Terhangat

Jangan Salahkan Hijabku


Oleh Ratna Dewi

Sepulang sekolah, Indah, seorang wanita yang berasal dari keluarga kaya itu sengaja tidak pulang ke rumah. Dia menganggap ketika pulang pun pasti tidak ada waktu quality time bersama kedua orang tuanya, berbeda dengan rumah Aisyah. Rumah teman dekatnya yang selalu ramai dengan obrolan santai dengan keluarganya. Indah dapat dengan mudah memiliki barang apapun yang dia inginkan. Namun, dia sangat haus akan kasih sayang orang tuanya karena kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan urusannya masing-masing, bahkan yang mengurusinya sejak kecil adalah bibinya yang sangat sayang padanya.

Walaupun orang tuanya selalu sibuk, beruntungnya Indah mempunyai teman yang selalu mengingatkannya kala jalannya mulai keliru. Aisyah adalah teman yang baik dan taat beribadah, Aisyah walaupun berasal dari keluarga yang sederhana tapi kebahagiaan selalu dia dapatkan dari keluarganya. Cara berpakaian Aisyah memang sederhana, tetapi selalu nampak anggun dan sesuai syariat Islam. Hal itu membuat Indah ketika sedang jalan bersama Aisyah mengikuti gaya temannya itu dengan menggunakan gamis/rok dengan jilbab menutup dada. Suatu ketika Aisyah mengajak Indah untuk hadir di acara kajian khusus kemuslimahan, dan sebagai ratu fashion, Indah mempersiapkan sangat matang setiap baju yang akan dipakainya ketika datang disuatu acara.

“Syah, nanti pulang sekolah aku ajak ke toko busana muslim ya,” ajak Indah

“Mau beli baju buat apa, Ndah?” tanya Aisyah.

“Nanti sore kan kamu ngajak aku ke kajian. Jadi, aku harus beli gamis dulu buat nanti sore.”

“Baju kamu di rumah kan banyak, Ndah, lagian datang ke kajian kan untuk nyari pahala dan nambah ilmu, bukan ajang fashion. Lebih baik uangnya kamu tabung deh, Ndah.”

“Iya juga sih, Syah. Yasudah, nanti aku pakai baju lama saja deh, yang penting sopan, kan?”

“Iya betul, nah gitu dong. Harus latihan hemat sebagai muslimah.”

“Siap!”

Seiring berjalannya waktu karena Indah sering bersama Aisyah ketika di sekolah. Akhirnya Indah termotivasi Aisyah untuk tetap istiqomah dalam menggunakan rok dan hijrah dari pakaian yang serba ketat, walaupun awalnya celana jeans menjadi pakaian favorit Indah. Namun lambat laun, Indah mulai merasa nyaman dengan pakaian serba longgarnya. Ketika keluar rumah dia juga sudah mulai istiqomah untuk berjilbab. Ketika Indah meng-upload status di akun Instagram-nya, banyak hujatan dari teman-temannya di kolom komentar.

“Sok suci, katanya hijrah tapi perilakunya masih jelek.”

“Percuma pakai rok dan hijab, kalau ujung-ujungnya masih pacaran.”

“Sayang sekali hijabnya cuma buat nutupi perilaku jeleknya.”

Hujatan demi hujatan dia terima di kolom komentar, Indah tak kuat dengan komentar-komentar pedas itu. Memang benar Indah dulu adalah wanita yang sangat update dengan foto tanpa hijab dan pakaian serba ketatnya, sehingga banyak pengikut di Instagram-nya. Dan diperilakunya yang seperti itu orang tuanya selalu tidak pernah menggubrisnya, tetapi disaat dia mengenal Aisyah sedikit demi sedikit perilaku buruknya terhapus oleh Aisyah. Namun, setelah perubahan ini Indah dapatkan, dia kembali tergoyah untuk kembali dengan kehidupan awalnya karena tidak kuat dengan komentar pedas temannya di dunia maya.

“Syah, aku mau kaya dulu saja. Aku enggak pantas pakai pakaian longgar dan hijab syar’i seperti ini, aku malu dengan sikapku yang masih sangat buruk ini.”

“Ndah, aku tahu kamu seperti ini karena komentar dari teman-teman dunia mayamu. Tapi yang harus kamu ingat kamu lebih cantik seperti ini, Ndah, jangan kamu berlomba-lomba mencari penilaian dari manusia, Ndah, karena itu tidak akan pernah ada habisnya. Biarlah mereka berkomentar tapi penilaian yang sesungguhnya adalah penilaian dari Allah, Ndah.”

“Tapi aku tidak pantas berjilbab syar’i seperti ini, Syah, aku masih sangat jauh dari kata sempurna.”

“Ndah jangan kamu salahkan hijabmu, hijabmu tidak salah. Justru dengan berhijab seperti ini kamu sudah menjalankan salah satu perintah-Nya sebagai seorang muslimah. Dengan berhijab seperti ini lambat laun waktu aku yakin kamu pasti bisa memperbaiki diri.”

“Terima kasih ya, Aisyah. Kamu selalu menjadi alarm untukku.”

Walaupun tidak ada hubungan darah antar kedua wanita ini, tapi justru dari temannya itu, Indah mendapat banyak pelajaran hidup berharga darinya. Aisyah bagaikan kakak bagi Indah yang selalu memberi pesan kebaikan kepadanya. Dekat dengan penjual minyak wangi memang akan membuat kita tertular bau wanginya. Begitupun ketika kita dekat dengan teman yang baik maka kita akan tertular kebaikannya.

Aisyah bagaikan alarm bagi Indah yang selalu memberi peringatan kala tingkahnya mulai kelok. Aisyah juga bagaikan hansaplast yang siap menutup luka setiap saat. Mempunyai teman seperti Aisyah adalah anugerah terindah dari-Nya, dekat dengannya selalu mengingatkan Indah pada arti kehidupan yang fana ini. Menasihati dengan tidak menggurui. Namun, secara pelan tapi pasti nasihatnya berhasil merubahnya menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar