Terhangat

Indahnya Belajar di Sudan


Oleh
Muhammad Ismail*

Jauh di benua Afrika tempat mengalirnya 2 sungai Nil di dalamnya dan berkembangnya keilmuan islam, yaitu negara Sudan. Ratusan bahkan ribuan mahasiwa dari segala pelosok negeri menuntut ilmu di sana di berbagai universitas, seperti International University of Africa (IUA), Universitas Khartoum, Perguruan Tinggi Omdurman, dan yang lainnya. Pengajaran dan pembelajaran di Sudan semuanya menggunakan bahasa Arab sama seperti bahasa yang digunakan oleh masyarakatnya. Mahasiswa yang belum mampu berbahasa Arab dengan baik, maka dia akan mengikuti kelas bahasa terlebih dahulu yang disediakan oleh kampus selama satu tahun, namun belajar berbahasa tidak hanya di kelas karena di dalam asrama kampus para mahasiswa diajak untuk berkomunikasi dengan bahasa Arab, jadi membuat mereka semakin lama tinggal semakin menguasai bahasa yang ada.

“Jika bukan karena para syeikh[1]maka tidak akan aku pergi ke Sudan,” seorang mahasiswa mengungkapkan seperti itu, ya di Sudan terkenal banyaknya syeikh yang ahli dalam berbagai ilmu seperti, nahwu, sharf, fikih, tauhid, mawaris, hadis, tafsir dan banyak ilmu lainnya. Para syeikh begitu ikhlas dan semangat mengajar kami di masjid-masjid mereka menetap, sungguh ketika mereka menyampaikan ilmunya terpancar ketulusan hatinya, terkadang sebagian syeikh memberikan buku-buku secara gratis, mereka tidak mengharapkan apapun, namun para murid selalu menyediakan minuman dan makanan untuk syeikh, biasanya kajian dengan para syeikh diadakan setelah shalat fardhu seperti, setelah Maghrib dan Isya, namun terkadang ada juga yang diadakan pagi hari, dan tidak terbatas hanya di masjid, akan tetapi sering kali berbagai lembaga kekeluargaan di Sudan mengundang para syeikh untuk datang ke kediamannya mengisi kajian ilmu Islam.

Setiap perantau dari perbagai negeri di Sudan merasa senang karena tidak kesepian, karena semuanya memiliki kekeluargaan terutama yang berasal dari negara Indonesia banyak komunitas yang merangkul setiap orang untuk berjalan bersama, saling membantu, seperti perkumpulan dari daerah masing-masing, perkumpulan mahasiswa Aceh, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa, dan Indonesia bagian timur yang meliputi Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT, dan Papua. Ormas-ormas penyatu Mahasiswa juga ada di sini seperi PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Wahdah, IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern), IKPDN (Ikatan Keluarga Pondok Darunnajah), ISLAH (Ikatan Alumni Husnul Khatimah), dan lain sebagainya.

Indahnya berbagi ilmu di Sudan sungguh menyentuh di setiap mahasiswa, karena di sini tidak ada senioritas seperti di tempat lainya, akan tetapi para mahasiswa yang lebih lama tinggal di sini selalu mengajak untuk kebaikan, memberi semangat, dan juga mengingatkan tujuan awal kita di sini. Masjid–masjid tidak hanya para syeikh yang mengadakan kajian ilmu bahkan beberapa senior mengadakan kajian untuk para juniornya dan membuka setoran hafalan.

Para pemburu sanad, itulah istilah bagi mahasiswa yang suka mengikuti kajian bersanad, atau kajian yang silsilah keilmuannya jelas dan yang mengikutinya diakuinya sebagai pewaris ilmu selanjutnya. Biasanya kajian bersanad ini mengkaji sebuah buku bersama-sama hingga selesai dengan waktu yang ditentukan seperti sanad hadis Imam Bukhari, para murid dan syeikh mengkaji bersama semua hadisnya selama seminggu dimulai dari pagi hingga pukul 10 malam, meski pusing, mengantuk, dan harus sangat fokus mendengarkan, semuanya terbayar lunas ketika mendapat pengakuan dalam bentuk sanad oleh para syeikh.

Saling sapa dan menanyakan kabar adalah budaya yang melekat di Sudan dan menular dengan indahnya kepada para mahasiswa, membuat hati selalu senang. Terkadang tidak semua mahasiswa yang datang kepada kajian syeikh tidak mengerti yang disampaikannya, mereka hanya berharap keberkahan kajian ilmu dan keikhlasn para syeikh yang mengajarnya. Di sini para mahasiswa benar-benar belajar bersyukur dan bersabar dengan lika-liku rutinitas di Sudan dan juga menjalani semuanya dengan hati yang bahagia sambil menyebut, “Alhamdulilllah Ala kulli hal, in syaa Allah Khair”.[2]

*Mahasiswa International University of Africa, Sudan


[1] Ulama/mereka yang  menguasai ilmu agama Islam.

[2] Segala puji untuk Allah atas segala keadaan, in syaa Allah baik.

Tidak ada komentar