Terhangat

Banjir di Sudan Menenggelamkan Ratusan Ribu Rumah Penduduk


(El-Nilein News) Khartoum (09/09/2020) - Pemerintah Sudan melalui Dewan Keamanan dan Pertahanan mengumumkan keadaan darurat nasional selama tiga bulan. Surat keputusan tersebut dirilis paska bencana banjir yang menenggelamkan ratusan ribu rumah warga di sekitar Sungai Nil serta menewaskan puluhan orang.

Hujan deras yang terus menerus turun di Sudan sejak awal September 2020, menyebabkan banjir dahsyat di setidaknya 16 negara bagian Sudan. Ada lebih dari 500.000 orang terkena dampak dari banjir. Banjir juga menghancurkan lebih dari 100.000 rumah. (The Guardian).

Lena El-Sheikh, selaku Menteri Tenaga Kerja dan Pembangunan Sosial Sudan mengatakan selain menewaskan  99 orang, ada sekitar 46 orang mengalami luka-luka.

Banjir pada tahun ini merupakan rekor tertinggi selama 5 dasawarsa terakhir, setelah sebelumnya di tahun 1946 dan 1988. “Ini bukan pertama kalinya Sungai Nil membanjiri area tepiannya, bahkan ini merupakan dampak paling buruk yang pernah kita lihat,” kata Hiba Morgan dari Al-Jazeera yang melaporkan langsung dari tempat kejadian di kota Khartoum, lalu dia menambahkan bahwa setidaknya ada sekitar setengah juta orang dipaksa keluar dari rumah mereka sebagai akibat dari peningkatan debit air.

“Jumlah air tidak bisa dibayangkan,“ kata Omar Ahmed, salah seorang penduduk Umm Dawn, Timur Khartoum kepada Al-Jazeera. Dia mengimbuhkan, “Saya tidak menyangka air akan sampai di rumah saya dan tetangga saya. Di sekitar rumah saya bahkan lebih dari 40 rumah hancur oleh banjir.”


Alwaly Abdeljaleel, seorang warga Um Dawm lainnya mengatakan, “Orang-orang telah mengambil sisa-sisa harta mereka dan meninggalkan rumahnya. Rumah yang kami tempati sebagian telah hancur dan sebagian lagi hancur total.” Kondisi ini juga diperparah dengan diguyurnya kota Khartoum pada Minggu, (08/09/20) pada malam hari, yang juga menyebabkan debit air di Sungai Nil semakin meningkat.

Sementara itu, Dewan Keamanan dan Pertahanan Sudan mengumumkan untuk membentuk komite tertinggi penanganan banjir. (SUNA)


“Musim hujan di Sudan dimulai pada bulan Juni dan berlanjut hingga Oktober setiap tahunnya. Komite Penanganan Banjir memperingatkan pada hari Jumat bahwa negara kemungkinan akan menghadapi lebih banyak hujan, hal itu bisa dilihat dari kenaikan debit air di Nil Biru yang mencapai 17, 58 meter,” tukas Marwa Taha, ahli perubahan iklim kepada Al-Jazeera.

“Tapi tahun ini kami telah melihat peningkatan curah hujan karena perubahan iklim sehingga Sungai Nil lebih sering banjir dari sebelumnya. Selain itu, banyak pohon telah ditebang untuk dijadikan tempat pemukiman di dekat Sungai Nil, sehingga berpengaruh pada tempat air akan mengalir." [Falah Aziz]

Tidak ada komentar