Terhangat

Cerita Bulan September

Oleh Iffah Zehra*

Ini adalah cerita September pertamaku. Tanpa aku pikirkan, aku menjadi peneliti khusus untuk dirimu. Perlu dingat bahwa bukan sengaja aku memantau dirimu. Mungkin ini takdir. Senin sampai Jumat, nama kita ada di absensi kuliah yang sama.

Tahukah? Setelah keadaan memang yang memaksa kita untuk saling kenal, aku masuk pada tahap nyaman. Entahlah. Tahap di mana aku senang berteman denganmu. Setiap hal yang berkaitan denganmu, selalu membuatku kagum. Tapi, aku sering menyembunyikan perasaanku ini. Aku tidak tahu kapan semua ini bermunculan. Yang aku tahu, aku senang berada di sampingmu. Meskipun tak ada sapa atau bicara. 

Sayangnya, perasaan yang terpendam ini tiba-tiba berkecil hati. Saat tahu, bahwa ada satu nama yang terjaga rapi di dalam hatimu dan nama itu bukanlah namaku. Akhirnya, aku putuskan untuk menjauhimu. Ya, aku bahkan memberikan sebuah alasan logis mengapa aku melakukannya. Tentunya, kamu mengerti hal ini. Aku katakan bahwa aku mencintai orang lain. Aneh sekali, seharusnya aku tak perlu menjelaskan hal ini. Toh, kita bukan siapa-siapa.

Situasi kali ini semakin canggung. Aku ingin sekali melalui semester kuliah ini secepatnya tanpa ada kewajiban memerhatikanmu setiap saat. Dan sepertinya benar, waktu berpihak padaku. Aku tak lagi memerhatikanmu. Tidak peduli lagi.

Saat hari ulang tahunmu tiba, aku bahkan tak ingin merasa bersalah jika tak mengucapkan selamat atau memberikan doa. Bodoh rasanya mengakui bahwa detak jantungku menjadi tidak teratur, tetapi begitulah yang kurasakan.

“Happy birthday!” kata ini harus tersimpan di hatiku dulu.

September tahun keduaku, sungguh tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Aku masih ingin memerhatikan kamu lebih jauh. Pelan-pelan aku belajar tak peduli lagi denganmu. Ah iya, dan akhirnya aku pun terbiasa dengan hal itu. Aku menikmati hidupku, begitu pula denganmu. Sayangnya, ini tak berlangsung lama.

Bodohnya aku, ketika aku sedang merasakan rindu yang terdalam. Aku mendapati satu hal yang memanggil kembali perasaanku. Aku membuka feed Instagram di berandaku dan menemui caption-mu. Katamu, “Apa yang kau rasa di bulan September?”

Mataku jadi sendu, ada air yang menetes. Aku tahu kamu adalah penulis. Kamu pun sebenarnya tahu kalau aku suka membaca puisi, tulisan romansa, dan cerpen. Tapi, yang tidak kamu tahu adalah aku ingin rasa kita ini sama.

Oh, September tahun ketigaku. Aku ternyata tak bisa jauh-jauh lagi darimu.

Ada kamu.

Lebih tepatnya, kita yang sedang berbaring bersama.

Aku tak pernah menyangka kita pada akhirnya disatukan Yang Maha Penyayang. Mungkinkah ini jawaban dari doa-doa panjangku selama bertahun-tahun? Tidak ada yang tahu.

Awalnya aku memutuskan melupakanmu. Aku tahu, kamu pasti akan bertanya-tanya. Melupakanmu sungguh bukan perkara mudah. Semakin melupakanmu, ternyata aku semakin menjadi-jadi. Aku semakin tersiksa dengan perasaanku sendiri. Dari hal itulah, aku belajar bahwa aku harus bersabar sampai waktu yang halal.

Sekarang, rasanya seperti mimpi. Kamu sudah tahu isi hatiku bertahun-tahun yang kusimpan. Ketika kita mengikhlaskan, kita belajar memberikan yang terbaik untuk diri kita sendiri.

Dan kali ini, aku biarkan Septemberku ini didengar banyak telinga. Supaya mereka pun tahu kalau cinta butuh kesabaran, butuh doa-doa panjang. Bukan cinta yang tergesa-gesa.

Happy birthday, Sayang.

♥ ♥ ♥

*Sekretaris Pelaksana Millennial Connect PPI Dunia 2020

Tidak ada komentar