Terhangat

Cara Beradaptasi dengan Kultur dan Budaya di Belanda

Oleh Fauzan Muzakki*

Salah satu hal tersulit untuk dihadapi adalah beradaptasi dengan masyarakat baik kebudayaan belajar dan kebudayaan bersosialisasi di Belanda. Saya membutuhkan waktu selama dua bulan untuk benar-benar bisa beradaptasi dengan kedua kebudayaan tersebut. Sifat malu bertanya yang saya sadari harus dihilangkan bila ingin belajar di Belanda. Mereka akan dengan senang hati akan menceritakan maksud dan tujuannya, bahkan toleransi bila ada kebudayaan yang tidak cocok dengan kita sebagai mahasiswa dari Indonesia. Adapun budaya-budaya masyarakat Belanda yang sering hadapi sebagai mahasiswa Indonesia sebagai berikut:

Pertama: Kritis dan terbuka

Jika teman-teman belajar di Belanda, kedua hal ini pasti akan teman-teman hadapi, terutama di ekosistem pembelajaran diberbagai universitas. Dosen dan mahasiswa Belanda secara terbuka mengomentari dan mengkritisi hal-hal yang mereka rasa janggal dan patut diberi saran. Bahkan, dosen, dan mahasiswa bisa saling tidak menyetujui satu sama lain. Walaupun terkesan seperti berdebat dan menjatuhkan bagi budaya Indonesia, tapi sebenarnya mereka tidak ada maksud buruk terhadap kita selama debat tersebut masih dalam ruang lingkup akademis. Kamu akan dianggap mengerti dan sudah tahu bila tidak bertanya. Jadi, Belanda akan menjadi negara terbaik, bila kamu adalah orang yang suka berdiskusi dan tidak.

Kedua: Tepat waktu

Jika kamu berjanji datang jam 09.00, lebih baik datanglah lebih awal atau tepat waktu. Masyarakat Belanda cukup ketat dan efisien dalam mengatur waktunya selama jam kerja (Jam 08.00-17.00). Kesan buruk akan kamu dapatkan bila kamu tidak datang tepat waktu tanpa konfirmasi sebelumnya. Kaku adalah kata pertama yang saya pikirkan ketika berhadapan dengan budaya ini, meskipun maksudnya baik untuk efektivitas dan efisiensi dalam meraih capaian belajar dan pekerjaan. Tapi, selama kita mempunyai alasan yang tepat untuk terlambat atau menunda pekerjaan, mereka tetap terbuka untuk menerima dan mencarikan jadwal terbaik untuk melakukan pertemuan selanjutnya di waktu atau hari lainnya.

Ketiga: Individualisme yang tinggi

Belanda merupakan negara yang memiliki tingkat individualisme yang tinggi. Masyarakat Belanda suka sekali melakukan apapun sendiri. Servis-servis kecil seperti bengkel sepeda masih bisa kamu dapatkan, tapi harganya mahal sekitar 38 EUR (500 ribu rupiah) untuk ganti ban dalam atau luar. Lebih baik di Belanda, mahasiswa Indonesia mulai belajar untuk melakukan hal tersebut sendiri karena lebih murah. Individualisme ini juga berpengaruh dengan masyarakat Indonesia yang suka berkomunitas secara kolektif. Contohnya adalah sulitnya mencari waktu nongkrong bersama saat hari kerja karena mereka lebih suka pulang ke rumah dan beristirahat. Saya yang suka nongkrong agak kesulitan untuk mengajak mereka nongkrong sampai larut malam untuk sekedar ngobrol dan berdiskusi ringan dan santai, terutama di hari kerja.

Keempat: Bersepeda

Di Belanda, saya sangat jarang melihat motor dan mobil melintas di jalan raya kota. Sepeda adalah transportasi pribadi utama yang wajib dimiliki di Belanda. Kamu tidak perlu khawatir karena saya melihat fasilitas-fasilitas bersepeda yang terawat dan rapi. Bahkan, jalan-jalan tertentu ditengah kota dikhususkan untuk pesepeda dibandingkan motor dan mobil. Jadi, bersepeda bisa lebih cepat mencapai tujuan lebih cepat dibandingkan kendaraan bermotor untuk area-area tertentu. Negara ini cocok sekali untuk kamu yang hobi bersepeda secara nyaman dan berkualitas. Saya  yang terbiasa menggunakan motor untuk berpergian di Indonesia merasakan pegal-pegal saat dua bulan pertama di sini, tapi beberapa bulan selanjutnya saya bisa benar-benar menikmati manfaatnya bersepeda, bahkan saya menjadi ketagihan bersepeda sekarang.

Itulah empat budaya yang saya rasa sangat kental di Belanda. Walaupun ada beberapa hal yang berbeda secara signifikan dibanding dengan budaya Indonesia. Akan tetapi, kesan baik dan unik yang saya rasakan serta bisa menjadi contoh untuk memperbaiki budaya kerja di Indonesia saat saya kembali ke Tanah Air setelah lulus nanti. Semoga kamu yang membaca artikel ini semakin termotivasi untuk bisa belajar di mana pun, terutama di Belanda.

*Mahasiswa S2 Universitas Twente, Belanda

Tidak ada komentar