Terhangat

Pengembara Ilmu


Oleh Kautsar Ahmad Djalaluddin 

Pernikahan tidak terduga akibat kesalahan sang lelaki. Kisah ini dimulai ketika Idris safar ke Gaza, ia tak sengaja memakan delima dari kebun milik ayah Fathimah yang hanyut di sungai. Demi mendapat keridhoan dari pemilik kebun, Idris suka rela bekerja bertahun-tahun di kebun tersebut. Belum cukup kerja kerasnya, sang pemilik kebun menikahkan ia dengan putrinya yang buta, tuli, bisu dan lumpuh. Sang lelaki menerima keadaan tersebut dengan ikhlas dan berlapang dada. Namun siapa sangka, Fathimah, cantik rupawan tak ada cacat sedikitpun, rupanya sang istri tidak pernah melihat, mendengar, berbicara, pergi dan melakukan hal-hal yang diharamkan. Betapa indah buah keikhlasan dan kesabaran Idris.

Dari kisah cinta panutan yang sering kita dengar ceritanya ini, lahirlah Muhammad bin Idris bin Abbas bin ‘Usman bin Syafi’i bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthalib bin ‘Abdul Manaf, buah cinta dari pasangan shalih-shalihah yang menjadi Ahli Fikih dan pemikirannya menjadi rujukan beragama, salah satu dari 4 imam mazhab yang diakui. Beliaulah yang kita kenal dengan nama Imam Syafi’i.

Satu-satunya imam mazhab yang berasal dari suku Quraisy ini lahir di Palestina pada 150 H di mana pada tahun yang sama dua ulama besar Imam Hanafi di Irak dan Imam Ibnu Jureij sang mufti Hijaz di Makkah wafat.

Kehidupan bahagia keluarga ini tak berlangsung lama, di usia yang masih sangat belia ayah Imam Syafi’i meninggal dunia. Khawatir sang anak melupakan tanah kelahiran ayahnya, ibunda membawa Imam Syafi’i pindah ke Makkah, hidup serba sederhana dan kekurangan bahkan tak mampu membeli kitab dan membayar guru. Namun, ada seorang guru yang mengizinkan ia untuk belajar dengannya dengan syarat Imam Syafi’i harus mengajarkan teman-temannya.

Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang semangat belajar Imam Syafi’i. ia  tumbuh menjadi anak yang cerdas, menghabiskan waktunya belajar Fikih, Quran, Hadits di Masjidil Haram sehingga ketika usianya 7 tahun ia berhasil mengkhatamkan hafalan Al Quran, di usia 10 tahun kitab Muwattha’ karangan Imam Malik juga telah ia hafalkan.

Penduduk Makkah pada masa itu sangat menggandrungi sastra, menjadi rujukan bagi mereka yang ingin belajar tatanan bahasa indah. Begitu pula dengan Imam Syafi’i, ia belajar ke Bani Huzail yang paling murni Bahasa Arabnya. Suatu ketika Imam Syafi’i melantukan syair. Seorang sekretaris bernama Ubay menghampiri beliau dan berkata, “Orang sepertimu akan kehilangan muru’ah jika hanya bermain kata dan rima. Di mana kemampuanmu di bidang fikih?” Peristiwa inilah yang menggerakkan Imam Syafi’i untuk memperdalam Ilmu Fikih. Ia belajar fikih dengan mufti Makkah, Ibnu Khalid Az-Zanji juga dengan Imam-imam lainnya.

Setelah menyerap ilmu dari para ulama di Makkah, Imam Syafi’i yang berusia 13 tahun hijrah ke Madinah untuk berguru kepada imam mazhab asal Madinah, Imam Malik. Imam Syafi’i tidak meninggalkan Madinah sampai sang guru meninggal dunia.

Rasa sedih mendalam sepeninggal guru kesayangannya sempat membuat Imam Syafi’i putus asa, namun ia teringat pesan ibunda yang berkata kepadanya, “Jangan pulang sebelum menjadi ulama, atau nanti saja kita bertemu di surga." Imam Syafi’i tidak berani kembali ke kampung halaman. Ia memutuskan untuk pergi ke Yaman, ia diperkenalkan dengan metode-metode pembelajaran yang cemerlang.

Dari Yaman, Imam Syafi’i menuju Irak, pusat ilmu mazhab Imam Hanafi. Ustadz Teuku Khairul Fazli dalam buku Ushul Fikih Mazhab Syafi’i menjelaskan, Imam Syafi’i banyak berdebat, berdiskusi serta berguru dengan Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani dan ulama ahli ra’yi lainnya. Di Irak lah Imam Syafi’i menyusun mazhabnya dan menyebarkan ilmu hadits untuk mempraktekkan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di tempat ini pula Imam Syafi’i menerbitkan karyanya yang berjudul Al-Hujjah yang kemudian dikenal dengan Qaul Qadim. 

Mazhab Syafi’i adalah penggabungan antara mazhab Hanafi sang ahli ra’yi dan mazhab Maliki sang ahli hadits. Sebelum munculnya mazhab Syafi’i, umat manusia terbagi menjadi dua golongan besar, ashab ar-ra’yi dan ashab al-hadits. Ashab ar-ra’yi adalah mereka yang pandai dalam pemikiran dan analisa, tetapi kurang pada pengetahuan sunnah dan atsar. Berlawanan dengan ashab al-hadits yang banyak menghafal hadits nabi akan tetapi lemah pada pemikiran dan analisa.

Sementara, Imam Syafi’i menguasai retorika, dasar-dasar berdiplomasi dan pemikiran yang dalam. Ia juga menguasai sunnah Nabi dan mendalami dasar-dasar kaidahnya. Semua kelebihan itu digunakan Imam Syafi’i dalam menyampaikan ilmunya dan menjaga eksistensi sunnah-sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaiihi Wasallam.

Atas kecemerlangannya, ketika menemui pertanyaan yang sulit dipecahkan oleh salah satu kelompok, Imam Syafi’i mampu menjawab dengan jawaban yang jelas, lengkap dan memuaskan karena mampu menyeimbangkan antara ra’yi dan hadits. Sehingga pujian dan sanjungan selalu mengalir pada diri Imam Syafi’i.

Sampai suatu ketika, sang ibu mendengar dari halaqoh di Masjidil Haram yang menyebut-nyebut nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i. kemudian ibunda bertanya,

“Wahai Syaikh, siapakah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i itu?”

Syaikh tersebut menjawab “Beliau adalah guruku yang berasal dari Makkah, dia adalah orang yang ‘alim, cerdas, sholih dan berada di Irak saat ini.

“Ketahuilah bahwa ia adalah anakku, ya Syaikh” jawab ibunda penuh haru

Sang Syaikh terkaget dan seketika menunduk di hadapan ibunda sebagai bentuk penghormatan dan berkata, “Wahai ibu, sepulang haji aku akan kembali ke Irak. Apa pesanmu kepada Imam Syafi’i?

“Sampaikan padanya bahwa ibundanya telah mengizinkan untuk pulang ke rumah”. Pesan sang ibu kepada Syaikh.

Setelah pesan itu sampai ke telinga Imam Syafi’i, tanpa mengulur waktu ia berkemas dan segera pamit dari Irak. Masyarakat yang mencintai Imam Syafi’i memberi apa yang mereka punya, mulai dari unta, dinar, dan lainnya sehingga ia pulang membawa puluhan unta dan dikawal beberapa muridnya.

Sesampainya di Makkah, ibunda mendapat kabar dari murid Imam Syafi’i bahwa anaknya datang membawa puluhan unta dan harta lainnya. Mendegar itu ibunda menutup kembali pintu dan berkata “Aku menyuruh Syafi’i ke Irak bukan untuk mencari dunia! beritahu padanya bahwa dia tidak boleh pulang ke rumah..!!”

Saat mendengar kemarahan ibundanya Imam Syafi’i menjawab, “Sungguh kesalahan besar pada dirimu karena menganggap ibuku bahagia dengan harta yang kubawa ini. Kumpulkan penduduk Makkah dan bagikan seluruh harta yang kubawa, sisakan kitab-ku dan kabarkan kepada ibuku.

Setelah mendengar kabar bahwa Imam Syafi’i telah membagikan semua hartanya dan membawa kitab serta ilmu, sang ibu tersenyum lega dan membuka pintu untuk anaknya, memeluk bahagia penuh haru setelah sekian lama tidak bertemu.

Pada 195 H, Syafi’i kembali meninggalkan Makkah menuju Baghdad untuk memperluas mazhabnya. Selama di Baghdad beliau behasil menulis kitab yang menjadi asas ilmu ushul fikih yang berjudul Ar-Risalah. Di tempat inilah Imam Ahmad bin Hambal, Abu Tsaur Al-Kalbi berguru pada Imam Syafi’i.

Merasa perlu memperluas kembali mazhabnya, Imam Syafi’i bertolak ke Mesir dan banyak merevisi fatwanya dengan fatwa baru yang dikenal dengan Qaul Jadid yang dicantumkan dalam kitab-kitabnya yaitu Al-Umm, As-Sunan, dan lainnya. Beliau menghabiskan sisa usianya di Mesir hingga wafat pada 204 H di malam Jum’at setelah maghrib. Jasadnya dikebumikan Jum’at setelah Ashar, pada sebaik-baiknya hari.

Wallahua’lam.

Khartoum, 7 September 2020

Tidak ada komentar