Terhangat

Revolusi Radikal Sistem Pengajaran di Kampus Afrika


Oleh Ilyas Jundullah

Dalam realita kehidupan sosial nilai sebuah lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat vital dalam menentukan apakah individu yaang telah mengenyam bangku pendidikan dari lembaga tersebut mempunyai kualifikasi yang sesuai untuk bisa hidup di lingkungan tertentu, pembagian strata sosial saat ini tidak mengukur nilai individu dari seberapa tingginya keturunan ataupun dari silsilah keluarga tapi lebih kepada bagaimana keluarga tersebut menempatkan anak–anaknya di dalam sebuah lembaga pendidikan. Tradisi ini mulai mengakar kuat di dalam masyarakat semenjak era globalisasi dimulai, batasan–batasan antar individu mulai memudar, kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas mulai mencuat, semua lembaga pendidikan mulai bersaing menjadi yang terdepan dalam menciptakan individu yang unggul dan bisa digunakan oleh para perusahaan–perusahaan ataupun masyarakat, kecerdasan bersosial dan juga kecerdasan pemikiran menjadi rujukan utama seberapa tingginya nilai seorang individu. Dalam proses evolusi tersebut lembaga pendidikan harus bisa meracik mekanisme pengajaran dan pembelajaran yang bersifat revolusioner dan efisien sehingga nilai prestisi mereka bisa mencapai puncak tertinggi dalam piramida global. Lalu ada sebuah pertanyaan, apakah sistem pengajaran dan pembelajaran yang digunakan oleh pihak Universitas Afrika sudah memenuhi persyaratan untuk bisa bersaing di kancah dunia?

Well,  mekanisme sistem pengajaran yang berlaku di dalam tubuh Universitas Afrika bagi penulis sendiri sudah mulai tidak efektif lagi, terutama di tengah proses radical movement di dalam hubungan sosial yang selalu bergerak secara tidak terukur dan selalu berubah-ubah mengikuti konsep perkembangan ekonomi dan teknologi suatu lingkungan masyarakat itu sendiri. Berbagai konsep yang menyangkut dengan perkembangan otak, kecerdasan dan kreativitas, berkembang semakin besar dan makin menguatkan argumentasi yang ingin mulai mengoreksi kelemahan sistem pengajaran yang selama ini berlaku di tubuh universitas. Universitas Afrika sampai saat ini belum bisa secara maksimal menjadi sebuah wadah yang menghasilkan Sumber Daya Manusia yang unggul secara maksimal baik secara individual maupun kolektif yang mampu menggerakkan perubahan dan pembaharuan di dalam lingkungan sosial.

Untuk saat ini sistem pengajaran dan juga materi pembelajaran di dalam tubuh Universitas Afrika mulai terlihat semakin membias sehingga menciptakan ilusi seolah-olah universitas terkesan memihak sebuah kelompok, golongan, madzhab aqidah tertentu dan pihak pemerintah sendiri pun mulai bermain dalam sistem pengurusan universitas, sehingga filsafat universitas mulai terdistorsi jauh. Universitas khususnya dalam segi pengajaran semakin tidak terfokus untuk menciptakan ataupun berinovasi menciptakan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kecerdasan bersosial dan berpikir. Dalam hal ini sistem pengajaran yang berlaku di dalam universitas secara langsung akan mempengaruhi pembangunan kecerdasan komunal masyarakat dan juga mahasiswa itu sendiri.

Oleh karena itu penulis mempunyai padangan tersendiri tentang Revolusi, apakah yang harus terjadi di dalam sistem pengajaran ataupun pembelajaran untuk para mahasiwa.

  1. Universitas harus mulai memprioritaskan dalam segi pembangunan karakter, seperti yang kita tahu bahwa saat ini yang kita rasakan bahwa selama proses belajar mengajar pihak universitas hanya terlalu fokus dengan penyampaian materi belajar saja dan melupakan pendidikan karakter serta nilai–nilai moralitas yang bersifat menjunjung tinggi kebebasan dan nilai integritas manusia itu sendiri. Dampak dari hal ini sudah dirasakan oleh mahasiswa Indonesia terkhususnya dalam permasalahan berkembangnya mahasiswa yang berkarakter egoisme, menjunjung tinggi golongan ataupun mazhabnya bahkan sampai menciptakan rasa suporiaritas bahwa hanya kelompoknyalah yang lebih Islami dibanding orang Islam lainnya. Hasil dari absennya pembelajaran karakter mahasiswa selama di kampus akan mempengaruhi masyarakat itu sendiri ketika mereka kembali ke Indonesia. Universitas dan juga mahasiswa harus mengerti bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia.
  2. Universitas harus mulai membangun kebebasan berpikir bagi para mahasiswa, seperti yang kita tahu saat ini sistem yang berlaku sangat membatasi mahasiswa untuk berpikir secara bebas dan tanpa intervensi dari manapun. Selama ini mahasiwa selalu diberikan berbagai dogma ataupun larangan–larangan yang bersifat membatasi manusia dari berpikir. Output dari sistem ini akan menciptakan individu yang tidak berkembang dari sisi cara berpikir. Hal ini bisa kita lihat dari lemahnya mahasiswa ketika dihadapkan dengan perkembangan kondisi sosial selama masa pandemi virus Corona terutama tentang permasalahan larangan ke masjid dan anjuran untuk melaksanakan sholat di rumah, mereka selalu terdoktrin bahwa ibadah sholat harus selalu di masjid lalu ketika ada anjuran bahwa ibadah harus dilakukan di rumah mereka langsung menolak dengan keras dan menganggap bahwa hal itu adalah konspirasi ataupun lain sebagainya tanpa melihat dampak positif dan negatif kedepannya. Selain itu hal ini bisa kita lihat juga bagaimana para mahasiswa dengan mudahnya bersifat fanatik buta terhadap golongannya tanpa berpikir apakah yang selama ini mereka yakini itu benar atau salah. Tertutupnya kesempatan berpikir seperti ini harus mulai dirubah agar kedepannya universitas bisa secara maksimal dalam menciptakan manusia yang bisa berpikir secara mandiri dan menghapuskan sifat malas berpikir.
  3. Universitas harus membuat departemen khusus yang bertugas untuk memotivasi dan menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk membuat sebuah penemuan–penemuan baru yang bisa bermanfaat untuk masyarakat secara umum, kita tahu bahwa saat ini kita belum bisa melihat ataupun merasakan secara maksimal penemuan–penemuan yang dibuat oleh mahasiswa Universitas Afrika, Dalam hal ini semakin berkembangnya zaman para mahasiswa dituntut untuk mulai berpkir secara inovatif dan universitas harus mulai bisa menjadi garda terdepan dalam perkembangan teknologi ataupun sebagai penghasil ilmuwan–ilmuwan masa depan. Inovasi dan juga penemuan–penemuan tersebut tidak hanya harus berfokus dalam permasalahan saintis saja akan tetapi juga dalam ruang lingkup sosial ataupun agama.
  4. Universitas harus merevolusi sistem pengajaran yang selama ini bersifat dalam komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah. Maksud dari komunikasi satu arah adalah sistem pembelajaran dan pengajaran selama ini bersifat doktrin dan dogma sehingga mahasiswa selalu menelan bulat–bulat semua yang di ajarkan oleh dosen tanpa mencari tahu ataupun berdiskusi tentang materi yang sedang diajarkan, secara langsung mahasiswa terkesan mempunyai cara berpikir secara sempit. Seharusnya selama jam pengajaran dosen harus memberikan waktu bagi para mahasiswa untuk berdiskusi tentang materi yang sedang mereka terima sehingga semua mahasiswa bisa memahami dan mempunyai cara pandang tersendiri tentang materi yang sedang mereka terima.
  5. Universitas harus membuat materi kuliah khusus dalam bidang kemajemukan sosial, kita tahu bahwa saat ini di kelas kita sendiri terdapat berbagai macam manusia dari berbagai macam negara ataupun budaya yang berbeda, distorsi dan juga individualis antar mahasiswa harus dihapuskan. Selama ini kita mersakan bahwa nilai superioritas negara selalu hadir dalam cara kita bergaul dalam artian bahwa kita terkadang menganggap bahwa kita berasal dari negara yang lebih baik dibanding mahasiswa lainnya sehingga pergaulan kita hanya sebatas antar sesama negara ataupun dengan mahasiswa lain yang berasal dari satu benua ataupun mempunyai kedekatan karakter fisik dengan kita. Nilai–nilai globalis tidak hadir dalam cara kita bergaul ataupun berhubungan dengan manusia yang berbeda.

Saat ini yang bisa dilakukan oleh universitas agar bisa bersaing dengan yang lainnya adalah dengan melakukan inovasi ataupun pembaharuan sistem pengajaran agar bisa menghasilkan manusia yang bisa menjadi pencetak pembaharuan di tengah–tengah masyarakat global. Sistem pengajaran di berbagai universitas saat ini tengah menjadi sorotan apakah mereka bisa menjadi solusi di tengah merosotnya nilai moralitas manusia dan runtuhnya nilai integritas. Mungkin untuk saat ini semua sistem pengajaran dan pembelajaran di Universitas Afrika masih bisa berjalan dengan perkembangan kondisi sosial yang terjadi di Sudan akan tetapi hal ini belum tentu berlaku di belahan negara ataupun di tengah lingkungan masyarakat lain. Di tengah kemajuan  teknologi dan juga tingginya permintaan akan Sumber Daya Manusia yang mempunyai kualitas tinggi, pihak universitas harus segara melakukan reformasi pendidikan jikalau memang mempunyai niatan menjadi Lead of Human, saat ini yang dibutuhkan universitas adalah melakukan uji coba teori teori pembelajaran yang sesuai dengan visi dan misi universitas itu sendiri.

Dari sisi cognitive output sistem pengajaran yang berlaku mungkin terlihat mempunyai hasil yang baik hal itu bisa dirasakan dengan materi–materi yang bersifat hafalan menjadi prioritas utama yang didukung oleh tingkat pemahaman akan materi terlihat memuaskan ketika di evaluasi selama proses ujian semester, sedangkan secara penerapan hal itu kita rasakan dengan kuatnya nilai–nilai pembelajaran dalam keseharian kita seperti materi tentang ruang lingkup ibadah.

Sedangkan dari sisi nilai afektif outputnya terlihat tidak baik–baik saja hal ini ditandai dengan minimnya referensi selama proses pembelajaran berlangsung, interaksi antara dosen dan mahasiswa terlihat tidak intens, sumber–sumber pengetahuan selain dari apa yang dosen ajarkan tidak bisa menjadi bahan rujukan.

Pada aspek motorik sistem pengajaran universitas tidak bisa memberi rangsangan secara maksimal bagi perkembangan cara berpikir ataupun perubahan dalam sisi psikologi mahasiswa itu sendiri hal ini diakibatkan pembatasan cara berpikir dan juga kuatnya sistem dogma dan doktrinasi oleh para dosen.

Semua pilihan ada di dalam pihak universitas itu sendiri apakah mereka akan berani melakukan decoupling (melepas keterikatan akan masa lalu) yang secara tak langsung mereka mulai melakukan reformasi pembelajaran secara radikal yang mana dalam hal ini mahasiswa akan menjadi bahan uji coba dari kebijakan itu sendiri. Reformasi pengajaran yang dilakukan oleh kampus selama ini terkesan dijalani hanya setengah hati seperti pemberlakuan sistem pengajaran block system yang bertahan selama satu semester saja dan terkesan program gagal.

Tidak ada komentar