Terhangat

Lontong Balap: Cita Rasa Khas Arek Surabaya


 Oleh Faty Fathiya

Indonesia masih kental dengan keanekaragaman budaya dan adat yang menjadi ciri khas daerah-daerah yang tersebar di semua wilayah negara. Mulai dari baju adat, tarian, hingga makanan khas daerah. Sebagai kota metropolitan, meski Surabaya bisa disebut kota yang cukup padat, ia juga memiliki makanan khas yang enak. Jika Madura punya sate, maka Surabaya punya lontong balap. Lontong balap adalah salah satu makanan tradisional dengan bahan dasar lontong yang diberi topping potongan tahu goreng, tauge (kecambah), lentho, kecap, sambal, dan bawang goreng. Lentho ini sejenis perkedel dari kacang, tapi digoreng kering. Sekilas makanan ini mirip kupat tahu, akan tetapi berbeda.

Kenapa dinamakan lontong balap?

Dahulu lontong balap masih dijual dalam kemaron besar, sejenis periuk yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Meski berat, tetap dipikul keliling kota. Untuk berebut pembeli di perjalanan dan pasar, para penjual lontong balap berjalan cepat-cepat menuju pos terakhir di pasar Wonokromo, selain untuk mengurangi beban berat yang dipikul. Dari jalan cepat ini kemudian timbul kesan saling balap antar penjual. Karena kesan “balapan” inilah kemudian makanan tersebut dinamakan lontong balap.

Lontong balap bisa dijumpai di banyak tempat di Surabaya. Karena zaman yang terus berubah, variasi lontong balap juga berkembang di beberapa tempat makan. Ada yang menambahkan bumbu petis, mie kuning, dan beberapa tambahan lainnya. Untuk warung makan lontong balap yang paling direkomendasikan adalah Lontong Balap Pak Gendut. Selain warung lontong balap tersebut sudah lama berdiri dan memiliki cabang yang banyak bersebaran di Surabaya, cita rasa lontong balap milik Pak Gendut memang sudah terjamin. Bahkan pejabat dan artis juga pernah makan di sana.

Meski Surabaya termasuk ibukota, penduduknya cenderung masih menyukai makanan tradisional yang murah dan enak. Untuk lontong balap sendiri bisa didapat dengan harga 14.000 rupiah saja. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, dan lansia pun menyukai makanan tradisional ini karena rasanya yang khas. Lontong balap juga bisa dinikmati kapan saja, pagi hari untuk sarapan, siang terik ketika istirahat sehabis bekerja, sore-sore yang damai, sangat cocok untuk teman jalan-jalan, atau malam ketika kumpul bersama teman dan keluarga.

Karena berisi bahan-bahan yang alami, pembeli tidak perlu khawatir untuk terserang penyakit setelah memakan lontong balap ini. Di sinilah kelebihan makanan tradisional Indonesia, mulai dari bahan hingga ke bumbu-bumbu, semuanya asli diambil dari alam. Proses membuatnya juga manual dengan tangan yang berkemampuan sehingga menciptakan cita rasa yang pekat dan lekat yang khas di hati, membuat peminatnya menjadi cinta. Kalau berkesempatan ke Surabaya, kurang rasanya jika belum mencoba lontong balap ini. Benar-benar rugi!

♥ ♥ ♥

Tidak ada komentar