Terhangat

Bagaikan Pelangi Setelah Hujan

 
Oleh Iffah Zehra*

Hidup memang tak seindah yang diinginkan, tapi juga tak seburuk yang dipikirkan. Inilah kehidupan yang penuh dengan keajaiban, kalau kita mau percaya dengan kekuatan Allah Ta’ala. Kisah ini pada mulanya berawal dari kehidupanku yang berlatar belakang keluarga sederhana. Namaku Zorian yang artinya kebahagiaan. Tujuan ayah dan ibu memberi nama ini agar aku dapat membawa kebahagiaan dan keharmonisan bagi ayah dan ibu. Pagi itu, tepatnya pada tanggal 27 Maret 2009. Suatu hati yang begitu menyenangkan sekaligus menegangkan bagiku karena aku akan mengikuti lomba cerdas cermat tingkat SMA se-Jawa yang berlangsung di Telkom University. Aku berangkat dan berpamitan dengan ayah dan ibu yang saat itu sedang sakit keras. Tak lupa, aku meminta doa agar aku meraih kemenangan.

Hari sebelumnya, timku berhasil menyingkirkan tim-tim lain dari sekolah lain sehingga kami dapat melaju ke babak final yang akan digelar hari ini. Ada 3 tim yang akan memperebutkan juara pertama, kedua, dan ketiga di babak final.

“Bersyukur banget sekarang udah sampai final nih. Kita pasti bisa!“ kata Andis penuh semangat.

“Jelas. Kita harus bisa menyelesaikan babak ini dengan hasil yang maksimal. Makanya, kita harus mantap menjawal soal nanti. Nggak boleh ragu. Pokoknya tekan cepat tombol belnya,” kata Pandu sambil memandangi aku dan Andis.

“Intinya, bismillah aja. Kita lakukan yang terbaik. Sisanya serahkan sama Allah,” kataku optimis.

Beberapa menit kemudian, lomba pun berlangsung. Lomba ini terdiri dari dua sesi. Sesi pertama, setiap tim harus memilih satu dari tiga amplop yang berisi soal 5 soal yang wajib untuk dijawab. Hasil dari sesi pertama menunjukkan Tim A (tim aku) bejumlah 20 poin, Tim B berjumlah 50 poin, Tim C berjumlah 25 Poin. Di sesi terakhir ini, setiap tim yang menjawab salah, akan dikurangi poinnya berjumlah 10. Tim A, B, dan C pun saling bersaing mengejar poin. Hingga pada akhirnya, pada soal terakhir suasana menjadi sangat menegangkan. Poin setiap tim berpotensi menjadi juara jika bisa menjawab soal dengan benar. Soal hitungan pun dibacakan sungguh sangat sulit untuk ditaklukan hingga memakan waktu yang lama dan belum ada tim lain yang menjawab. Aku dengan berani mengucapkan bismillah menekan bel dan seluruh pandangan tertuju padaku.

“Silakan Tim A menjawab,” kata pembaca soal.

“Jawabannya sebesar Rp1.889.000,” kataku dengan lantang.

Suasana perlombaan hening sementara dan jantungku terasa sangat ingin copot dari wadahnya.

“Jawabannya BENAR!” kata salah satu juri.

“Selamat kepada Tim A telah berhasil menjadi juara pertama dalam lomba cerdas cermat kali ini dengan perolehan nilai 80 poin. Untuk Tim B dan Tim C menjadi Juara 2 dan Juara 3.” Kata pembaca soal dengan semangat.

Akhirnya kami memperoleh piala, sertifikat, serta uang sebesar 5 juta rupiah. Maasyaa Allah, aku melangkah pulang dengan membawa piala, sertifikat, dan uang dengan rasa sangat bahagia dengan harapan uang tersebut akan kupakai untuk membiayai pengobatan ayahku.

Namun betapa terkejutnya bagai disambar petir, aku melihat orang-orang melantunkan ayat suci di dalam rumah. Sungguh, betapa hancurnya hatiku saat aku berdiri di depan rumahku. Terlihat jenazah Ayah sedang berbaring di ruang tamu yang diiringi lantunan ayat suci Al-Quran. Aku tak menyangka Ayah pergi begitu cepat, seolah ini hanyalah mimpi. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Nak, jangan bersedih. Tidak baik. Kita harus mengikhlaskan kepergian ayah. Ayah pasti sangat bangga denganmu, Nak.kata Ibu begitu tabah.

“Tapi, Bu. Uang ini untuk biaya pengobatan Ayah.”

“Nak, sudah. Niatmu sudah baik. Kita harus menerima takdir Allah. Uang ini kita sedekahkan saja untuk almarhum ayahmu, Nak.”

Memang benar ternyata, hidup tak seindah yang kita inginkan. Namun, tak seburuk yang dipikirkan. Bagaikan pelangi setelah hujan, semua yang ada di dunia ini bersifat sementara. Begitu pula ayahku yang hanya manusia biasa. Lalu, apa yang hendak dikejar?

♥ ♥ ♥

*Sekretaris Pelaksana Millennial Connect PPI Dunia 2020 

Tidak ada komentar