Terhangat

Telur dan PS5


Oleh M. Ismail

“AZMI! Tahu gak kemarin Ayah membelikanku PS5 yang warna putih besar itu loh. Sumpah, itu pemain bolanya kelihatan asli banget,” ujar Umar di sampingnya dengan memeluk erat pundak Azmi dengan tanganya, sembari tersenyum puas. “Wah gila keren banget! Aku saja masih main dengan PS3 di rumah, Mar, itu pun sudah mulai rusak akhir-akhir ini. Aku mau minta beli yang baru ke Bunda tapi takut,” keluh anak kelas 5 SD berambut ikal panjang yang berjatuhan menutupi jidatnya. “Coba dulu aja Azmi, kamu kan kemarin dapat urutan nilai paling tinggi saat pembagian raport. Bahkan Rika yang selama ini mendapatkan posisi pertama di kelas berhasil kamu kalahkan saat semester pertama kemarin,” lelaki bergigi kelinci bermata sipit ini mencoba meyakinkan Azmi. “Oh iya, Mar, benar juga kata kamu. Aku coba deh nanti di rumah.” Mereka pun berjalan pulang menuju rumahnya masing-masing di hari terakhir mereka belajar di kelas. Karena besok sudah mulai belajar online dari rumah akibat pandemi.

“Bunda… oh Bunda yang baik hati,” Azmi memijat-mijat pelan kaki bundanya yang sedang menonton drama Korea kesukaanya malam itu. “Apalagi Azmi, pasti ada maunya, ya kan?” Ia menjawabnya sambil menaruh toples cemilannya ke atas meja dan mulai menatap anaknya. “Bunda, Azmi kan kemarin dapat rangking satu di kelas. Boleh gak Azmi minta PS5, abisnya PS3 punya Azmi kan sudah rusak,” anak semata wayang orang tuanya ini mencoba merayu. “GAK BOLEH,” jawab singkat ibunya dengan nada yang datar. “Yaah Bunda kok ga boleh sih? Kan nanti mainnya sama Papah juga,” Azmi mulai memelas. “Tetep enggak boleh pokoknya,” sambil cemberut dia menolaknya. Papahnya yang mendengar di sebelahnya menaruh secangkir kopi dan  menyela, ”Ya Allah Bunda gapapalah, lagi pula anak ini udah berprestasi di kelas, sama kita taat, dan lagi suka ikut Papah pergi ke masjid setiap salat.” Bundanya pun berdiri kesal seraya mengatakan,” Papah bukannya gitu, tapi setiap kali Azmi dibelikan mainan pasti cepat sekali rusak. Walaupun uang bulanan Papah untuk Bunda masih sangat cukup untuk membeli PS5 tersebut, tapi Bunda takut kalau dibelikan mainan lagi Azmi tidak bisa menjaganya.” Papahnya pun mengangguk, “Yaudah kalau gitu terserah Bunda aja, Papah ga mau ikut-ikutan deh.” Azmi terkejut melihatnya sambil memukul-mukul sofa, ”YAH Papah kok gitu.. Haduh.”

Anak berkulit kuning langsat bermata bulat seperti bola pingpong ini memeluk tangan ibunya sambil merayu kembali, “Bundaa.. Ayoo dong kali ini aja, Azmi janji deh akan merawat PS5nya baik-baik nanti.” Ayahnya merasa tak mau ikut campur urusan istri dan anaknya dan ia pun memilih pergi ke kamarnya, “Oh ya, tunggu dulu ya coba Bunda pikir-pikir dulu,” jawab ibunya sambil mengelus rambut anak kesayanganya. Anak mungil ini pasrah di pangkuan paha bundanya sambil menonton TV yang masih menyala. “Gini aja deh Azmi, Bunda punya tantangan untuk kamu. Besok Bunda berikan kamu sebutir telur dengan tanda tangan Bunda. Telur ini jika bisa kamu jaga selama satu minggu dan setiap kali Bunda melihat kamu maka Bunda juga harus melihat telur yang Bunda berikan. Jika kamu berhasil melakukanya, maka Bunda janji akan belikan PS5,” tegas ibunya. “Yah telur saja, Bun, mudah sekali kelihatanya,” ucap bocah cilik itu. “Heh, yakin sekali kamu ini, Nak. Hehehehe. Ya sudah ayo tidur sudah malam,” Ibu itu membangunkan anaknya dari sofa dan menggiringnya ke kamar.

Azmi terkejut saat terbangun melihat ada tiga keranjang telur di kamarnya, “Bunda ini telurnya kok banyak sekali? Katanya kemarin malam hanya sebutir?” Bundanya pun segera masuk ke dalam kamarnya, “Enggak apa-apa, Azmi, Bunda hanya tidak mau harus pergi terus-menerus ke toko sebelah untuk membelikan telur untuk kamu jika ada yang pecah nanti.” Azmi yang merasa diremehkan oleh Bundanya pun kesal dengan percaya diri ia meminta telur pertamanya, “Ya sudah Bunda, Azmi minta telur pertamanya. Cukup satu telur saja tidak akan pecah.” Bundanya pun tersenyum tipis mendengarnya dan memberikanya satu buah telur dengan tanda tangannya. Baru saja diterima olehnya, seketika itu pula dia menaruh telurnya di loker bukunya dan mengambil sarung untuk menunaikan salat Subuh. Tanpa ia sadari telurnya bergetar lalu menggelinding keluar dan pecah jatuh di atas lantai. Bundanya yang melihatnya pun tertawa, “Hehehe yakin nih Azmi cuman satu telur?” Azmi dengan wajah temboknya menahan malu, membersihkan jatuhan telurnya dengan tisu, dan meminta lagi yang baru dari bundanya.

Satu keranjang telur sudah habis dipecahkan oleh anak itu, padahal mentari belum sempat menutup hari. Sesekali ia ceroboh menaruhnya di tempat yang membuat telurnya bergerak dan pecah, tersenggol saat di meja makan dan terjatuh, tak sengaja terlepas dari tanganya karena dikejutkan oleh papahnya, dan bahkan tak sengaja pecah tertimpa oleh badannya saat tidur siang. Setelah shalat maghrib bocah setinggi 102 cm ini pun merenungkan bagaimana cara yang sederhana untuk menyelesaikan tantangan dari Ibunya ini. Ide bodohnya pun muncul, dia akan menaruh telur yang bertanda tangan ibunya ini di kamar. Setiap kali ibunya menanyakan telurnya maka dia hanya perlu mengambilnya dari kamar lalu menunjukannya. Besoknya ia mencoba menggunakan caranya, namun sayangnya saat bertemu dengan ibunya langsung ditolak dan menyampaikan bahwasanya telurnya harus dibawa olehnya ke mana-mana.

Tiga hari berlalu, dan Azmi berhasil bertahan dengan satu keranjang telur terakhirnya. Kata ibunya jika tiga keranjang telur itu sudah habis dan belum berhasil melakukannya. Maka tidak ada tambahan lagi,  dan mimpinya meraih PS5 akan sirna. Gemerlap bintang-bintang dan redupnya sinar rembulan menenangkan hati Azmi yang meletup-letup kesal. Di tengah lamunannya ia teringat, dahulu dia sering sekali merusak mainan-mainan robotnya lalu meninggalkanya begitu saja, tak sengaja menginjak PS1 dan PS2-nya karena membiarkannya di atas lantai, dan dia tidak pernah berpikir bahwa harus menjaga segala mainannya dengan baik. Karena ia yakin ayahnya yang seorang arsitektur itu dapat selalu membelikan sesatu yang baru untuknya. Tapi dalam renungannya mengintip langit dari jendela kamar, ia sadar bahwasanya yang ia lakukan selama ini salah. Karena jika sifat menyepelekan barang itu terus bersemayam dalam tubuhnya, maka ia tidak akan bisa mengatasi hal yang besar karena tidak bisa memerhatikan hal yang kecil.  Dia pun mendapatkan cara baru mengatasi masalahnya, karena telur yang ia pegang ini sering sekali lepas dari genggamannya. Maka ia membawanya ke mana-mana menggunakan kantong plastik agar lebih aman.

Hampir sebulan setelah Azmi mendapatkan tantangan dari ibunya. Cara barunya ternyata tidak berjalan dengan efektif, karena setiap kali ia menaruhnya di dekat tempat wudu ataupun menggantungkannya di keran sering kali tidak sengaja tersenggol dan terjatuh ke lantai. Kini hanya tersisa sepuluh butir telur di kamarnya, ia pun menghampiri ayahnya di teras untuk sekadar meminta saran.

Ayahnya yang meminum kopi hitam, dengan mengenakan sarung dan kaos oblong di teras rumahnya adalah seorang kolektor barang antik. Azmi yang duduk menemani ayahnya di sampingnya pun bertanya, “Papah, bagaimana ya caranya biar Azmi membawa telur ini kemana-mana tapi ga pecah? Sudah berulang kali Azmi menggunakan berbagai cara tapi tetap saja pecah dan sekarang tersisa sedikit lagi.” Ayahnya pun menaruh koran yang ia baca ke atas meja dan menjawab pertanyaanya,” Kalau Papah biasanya ya, Barang antik yang Papah miliki itu Papah beri wadah untuk membawanya agar aman dan tidak pecah. Kamu sudah pernah coba diberi wadah telur kamu itu?" “Sudah, Pa, kemarin Azmi bawa dengan kantong plastik. Tapi tetap saja jatuh dan pecah,” dengan polos bocah itu mengatakannya. “Yaah, nih anak pakainya kantong plastik wajar saja kalau jatuh. Azmi pakai wadah yang buat telur itu ga bisa menggelinding ke mana-kemana,” pria berkepala tiga itu menegaskannya. Anaknya pun mengambil gorengan tempe dari meja dan berpikir sambil memandangi tanaman-tanaman rumahnya. “Oh ya, Pa, Azmi ada ide, makasih ya, Pah, sarannya.” Ayahnya pun mengangguk lalu mengambil kembali korannya. 

“BUUUNDAAA! Nih lihat Azmi pakai kotak kecil buat telurnya gapapa kan?” berlari anak itu menghampiri ibunya yang sedang memasak. “Oh ya gapapa. Tapi yakin gitu doang aman?” lirik ibunya dan menjawab. “Yakin dong, Bun, lihat saja nanti,” tegas Azmi lalu meninggalkan ibunya. 24 jam sudah telur itu aman di dekat putra dari seorang arsitek dan dokter ini, namun keesokan harinya tak sengaja ia menaruhnya di lantai dengan kuat dan ‘KREK’. Telurnya kembali pecah untuk kesekian kalinya. Tak menyerah ia pun tetap mengggunakan beberapa telur terakhirnya dan meminta tanda tangan dari ibunya. Azmi masih yakin dengan cara yang sama dan lebih berhati-hati setiap menaruh telurnya di landasan yang keras. Akan tetapi tetap saja ada kejadian yang membuat telurnya tidak bisa bertahan sampai satu minggu. Satu bulan sudah terlewatkan, dan telurnya kali ini hanya tersisa sebutir.

Anak berumur sepuluh tahun ini kembali berpikir keras menemukan cara terbaik, ia pun berbaring di tempat tidurnya menatap atap kamarnya sambil meremas-remas slime biru mainanya untuk melepas lelah. ‘Gimana ya caranya agar telur ini tidak mudah pecah bawahnya? … Bagaimana kalau aku taruh busa di bawahnya agar tidak mudah menyentuh bawah kotak? Ah tapi sepertinya busa tidak cukup kuat untuk menahannya,’ gumam Azmi dalam otaknya sambil terus memaikan slime di tangannya. Dalam lamunannya yang cukup lama ia pun mendapatkan ide cemerlang, dan langsung mengambil sebutir telur terakhirnya lalu meminta tanda tangan ibunya. Dengan cara barunya ini ia berhasil satu hari, dua hari, empat hari, bahkan sampai hari terakhir ia menjaganya dengan aman.

Ayahnya yang penasaran dengan kemajuan anaknya pun bertanya, “Gimana Azmi udah hampir dua bulan nih, tantangan dari Bunda sudah berhasil belum?” Spontan ia menjawabnya dengan percaya diri, “Besok Pah, hari ini hari terakhir. Yeah!  akhirnya bisa juga, lihat saja Bunda, Azmi bisa buktikan kalau Azmi juga bisa menjaga barang.” “Hebat ya anak Papah nih, gimana cara kamu Azmi, kok bisa?” tanya heran Ayahnya. “Tepat seperti yang Ayah katakan padaku, ‘menaruhnya di tempat yang aman’. Aku taruh di kotak kecil yang dibawa ke mana-mana dengan diberi alas mainan slime ku,” ia menjawabnya sambil menunjukan telur dalam kotaknya. “Wah mantap Azmi!” Ayahnya bangga dengan menunjukkan jempol kanannya.

Akhirnya seminggu sudah berlalu, usaha Azmi kali ini berhasil menjaga telurnya setelah selama dua bulan lamanya ia gagal dan mencoba cara baru. Ibunya bangga padanya dia bisa menyelesaikannya dengan baik dan tidak menyerah sedikit pun, dan dia pun mengabulkan permintaan anaknya untuk membelikanya PS5. Azmi tidak mau telur yang ia simpan membusuk di dalam kotak, maka ia membuat telur mata sapi dari itu. Dan memakannya bersama ayahnya sambil bermain PES menggunakan PS5 barunya. Di tengah-tengah permainan Azmi mengingatkan sesuatu kepada ayahnya, “Papah nanti abis main kita rapihkan lagi ya semuannya hehehe…” Ayahnya pun tertawa lepas mendengarnya, “Hahahahaha, siap Azmi.” Bundanya pun ikut tertawa lepas sambil menaruh gorengan di depan Ayah dan Azmi.

Tidak ada komentar