Terhangat

Terbuang


Oleh Ariesta Mansoer

Aku makhluk terbuang. Aku tidak lagi diinginkan. Disingkirkan tanpa empati. Diterlantarkan tanpa ada yang peduli. Tak ada seorang pun memahami perasaanku. Semuanya tidak menyayangiku. Aku hanyalah sesosok penganggu. Ibuku meninggalkanku sesaat setelah aku lahir. Saudara-saudariku pergi entah kemana. Aku cuma punya keluarga ini. Tapi mengapa mereka setega ini?

Aku tidak dapat memejamkan mataku. Aku menggigil kedinginan, terjamah oleh beku dari kulit sampai ke hati. Belum pernah sekalipun seumur hidupku tidur beralaskan rumput basah. Seketika, kuteringat selimut hangat di tempat tidurku dan makanan enak di piringku. Betapa nyaman hidupku dahulu.

Aku sudah hampir terlelap ketika mendadak makhluk hitam bercakar tajam datang dan menyerang di bagian perutku. Kulitku tercabik beberapa sentimeter. Rasa nyeri segera menjalar. Gegas kuberlari menghindar. Dia tidak lebih besar dariku tapi tatapan buasnya itu sangat mengerikan. Dia mengejarku penuh nafsu. Kuberlari tunggang langgang, beriktikad jangan sampai tertangkap. Jika dia berhasil menyergap, sudah pasti aku akan dihabisi dengan cara keji. Kukerahkan seluruh tenaga untuk berlari sekencang-kencangnya, hal yang belum pernah kulakukan selama ini. Aku tidak punya cukup keberanian untuk membalas serangannya. Jadi pilihanku sekarang hanya kabur seperti pecundang.

Di hadapanku terbentang selokan besar, laju lariku berkurang, mustahil aku bisa melompat ke sisi seberang. Aku menoleh ke belakang dan menangkap bayangan hitam itu semakin mendekat dengan cepat. Kupacu kaki bergerak lebih gesit dan nekat meloncat sambil berharap lompatanku cukup jauh untuk menjangkau sisi lain selokan itu. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sama buruknya, tewas diterkam binatang buas atau mati tenggelam terseret arus deras parit. Dengan mata tertutup, kurasakan tubuhku melayang, kurenggangkan badan sepanjang mungkin. Aku baru membuka mata setelah tubuhku membentur permukaan yang keras. Aku mencengkeram beton di tepi parit itu dan lekas-lekas memanjat ke atas. Syukurlah. Aku sukses menyeberanginya. Di sebelah sana, si hitam bermata tajam itu menyeringai marah. Aku sempat tersenyum lega, membuatnya semakin murka.

Kuputuskan untuk tidur di bawah pohon dan menutupi seluruh tubuhku dengan daun-daun kering. Cara itu ampuh menyingkirkan rasa dingin sekaligus sebagai kamuflase agar tidak menarik perhatian kaum pemangsa. Kusentuh benda bergemerincing yang melilit leherku. Aku sungguh merindukan rumah.

Langit masih temaram, separuh malam telah menghilang namun pagi belum menjelang. Perutku perihnya luar dan dalam, kulit terkoyak dan lambung bergejolak karena belum makan semalaman. Aku berjalan dengan waspada, tidak boleh lengah, bersiap siaga. Kalau-kalau ada makhluk jahat yang berniat menyerangku lagi.

Aku terus berjalan tak tentu arah sembari berharap menemukan makanan tercecer di jalan. Nihil! Rasa lelah, lapar, dan kehilangan semangat merupakan kombinasi sempurna untuk berputus asa. Aku ini makhluk rumahan. Aku tak pernah berjuang di alam liar seperti ini. Dunia luar rumah ternyata sungguh kejam. Persaingan antar mahluk hidup sangat vandal dan brutal.

Dari kejauhan aku melihat tempat pembuangan sampah sementara. Ada dua sosok manusia di sana. Salah satunya mengitari bak sampah berkali-kali. Sementara yang lainnnya berjongkok sambil mengais-ngais sampah menggunakan sebatang ranting. Aku berjalan sempoyongan, langkahku semakin pelan. Kakiku terasa berat, enggan diajak melawat. Manusia mungil itu berhenti mengais sampah, membuang ranting yang dipegangnya. Bahunya berguncang pelan, dia mungkin sedang tersedu-sedan. Dipeluknya wanita berbadan lebar yang tampak lejar setelah berputar-putar. Semakin pendek jarak antara tempat sampah dan diriku, semakin jelas figur mereka. Tiba-tiba aku merasa amat marah. Kejadian semalam mendadak mampir di kepala.

Vienna menggendongku dengan hati-hati kemudian meletakkanku di dalam kardus bekas mie instan. Kusaksikan mata besarnya yang jernih itu berkabut. Dia menoleh pada wanita di sebelahnya dengan tatapan memohon. Namun wanita berusia awal tiga puluhan itu menggeleng tegas sembari menunjuk ke arah kardus.

Mereka mengendarai sepeda motor, membawaku ke sebuah tempat yang hina bagi kaumku. Tepat saat kardus mendarat di bak sampah, aku langsung melompat keluar dan berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh lagi. Aku benci mereka! Mereka membuangku hanya gara-gara merusak sofa baru itu. Itu alasan yang terlalu mengada-ada. Tidakkah aku jauh lebih berharga daripada sofa merah kulit sintetis murahan itu?

Vienna, nama yang indah, bermakna putih dan suci, sama seperti hatinya. Dia merawatku sejak bayi sampai aku sebesar ini. Vienna bertugas memberiku makan dan minum sementara ibunya yang membersihkan kotoranku. Mereka menyediakan pasir khusus beraroma lavender tempat membuang hajat. Mereka juga membelikan makanan paling enak dan mahal untukku. Kukira telah menemukan rumah yang akan kutinggali hingga akhir hayat. Tapi lihat apa yang mereka lakukan. Mereka membuangku persis seperti sampah.

Namun….

Vienna sangat memanjakanku. Belaian lembutnya di kepalaku. Tatapannya yang penuh kasih sayang. Pelukannya yang hangat. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya?

“Vienna!” panggilku akhirnya. Namun suaraku terdengar terlalu lemah, Vienna tak menoleh, menandakan dia tak menangkap resonansi itu. Aku tak sanggup lagi. Aku terkulai lunglai di tepi jalan. Dengan sisa tenaga, kugelengkan kepalaku kuat-kuat sehingga kalung di leherku menimbulkan bunyi bergemerincing. Berharap Vienna mendengarnya.

“Klala!” Vienna yang masih cadel menyerukan namaku. Disusul bunyi berdecit-decit khas sepatu balita mendekat dengan cepat.

“Vienna─”

Aku mengeong memanggil tuanku tersayang. Aku Clara. Aku tak lagi terbuang. Aku telah dijemput untuk pulang.

Balikpapan, 10 September 2020

 

Tidak ada komentar