Terhangat

Moral Dilema


Oleh
Muhammad Ismail

Apakah kalian pernah menonton Batman? Dia adalah superhero kota Gotham yang keren banget dengan segala aksi melawan kejahatanya mengunakan alat-alat yang canggih. Batman bisa mengalahkan semua penjahatnya seorang diri dan dia punya prinsip penting. Dia tidak mau membunuh siapapun, termasuk Joker salah satu penjahat besar di kota Gotham. Joker adalah musuh Batman yang gila, sadis dan brutal, tapi sering kali Batman mendapat kesempatan untuk membunuh Joker, namun ia memilih untuk tidak membunuhnya. Karena menurutnya aksi pembunuhan tidak bisa dibenarkan, sekilas prinsip Batman bisa dibenarkan di satu sisi. Tapi karena Batman tidak membunuh Joker, akhirnya dia berulang kali lepas dari kurungan penjara dan dapat membunuh orang lebih banyak lagi. Jadi Batman tidak mau membunuh Joker itu baik atau buruk ya?

Jika kalian menjadi batman apakah akan membunuh joker agar tidak ada lagi korban berjatuhan? Atau bertahan saja dengan ‘kode moral’ untuk tidak membunuh. Kode moral itulah kuncinya, sebenarnya apa itu moral? Moral adalah sebuah aturan yang digunakan untuk menilai tentang baik atau buruknya sebuah hal. Di dalam ilmu filsafat sendiri ada cabang ilmu yang membahas tentang moralitas yaitu Moral Philosophy atau Ethic. Soal bagaimana ethic baik atau buruk dibahas dalam Metaethic. Batman sendiri menggunakan pendekatan Filosofi Deontologi di dalam kode moralnya.

Deontologi adalah sebuah pandangan bahwa baik atau buruknya sebuah perbuatan bukan dari konsekuensinya tapi dari bentuk perbuatan itu sendiri. Jadi Batman beranggapan bahwa pembunuhan itu salah, walaupun membunuh siapapun itu orang baik ataupun jahat bahkan membunuh Joker sekalipun adalah salah, karena pembunuhan adalah salah. Sebaliknya jika ada yang berfikir kalau Batman seharusnya membunuh Joker karena banyak mengorbankan nyawa, itu adalah ethic yang lain yaitu Filosofi Utilitarian. Ultilitarian adalah pandangan ini baik atau buruknya perbuatan dilihat dari akibat yang dihasilkan, berbuatan yang baik adalah perbuatan yang menghasilkan dampak yang baik. Jadi jikalau Batman membunuh Joker berakibat menolong nyawa-nyawa yang mungkin akan menjadi korban karenanya, maka itu adalah perbuatan baik menurut Filosofi Utilitarian.

Dua macam itu pandangan itu pasti kalian sadari ada dalam kehidupan sehari-hari, contohnya seperti kasus aborsi. Kalau seseorang yang kode moralnya condong ke Deontologi yang percaya baik buruk itu sebuah aturan yang wajib diikuti, maka aborsi salah karena itu pembunuhan. Namun untuk seseorang yang berpandangan Utilitarian atau nilai baik buruk itu tergantung pengaruhnya, mungkin melihat apa efeknya jika bayi itu tetap dilahirkan ke keluarga yang ibunya bahkan tidak mau bayi itu ada, kemungkinan besar hidup si bayi akan sulit sampai besar.

Ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik, pertanyaan ini namanya Trolley Problem. Bayangkan kalian ada di persimpangan rel kereta disitu ada kereta yang bergerak mengarah ke lima orang yang terbaring terikat di atas rel. Dan kamu memegang tuas yang bisa membuat kereta itu mengubah jalurnya, tapi ada satu orang juga yang terbaring terikat dan akan terlindas jika kereta melewatinya. Jika kamu berpandangan Deontologi, maka kamu tidak akan menarik tuasnya karena akan membunuh satu orang itu dan pembunuhan adalah berbuatan buruk. Sebaliknya jika kalian berpandangan Utilitarian yang melihat dari akibat konsekuensinya, maka kalian memilih untuk menarik tuasnya dan membunuh satu orang, tapi menyelamatankan lima orang dan itu lebih baik kelihatanya, karena tidak selalu terasa baik seperti itu.  Bagaimana  jika satu orang itu cinta sejatimu selama ini dan lima orang itu adalah penjahat, apakah lima orang nyawa penjahat itu lebih baik dari pada nyawa cinta sejatimu? Tidak juga, kan? Rumit, kan? Itulah namanya ‘Moral Dilema’ dan segala ‘Moral Dilema’ ini sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh ‘Moral Dilema’ dalam kehidupan keseharian seseorang,  ada seseorang yang rela mencontek agar nilainya terlihat bagus dan membuat ibunya senang karena akhir-akhir ini ibunya terlihat sedih di rumah, mungkin karena nilainya bagus akan membuat ibunya senang. Apakah itu hal yang baik atau yang buruk? Atau yang sering terjadi ‘White Lies’, alias sedikit berbohong agar menjaga perasaan orang di sekitar kita. It’s a good thing or not? Hal itu baik atau buruknya dilihat dari ‘konteks’ atau sudut pandang orang yang melihat dan menilai.

Apakah kebaikan yang pasti atau absolut itu ada?  Mungkin saja ada, tapi yang pasti banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dinilai secara absolut baik atau buruknya. Karena baik atau buruk tergantung siapa yang menilai, tergantung kode moral yang menilai, dan tergantung konteks orang yang menilai.

Tidak ada komentar