jendela kaca saat itu, aku melihat mulutnya sedang berkomat kamit sambil menghadap kaca, mungkin saja ia sedang mengulangi hafalannya, saatku memandang wajahnya yang begitu anggun, dan sungguh tak di sangka ia pun memandangiku, sambil memberikan isyarat berupa anggukan kepala. Sungguh aku terpesona, dalam bayanganku, aku sedang mimpi apa hari ini. Dan aku pun bergegas cepat untuk meninggalkannya.

Hari-hariku terus berjalan dengan rasa penasaran, siapa sosok seorang gadis yang aku lihat. Aku ingin mencari tahu tentangnya namun tidak bisa dikarenakan handphone kami disita, dan itu hanya boleh dipakai di hari Minggu, aku tak sabar menunggu hari itu. Hari yang dinanti-nanti pun tiba, aku pun meminta handphoneku kepada pengawas, spontan beliau mengatakan gunakan dengan baik jangan sampai melalaikan kamu, dan aku menjawab, iya pak, ini saya mau buka YouTube mau dengerin murotal Syeikh Mishary Rasyid, mau tiru iramanya beliau sekalian refreshing, Pak. (Padahal niatku ada yang lain,untuk mencari tau siapa gadis yang selalu terbayang- bayang dalam fikiranku, aku mencarinya melalui media sosial yaitu facebook). Aku mencarinya dan terus mencari, dan akhirnya aku menemukannya, karena ada beberapa foto yang ada dia di dalamnya sehingga aku menemukan akun facebooknya, sebut saja namanya Nadira, dan ketika itu, aku langsung memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepadanya, karena aku tak mempunyai waktu lagi untuk menunggu. Dalam percakapan singkat itu aku mengatakan “Assalamualaikum, Ukhty, maaf saya mengganggu, ingin menanyakan kalau enggak salah kita pernah berjumpa, tapi dimana ya ”  (dengan kepura-puraanku tidak mengetahui). Setelah dua jam menunggu, akhirnya pesanku di balas juga, ia mengatakan “Waalaikumsalam, ya benar, kamu yang dulu memperhatikan saya di belakang mesjid. Ada apa, Akh? Ada yang bisa di bantu? Kamu anak barukan ya di pondok tahfidz?" Ku menjawab “Alhamdulillah, Masyaallah sudah mau menjawab pesan saya terimakasih, Ukhty, tidak ada apa-apa saya hanya ingin sapa saja,  saya takjub melihat kecantikanmu, penghafal quran lagi." Spontan nya aku menjawab yang mungkin sebenarnya tak layak untuk dikatakan, “ Iya, saya anak baru di pondok tahfiz, baru satu bulan disini." Saat itu kami sama-sama online. Dan ia pun menjawab dengan biasa- biasa saja, "Masyaallah, semoga hati ini juga ikut cantik, amiin, saya juga kagum melihat kamu apa lagi saat kamu menjadi imam sholat tahajjud untuk kami, suara kamu Masyaallah.” Ya memang di pondok tahfiz tersebut setiap hari jum'atnya kami mengadakan sholat tahajjud bersama dan ini juga diperuntukkan untuk warga disana, karena sangat dikenal kampung itu adalah, kampung Al-Qur'an. Ternyata ia juga sudah mengetahuiku sebelumnya dan mengagumiku. Dan kami hampir setiap minggunya mengirim pesan satu sama lain, dan dari sanalah timbul rasa cinta dan keakraban kami.

Saat teman-teman kamar menceritakan kembali tentang sosok gadis yang  mereka kagumi itu,  aku pun mendekati mereka dan menanyakan siapa nama gadis tersebut, dan salah satu dari mereka pun spontan mengatakan Nadira. Seketika itu, aku pun kaget bukan main ternyata sosok gadis yang diceritakan itu adalah wanita yang saat ini dekat bersamaku. Aku berfikir bahwasanya ia mungkin adalah jawaban dari doa doa yang ku pinta, tak pernah kuduga bahwasanya aku bisa dipertemukan dengan gadis yang digemari oleh banyak orang.

Waktu berjalan dengan cepat, dan liburan pun tiba, aku menghabiskan liburanku bersama keluarga ke suatu tempat, yang mana tempat itu adalah tempat kelahiran ayahku di kota Medan. Seminggu sebelum aku berlibur, aku telah menyelesaikan ujian tes kuliah ke Timur Tengah tepat nya di UIN Suska Riau, Pekanbaru, dengan enteng dan percaya diri aku mengikuti ujian, meski persiapan belum terlalu matang, tapi aku meyakinkan diri untuk bisa mengikuti ujian, walaupun yang harus aku hadapi hampir seribu orang yang mengikuti ujian ke Timur Tengah.

Hari ujian ku lalui dengan harap-harap cemas, bahkan lebih kepada cemas dalam hatiku berdoa agar hasil ujianku tidak buruk dan sesuai dengan harapanku, yang penting aku sudah berusaha lebihnya aku serahkan semuanya kepada tuhan. Malam harinya kulalui dengan hobiku, yaitu gym, di suatu tempat langgananku, ini hanya sebagai kedok untuk menutupi kecemasanku setalah melalui ujian yang mana ujian tersebut menentukan nasib baikku di masa yang akan datang.

Hari-hari berlalu, hasil ujian pun akhirnya keluar juga, itupun informasinya aku dapatkan dari adek kelasku sekaligus teman dekatku, sebut saja namanya Bejo, ia menelfonku secara tiba-tiba untuk menyampaikan berita yang aku nanti-nantikan, dalam percakapan itu ia mengatakan,  “Abang, Abang," dengan suara yang tergesa gesa, tanpa pakai salam, ia melanjutkan ceritanya,  "Abang, Abang. Abang lulus ke Timur Tengah." Ketika itu aku spontan kaget dan tak terlalu percaya karena ia adalah adik kelasku yang sering kali bercanda denganku. Lalu aku menjawab dengan enteng, "Oohhhhh.." Dengan spontannya aku mematikan handphone, karna posisinya di saat itu sedang di jalan.

Ketika aku sampai ke tempat tujuan, hatiku tak sabaran lagi untuk memastikan apakah aku benaran lulus atau ia hanya sekadar menggurauiku. Aku bergegas untuk mencari kepastian, dan hasilnya, Alhamdulillah tidak buruk, namun itu adalah salah satu nilai paling menegangkan dalam hidupku. Hati tak karu-karuan, mataku menatap nanar kearah layar Handphone, menatap hasil nilai ujian satu-persatu, aku menatapnya dari urutan terakhir langsung, sebab aku tak sabaran lagi, karna aku yakin nama aku tak akan jauh-jauh dari nomor terakhir, dari hampir seribuan orang yang mengikuti tes seluruh indonesia hanya diambil dua puluh orang untuk bisa mendapatkan beasiswa ke Timur Tengah, dengan cemas aku menatap hasilnya, mulai aku melihat dari nomor dua puluh, sembilan belas hingga ke nomor urutan lima, aku pesimis nama aku tidak ada dan kembali merasakan kesal karna kali ini, aku dicandai lagi oleh si Bejo, karena tidak menemukan namaku di pengumuman itu, tiba tiba handphoneku berdering, dan lagi lagi si Bejo menelfonku, "Assalamualaikum, Bang," kali ini ia memakai salam kepadaku,  "Bang, traktirannya mana nih? Ciee lulus. Selamat ya, Bang." Aku hanya ketawa dan mengacuhkannya, sembari sambil melihat nama-nama yang lulus secara keseluruhannya.

Dan kaget bukan main. Namaku ada di peringkat teratas dengan nilai terbaik. Bahagia, senang, serta haru yang dirasakan pada saat itu, lantas memang benar kata orang dalam games itu yang paling sulit untuk dikalahkan adalah raja terakhir, dan aku akhirnya bisa mengalahkan raja terakhir itu. dalam artian bisa mengalahkan rasa takut, cemas, dan ketidak percayaan terhadap diri sendiri.

Hari-hariku selanjutnya kujalani seperti biasa sembari menunggu waktu keberangkatan untuk melanjuti kuliah ke Timur Tengah, dan akupun memberitahukan perihal kelulusanku kepada Nadira, ia pun memberikan selamat atas keberhasilan yang aku raih, namun ia juga mengungkapkan rasa sedih dan takut akan harus berpisah denganku, aku meyakinkan kepadanya untuk menjalankan hubungan kami dengan serius, aku meminta izin kepadanya untuk bisa bertemu dengan kedua orangtuanya, dan permintaanku pun dikabulkan. Dua hari sebelum berangkat aku pergi mendatangi ke rumahnya, bersama abang saudaraku, aku disambut baik dengan kedua orangtuanya dan akupun menyampaikan niat baikku kepada keduanya serta meminta restu dan doa agar dipermudahkan keberangkatanku ke Timur Tengah. Dan mereka merespon baik semua keinginan aku, dengan syarat minimal sudah dua tahun di Timur Tengah agar bisa memantaskan diri lebih matang, ujar ayahnya, aku pun menyanggupinya. Sungguh senang hati ini, satu persatu cita-citaku telah tercapai, sungguh Tuhan begitu baik. Setibanya, aku sampai di tempat tujuan ke Timur Tengah, aku langsung mengabari orang tuaku serta tak lupa juga mengabari ke Nadira, setiap hariku selalu memberikan kabar dan ia pun juga demikian, aku dengannya selalu memberikan kabar hingga di titik ujungnya aku merasakan ada sesuatu hal yang berbeda dengan apa yang kami lakukan selama ini, tepat lima bulan aku sudah di negeri orang namun aku berpikir tak semestinya kami selalu berkomunikasi padahal kami belum mempunyai ikatan yang sah, serta juga, aku merasakan bosan dengan sikapnya yang selalu ingin meminta aku untuk selalu mengabarinya. Hati kecilku menolaknya karna banyak ilmu yang kudapat di negeri ini, apa lagi ilmu yang ku pelajari adalah ilmu agama. Namun aku masih saja berkomunikasi dengan wanita, yang mana belum ada ikatan suci di antara kami. Aku memberanikan diri untuk menyampaikan masalah komunikasi kami, yang mana kami mencoba untuk berkomunikasi sekali dalam seminggu, awalnya ia tidak setuju dengan sebuah peraturan yang ku buat karena ia tidak bisa tanpa adanya kabar dariku, namun setelah di jelaskan akhirnya ia mengerti dan menyanggupinya kami hanya boleh berkomunikasi di hari Jum'at karena di hari itu waktu liburku disini, setiap jum'at kami selalu berkomunikasi namun lagi-lagi ada yang berbeda yang aku rasakan terhadapnya, dan ia pun juga menyampaikan sama dari apa yang ku rasakan, ya begitulah sikap orang yang lagi LDR-an,  sifat su'udzon yang selalu dikedepankan. Setelah bulan berlalu, aku kembali menyampaikan bahwasanya komunikasi kita sebaiknya satu kali dalam sebulan, namun setalah ia mendengarkan ini, ia sangat tidak setuju dengan perkataanku, bahkan ia langsung menuduhku dengan ungkapan, "Apakah kamu sudah bosan denganku ya? Apakah kamu sudah menemukan wanita lain yang lebih cantik dari pada aku di sana ya? Aku tahu kok ini alasan klasik kamu membuat peraturan konyol seperti ini," ujarnya kepadaku dengan nada kesal dan marah, dan akhirnya aku kembali menjelaskannya dengan panjang lebar yang pada intinya ku mengatakan,

"Kekasihku..  Jika awan hitam sudah berada di atas kepala , jangan larang hujan turun ke bumi, jika angin sudah bertiup kencang, jangan larang dedaunan kering berguguran, jika senyumanmu sudah mekar di dalam hatiku, jangan larang aku untuk selalu setia dan merindukanmu. Kekasihku… tidak ada wanita lain yang kucintai selain kamu, aku seperti ini hanya ingin menjagamu dan menjaga hafalanmu, aku tak ingin kita selalu berkomunikasi sehingga Tuhan murka dengan kita, aku ingin hubungan kita diberkahi dan nantinya mendapatkan ridho dari Tuhan. Aku mencintaimu karena Allah, sungguh, aku mencintaimu lillah, karena Allah, dan tak ada wanita yang mampu bisa mengantikan kamu di hatiku, semoga kamu mengerti."

Dan akhirnya ia pun kembali mengerti. Tepat tiga bulan hari, di mana hari kelahiranku, di bulan agustus, ia memberikan kado melalui pesan singkat yang tak pernah bisa ku lupakan hingga saat ini, kado terindah dan untuk terakhirnya, sebuah kata-kata yang mengejutkan, sekaligus menyayat hati, juga membuatku bingung, entah bagaimana aku harus menyikapinya, dan apa yang harus aku lakukan. Aku merasa serba salah saat itu, di satu sisi, hatiku ingin sekali untuk memberontak, ingin rasanya aku marah dan mengamuk sejadi-jadinya. Namun, di sisi lain, hatiku bersepakat dengan akal sehatku, bahwa itu tidak benar, tidak seharusnya seorang pemuda bertindak layaknya hewan buas yang kehilangan kendali, hanya karena cinta. Ingin rasanya aku pulang untuk menemuinya. Dalam pesannya ia mengatakan “Selamat hari ulang tahunmu, semoga Allah selalu menjagamu, di mana kamu berada, maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku, maafkan aku yang tidak bisa menunggu kamu terlalu lama, berat hati ini untuk mengatakannya namun apalah daya aku harus mengatakannya kepada mu. Aku harap kamu bisa nerima ini semua dan tetap kuat. Aku akan dilamar oleh orang lain, dengan orang pilihan orangtuaku,  yang mana ia bisa memberikan semua apa saja yang diminta oleh keluargaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, orang tuaku mendesakku untuk bisa menerima laki-laki tersebut, bahkan menyuruhku untuk melupakanmu, laki laki yang belum jelas masa depannya." Sembari mengirimkan gambar cincin pertunangannya, dengan tegarnya ia mengatakan ”Aku harap kamu bisa lupakan cinta kita, dan diganti dengan persahabatan yang kekal, kamu bisa bahagia tanpa aku, dan aku juga akan bahagia dengan laki-laki pilihan orang tuaku. Aku berharap jangan usik aku lagi, dan mencoba menghubungi keluargaku, dan aku juga yakin pasti kamu di sana sudah mendapatkan wanita lain yang lebih baik dari padaku, sehingga kamu membuat peraturan, yang sebenarnya tidak masuk akal untukku.” Ketika itu aku pun berusaha untuk menjelaskannya, bahkan aku telah melakukan dengan berbagai ribuan cara, namun hasilnya tetap tidak bisa meluluhkan hatinya. Bahkan aku hampir memesan tiket pulang hanya untuk bisa menemuinya.

Hari-hariku berjalan tidak seperti biasanya, hidupku merasa hampa dan berantakan ketika itu, hampir tiga minggu lamanya, aku tergeletak di tempat tidur, menyendiri menahan sakit, aku kembali merusak diriku dengan perbuatan yang mungkin saat itu tidak semestinya aku lakukan, hampir aku mati menanggung cinta.

Hari-hari selanjutnya, aku menceritakan kepada sahabatku, apa yang terjadi sebenarnya dalam diriku, dan ia menasehatiku dengan ungkapan, “Pulanglah, kembali ke jalan yang benar, rukuk dan sujudlah, meminta kepadanya, karena Allah masih sayang kepadamu, Allah masih memiliki rencana lain untukmu, dan Allah masih ingin memberikan pelajaran untukmu, bahwa jangan pernah sekalipun terlalu berharap pada seseorang, sebenarnya saat kamu berharap pada seseorang, Allah itu cemburu, pada-Nyalah kamu seharusnya mengharapkan segala sesuatu. Ingat, masih banyak orang-orang yang sayang kepadamu, jangan sampai kecewakan mereka.” Dan akhirnya aku kembali bangkit, dan berusaha untuk melupakannya dan menata hati, menerima kenyataan yang ada, walau terasa pahit dan perih. Ketika itu adalah pertama kali bagaimana rasanya terluka, tapi tak berdarah, bahkan tak berbekas. Dan itu semua kian menyadarkanku, dari masa lalu yang kelam, untuk bisa menyongsong masa depan yang lebih cerah. Bulan pun kian silih berganti, tepat tiga bulan aku hampir bisa untuk melupakannya, namun betapa kagetnya, bahkan tak pernah terbayangkan dalam pikiran ini, aku kembali mendapat pesan singkat dari Nadira, permataku yang hilang. Dalam isi pesan singkatnya ia mengatakan, “Assalamualaikum, bagaimana kabarnya? Ini Nadira, aku kembali untukmu, maafkan semua kesalahanku, maafkan dengan semua kebodohanku yang telah kulakukan,  ternyata aku dan orang tuaku salah dalam memilih, dia telah menyakitiku, dan membohongiku, saat seminggu sebelum kami tunangan aku mendapatinya sedang berduaan bersama perempuan lain, lama sebenarnya aku ingin meminta maaf dan memberitahumu tentang ini, namun aku tak punya keberanian untuk mengatakannya, biarkan aku hina di hadapanmu, aku memohon kepadamu izinkan aku untuk memperbaiki hubungan kita, aku ingin kita kembali lagi seperti dahulu, aku merindukanmu, aku sangat mencintaimu, maafkan aku.”

Dengan tegarnya hatiku mengatakan, dan ini adalah pesan terakhirku untuknya, karena setelah pesan ini, aku mblokirnya, agar aku tak lebih dalam lagi merasakan sakit yang kedua kalinya.

Isi pesan terakhirku untuknya, "Tidak perlu meminta maaf, semua sudah terjadi. Bukan aku yang meminta seperti ini, melainkan ini permintaanmu. Kamu ketahui, saat ini aku sedang berdiri di penghujung bulan desember, kuperhatikan tentang diriku ini ternyata banyak sudah yang telah aku lewati tanpa hadirnya dirimu. Mungkin iya, mungkin ini sudah masanya, pada akhirnya aku memilih untuk tetap melangkah dan melanjutkan perjalananku meski tanpamu. Aku akan memulai kembali perjalanan, dan membiarkan diri ini dibahagiakan dengan bagaimana cara Allah membahagiakanku. Dan kamu harus juga tetap melangkah dan membiarkan dirimu dibayangkan dengan bagaimana cara Allah membahagiakanmu. Sudah waktunya untukku memperbaiki hubungan dengan Tuhanku, maka semoga saja do'aku akan diperkenankan. Biarlah diri ini senyap, tanpa bersuara, karena aku akan membiarkan do'a yang berperan untuk berbicara, jika esok bertemu lagi di persimpangan jalan, maka itu adalah hadiah pertemuan yang Tuhan indahkan. Namun jika ternyata jalan masing-masing yang kita tempuh tak sejalan,mungkin Tuhan mengajarkan kita tentang arti keikhlasan yang sebenarnya. Ikhlas atas segala-galanya, karena rencana Tuhan lebih indah dari pada rencana yang kita tempuh, jika tak di dunia ini mungkin di surga-Nya kelak nanti, maafkan aku, aku tidak bisa melanjutkannya lagi. Tetap jadikan doa dan kesabaran sebagai penolongnya.”

Tamat.

Tidak ada komentar