Terhangat

Mush'ab bin Umair, Perintis Kota Madinah yang Meninggalkan Kemewahan Demi Islam

Oleh Fathir Al Haq

Selama 23 tahun perjalanan dakwah panjang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, periode tiga belas tahun pertama berdakwah di Makkah merupakan masa-masa yang sangat sulit bagi kaum Muslimin. Hal ini disebabkan tekanan yang amat luar biasa yang diberikan oleh kaum kafir Quraisy yang berakibat pada sulitnya kaum Muslimin dalam berkembang, khususnya dalam segi kuantitas.

Namun, semua berubah ketika jalan menuju kota Yatsrib (Madinah) terbuka. Di kota Madinah, perkembangan kaum Muslimin meningkat berkali-kali lipat. Bukan hanya dalam segi kualitas, namun juga dalam segi kuantitas. Tapi apakah teman-teman sudah tahu, siapa sosok di balik terbukanya jalan menuju Kota Nabi ini? Siapakah perintis dari jalan dakwah di kota Yatsrib ini?

Ya, dia adalah Mush’ab bin Umair, Sang Perintis Jalan menuju Madinah Al-Munawwarah. Apakah teman-teman semua sudah mengenalnya? Yuk, langsung kita bahas tentang Mushab bin Umair yang jarang orang-orang ketahui!

  • Dikaruniai Paras yang Rupawan dan Kemewahan Dunia

Sebelum mengikrarkan dirinya sebagai seorang Muslim, Mush’ab bin Umair bagaikan mutiara di antara pemuda-pumuda Quraisy. Ketampanan wajah, keindahan fisik, dan keelokan batinnya tiada tara. Bahkan disebutkan bahwa sahabat yang memiliki ciri-ciri fisik paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah Mush’ab bin Umair.

Sebelum hidayah Islam meresapi jiwanya, Mush’ab dikenal sebagai pemuda Makkah yang hidup bertabur kemewahan. Tidak seorang pun pemuda sebaya yang berpakaian semewah yang dikenakannya, tidak ada juga yang memakai wewangian seharum yang digunakannya. Bahkan orang-orang yang melewati jalan yang belum lama dilewatinya akan mengetahui: “Mush’ab bin Umair baru saja melewati jalan ini,” karena saking semerbaknya wewangian yang digunakannya.

Dua kombinasi ini—keindahan fisik dan hidup dalam kemewahan—merupakan kombinasi yang sempurna untuk menciptakan daya tarik tersendiri bagi Mush’ab bin Umair, sehingga menjadikan beliau salah satu orang terpandang di kalangan kaum Quraisy, bahkan sebelum beliau memeluk kehangatan cahaya Islam.

  • Rela Meninggalkan ‘Segalanya’ demi Mendapatkan 'Segalanya'

Sebelum mencicipi manisnya iman dan Islam, kehidupan Mush’ab bin Umair bisa dikatakan sudah nyaris sempurna. Namun, ketika hidayah Islam menyapa, kehidupannya justru berubah 180 derajat. Keluarganya yang awalnya amat membanggakan dirinya pun malah berbalik memusuhinya. Hidupnya yang semula bergelimang kenikmatan dunia pun lenyap seketika.

Ibunya marah besar ketika keislaman Mush’ab bin Umair. Ia berniat memukulnya, namun mengurungkan niatnya setelah melihat pancaran iman di wajah buah hatinya tersebut. Mush’ab akhirnya dikurung di sudut rumah. Namun hal itu tidak melunturkan keimanannya, ia lebih memilih Allah dan Rasul-Nya daripada keluarga beserta kemewahan hidupnya.

Ali bin Abi Thalib mengutarakan: “Ketika aku berada di masjid, Mush’ab muncul di hadapan kami dengan memakai burdah (Pakaian khas orang arab yang berbentuk seperti mantel atau jubah, tapi tanpa kancing) yang bertambalkan tali dari serabut. Padahal dulu—sebelum memeluk Islam—dialah pemuda yang berpakaian paling mewah dan sosok yang terpandang di Makkah.” (HR. At-Tirmidzi No. 2478, Kitab “Shifatul Qiyamah”; dia berkata: Hadis hasan gharib)

Bahkan, ketika maut yang bertahtakan kesyahidan menjemputnya di perang uhud, beliau tidak memiliki kain yang cukup untuk sekadar menutupi tubuhnya. (Akan dibahas lebih lanjut di poin ke-5.)

  • Sang Perintis Negeri Nabi Muhammad Shallahu 'Alaihi wa Sallam

Karena karakternya yang kuat dan keimanannya yang sudah teruji, ditambah akhlak menawan dan kemampuannya dalam membaca dan menerangkan Alquran, pasca baiat Aqabah yang pertama Rasulullah pun mengutus Mushab bin Umair ke Yatsrib (Madinah) untuk menjadi duta Islam pertama yangmengajarkan mereka agama, membacakan kepada mereka Alquran, mendatangi rumah-rumah warga guna mengajak mereka kepada Islam.

Ibnu Syihab menuturkan: “Setelah peristiwa Baiat Aqabah, orang-orang yang membaiat Rasulullah kembali ke Madinah. Mereka kemudian berdakwah secara sembunyi-sembunyi kepada kaum masing-masing, menyeru kepada Islam. Sempat dibacakan beberapa ayat Alquran, namun karena keterbatasan ilmu diutuslah Mu’adz bin Afra dan Rafi bin Malik untuk meminta agar beliau mengutus salah seorang Sahabat yang mumpuni dalam membacakan dan menerangkan kandungan Kitabullah sebagai juru dakwah. Dengan demikian, penerimaan dakwah agama-Nya oleh mereka lebih dapat diharapkan

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun mengutus Mush’ab bin Umair. Sahabat ini terus berdakwah dalam situasi dan kondisi yang aman. Perlahan tapi pasti, Allah memberi petunjuk kepada penduduk Madinah melalui perantaranya. Sampai-sampai, sedikit saja rumah tempat para pembesar mereka berada yang enggan menyambut dakwahnya. Kaum muslimin ketika itu seakan sudah menjadi penduduk kota tersebut yang paling mulia. Dan setelah menjalankan tugasnya, Mushab kembali ke negeri beliau (Makkah), dan semenjak itu dia dijluki al-Muqri (Pembaca al-Qur-an).” (Lihat Shifatush Shafwah (I/161)

  • Mengislamkan Sahabat-sahabat yang Luar Biasa dengan Keindahan Akhlaknya

Kelancaran dakwahnya di Madinah tak lepas dari keindahan akhlak dan juga strateginya dalam menyebarkan cahaya Islam. Di antara penduduk Madinah yang memeluk Islam melalui tangannya adalah dua pemimpin Bani Abdul Asyhal, Usaid bin Khudhair, laki-laki yang para Malaikat turun disebabkan bacaan al-Qur’annya; dan Sa’ad bin Mu’adz, laki-laki yang kematiannya telah mengguncangkan Arsy Ar-Rahman. Lantas, dengan cara apa Sahabat semulia Usaid bin Khudhair dan Sa’ad bin Mu’adz didakwahi sehingga dapat merasakan manisnya Islam?

Saat itu, Usaid bin Khudhair dan Sa’ad bin Mu’adz—meski pada waktu yang berbeda—datang kepada Mushab bin Umair dengan cara yang sama: Membawa sebilah tombak sembari melempar cacian dan sumpah serapah di depan wajah Mushab. Namun, apakah jawaban dari duta pertama Islam tersebut?

Mush’ab bin Umair berkata: “Sudikah engkau duduk dan mendengarkan penjelasan kami; Terimalah jika engkau suka, atau tolaklah jika engkau tidak suka dan kami akan pergi dari sini?” Usaid dan Sa’ad pun sama-sama merasa persyaratan yang dibuat Mushab cukup adil, sehingga mereka berdua akhirnya berdialog dengan Mush’ab bin Umair yang membacakan beberapa ayat al-Qur’an dan menjelaskan tentang agama Islam.

Setelah selesai berdialog, masing-masing mereka pun langsung memeluk Islam. Kemudian, tidak sampai sehari setelah Usaid bin Khudhair dan Sa’ad bin Mu’adz memeluk Islam, seluruh kaumnya dari Bani Abdul Asyhal, baik laki-laki maupun perempuan sudah memeluk agama Islam.

Subhanallah, indah sekali, bukan? Andai saja yang dilakukan oleh Mush’ab bin Umair ketika Usaid bin Khudhair dan Sa’ad bin Mu’adz mendatanginya dengan membawa tombak dan cacian justru malah balik mencaci, alih-alih menanganinya dengan penuh ketenangan dan akhlak mulia, akankah seisi Madinah dapat bersatu sekuat dan sesingkat itu?

  • Syahid yang ‘Istimewa’

Pada Perang Uhud, Sang Perintis Kota Nabi alias Mush’ab bin Umair dipercaya membawa bendera kaum muslimin. Ia dengan teguh mempertahankan bendera itu, sampai akhirnya kaum muslimin mengalami keadaan genting yang membuat mereka terpojok.

Di saat itulah, Ibnu Qum’ah menebas tangan kanannya hingga putus, dan dia berseru: “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul.” (QS. Ali Imran[3]: 144). Sekarang bendera itu digenggam kuat-kuat oleh Mush’ab bin Umair di tangan kirinya. Namun Ibnu Qum’ah kembali menyerang dan menebas tangan kirinya hingga putus.

Kehilangan dua lengan bawah membuat Mush’ab hanya bisa mempertahankan bendera itu dengan lengan atasnya sembari mendekapnya di depan dadanya. Lalu terdengar lagi seruan Mush’ab: “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul.” (QS. Ali Imran[3]: 144). Tanpa ampun, Ibnu Qum’ah kembali menyerangnya untuk yang ketiga kali; kali ini dengan tusukan tombak, hingga orang kafir ini membunuhnya.

Ibnu Sa’ad menukil persaksian Abdullah bin Al-Fadhl: “Setelah Mush’ab terbunuh, terlihat Malaikat yang menjelma dalam bentuk dirinya memegang bendera kaum muslimin. Pada akhir siang, Nabi memerintahkannya: ‘Muh’ab, majulah!’ Malaikat itu pun menoleh dan berkata: ‘Aku bukan Mush’ab.’ Jawabannya menyadarkan beliau akan sosok orang itu, yakni salah satu Malaikat Allah yang ditugaskan untuk membantu kami.” (Lihat Shifatush Shafwah I/162).

Ketika Mush’ab bin Umair terbunuh, Ibnu Qum’ah Al-Laitsi (pembunuh Mush’ab) menyangka dia adalah Rasulullah, karena memang fisik yang bersangkutan memang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sebagaimana disampaikan di poin kesatu.

Ketika tiba saatnya pemakaman, saking sederhana dan zuhudnya Mushab bin Umair, ia tidak memiliki cukup kain untuk sekadar menutupi tubuhnya yang hendak dimakamkan; jika ditutup kepalanya, maka kedua kakinya akan kelihatan, jika kedua kakinya ditutupi, maka kepalanya akan kelihatan. Akhirnya, para sahabat menutup kedua kakinya dengan menggunakan idzkhir (sejenis rumput yang berbau harum).

Itulah keistimewaan Mush’ab bin Umair, Sang Perintis Kota Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang rela meninggalkan ‘segalanya’ demi mendapatkan 'segalanya.' Tidak ada ungkapan yang bisa kita ungkapkan kepada pahlawan sejati kita ini, selain doa yang tulus mengharapkan ridha Allah Ta’ala untuknya dan seluruh Sahabat.

Referensi:

  1. Ensiklopedia Sahabat karya Mahmud Al-Mishri

Tidak ada komentar