Terhangat

Depresi

Oleh Riyan Hidayatullah

IllustrationForest/Shutterstock.com

Memang yang aku rasa semua tidak baik-baik saja, banyak sekali bayang-bayang masa lalu yang terus menghampiri dan membuat aku tidak berdaya akan semua masalah ini. Duduk lunglai di pojok kamar dengan memegang beda tajam sambil mengigau seolah menjadi hal biasa, melihat dunia yang amat gelap ketika rasa dan cinta hilang bersama indahnya dunia.

Aku, ya aku hanya bisa tertawa dan menangis seolah akan baik-baik saja, melihat benda kecil nan tajam yang aku genggam berniat mengakhiri hidup tapi masih banyak pikiran. Mengapa semua ini bisa terjadi? Hey, aku yang berada di dunia apa yang aku lakukan? Suara isak tangis semakin membesar aku tak tahan menahan rasa sakit ini. Luka? Benar saja. Tapi, bukan fisik tapi raga dan jiwa.

Pintu didobrak seolah suara aku sudah membuat kegaduhan, semua histeris ketika melihat aku di pojokan dengan sebuah benda tajam. Mereka mulai medekat dan meminta aku untuk tenang, tapi mungkin semua sudah terlambat aku sudah berada di jurang yang mungkin selangkah lagi aku terjatuh kebawa menikmati perihnya patah hati.

Suara tangis terdengar, benar aku melihat jelas Ibu aku seolah menahan rasa dan khawatir anak bungsunya kehilangan arah dan mulai melakukan hal-hal yang tidak diinginkan mereka tahu aku butuh dia. Dia yang membuat aku bahagia dan dia yang membuat aku terjatuh merana, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa hanya satu kata dan terus menjaga agar benda tajam itu tidak merenggut nyaman.

Suara itu semakin kencang, benar laki-laki besar datang dan berbisik perlahan maju, langkahnya memang sangat hati-hati, suaranya berbisik lantang. Tenang-tenang, Nak. Semua akan baik-baik saja. Tapi, aku tidak bisa menerima didekati lalu aku beranjak berdiri seolah mereka terkejut dan melarikan diri. Suara makian dari mulut aku mulai keluar dengan lancar, seolah menghakimi mereka yang tidak sadar bahwa mereka tidak mengerti aku. Satu-satu dari mereka hanya menunduk lesu seolah menyadari bahwa keluarga datang terakhir untuk mengerti, tapi aku yang salah dan tidak mengerti bahwa keluarga datang paling awal untuk menolong aku. Semua mencekam, aku mengangkat benda tajam ke arah mereka, membuat mereka menjaga dan bersiaga apa yang akan dilakukan oleh aku kelak. Yang jelas tidak ada satu pun orang yang membiarkan aku sendiri. Walau mereka dihantui rasa ketakutan karena harus menemani aku yang mungkin sedang di tahap depresi. Tapi, sejujurnya mereka ada, tapi aku yang tidak sadar dan tidak mengerti.

Menggerutu memanggil nama dia seolah menjadi keharusan, aku belum ikhlas dia pergi. Benar rasanya aku harus bisa membawanya kembali agar aku bisa berdiri dan melangkah bersama tidak terjatuh ke jurang dan berenang dalam kesedihan. Sayangnya, ini adalah takdir bukan sebuah game kehidupan yang bisa kita rubah mulai dari awal jika semua berada dalam tahap gagal. Aku sadar itu, itu tidak bisa.

Aku mulai menenagkan diri karena aku sadar bahwa semua ini salah aku, tapi aku tidak mengerti bagaimana cara berekspresi tentang sebuah rasa selain menangis, tertawa dan melukai diri. Aku tidak merasa sakit karena ada yang lebih sakit dari fisik, ya itu hati.

Datang wanita sebaya denganku menghampiri, tanpa ragu dan takut dengan benda yang aku bawa dengan ikhlas dan senyuman indah dia mengerti.

“Hi, Mas, Maaf aku telat datang." Katanya.

Lalu memeluk aku dengan erat, seolah memberi tahu bahwa jika kamu butuh kehangatan dan dukungan tempatmu sudah benar semua itu ada dan bernama keluarga. Wanita itu menjulurkan tangan ke arah luar, memberi kode kedua sepupuku yang sedang duduk santai dalam kamar, aku melihat benar mereka menuju pintuk keluar sambil berbisik tapi, 'Mbak itu tidak mungkin kalian kami tinggal sendiri.' Aku mendengar jelas semua itu keluar dari sepupuku, benar mungkin mereka mengkhawatirkan wanita yang duduk di depan aku sekarang.

“Maaf, Zi. Reina telat datang.”

Reina membuka obrolan dan merapikan wajah. Aku hanya terdiam dan mengerutkan dahi seolah bertanya-tanya berhari hari aku berada di titik ini, semua orang menjauh dan takut tapi mengapa wanita ini sepupuku bernama Reina mau memeluk aku dengan hangat. Reina terus merapihkan aku dan bercerita tentang hari ini bahwa dia rela ijin kerja hanya untuk melihat aku yang sudah tidak berguna. Pria hanya diam di pojokan kamar menangis dan tertawa tanpa henti. Sesekali kami bertatapan muka Reina hanya tersenyum dan merapihkan rambut, aku tak kuasa menahan haru yang sudah di ujung mata.

Akhirnya, badan itu reflek memeluk Reina dengan erat, mungkin Reina terkejut dan berteriak, Renzi. Semua orang masuk kamar hanya ingin memastikan apakah semua baik-baik saja seketika itu kamar penuh karena teriakan Reina, dan aku hanya terdiam sebegitunya kah mereka memperjuangakan hidup aku yang sedang patah hati. Sedangkan aku malah memperjuangkan cinta orang yang sudah pergi dan sedangkan aku juga tidak berjuang untuk melanjutkan hidup. Hanya diam dan tanpa arah seolah menikmati rasa perih.

“Renzi, Maaf! Tadi aku kaget.”

Reina menyapa aku seolah memberi tahu bahwa dirinya tidak takut hanya saja kaget. Reina hanya memberi kode mengangguk kepada orang-orang yang masuk agar kembali keluar. Aku benar-benar melihat sosok wanita yang mengerti aku setelah dia yang meninggalkan aku.

“Aku minta maaf, Reina. Suara aku berbisik, seolah tidak kuasa menahan haru dan air mata yang mulai berjatuhan.

“Iya, aku mengerti.”

Reina memegang erat tanganku perlahan dia melepaskan benda tajam yang sudah berhari-hari kau simpan. Aku hanya mengikuti saja arahan Reina.

“Aku minta maaf, Reina!”

Lagi aku meminta maaf akan semua hal yang sudah terjadi.

“Renzi, aku yang minta maaf, karena membiarkan sepupuku terjatuh seperti ini.”

Reina berhasil melepaskan benda tajam tersebut dan menaruhnya di belakang badannya. Dia mengelus rambutku dan sesekali merapihkan baju yang sudah lama tidak kuganti.

“Reina!” Aku memanggil seolah penuh tanya.

“Semua kini baik-baik saja, aku titip dirimu pada dirimu, jangan sampai dirimu melukai dirimu. Ingat Renzi,  kamu harus mulai berbesih.”

Reina lalu memanggil kedua sepupuku yang memang tugas mereka hari ini menjagaku agar aku baik-baik saja. Aku melihat mereka mengobrol bertiga dan berbisik walau aku masih mendengar suara mereka, Reina menyuruh ada menyembunyikan semua barang yang tajam dan jauhi dariku dan Kusuma.

“Tapi, Mbak Reina,"

Suara itu serentak terdengar, mungkin mereka ragu dan takut mengurus aku, menjaga aku saja mereka sudah berusaha keras karena benda yang aku pegang berhari-hari. Kemudian Reina mengeluarkan benda yang sudah dia ambil dari tangan aku menunjukkan pada Adam Kusuma. Aku mendengar sekaligus bersedih melihat aku merepotkan banyak orang.

“Karena ini, sudah yuk kita kerjakan, semua aman."

Reina menunjukan benda tajam dan meyakinkan Adam dan Kusuma, dan akhirnya mereka bertiga menghampiri aku sebeelum Adam berpamitan untuk mengondisikan barang mudah belah dan berbahaya, dan memastikan aku dan Reina, sedang Kusuma baik-baik saja. Langkah kaki akhirnya mengajak aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan mungkin kembali menjadi manusia seutuhnya, mulai memperbaiki diri dan mencoba hidup kembali, dan aku dengar Reina menyuruhku datang ke psikiater dan psikolog pada kemudian hari, aku sudah mendengar obrolan itu ketika Kusuma sedang menjaga aku di kamar mandi.

Tidak ada komentar