Terhangat

Ayahku, Belahan Jiwaku

Sumber: Ketut Subiyanto from Pexels

Oleh Iffah Zehra*

Jakarta, 26 Juli 2019

Ya, tiba juga. Hari ini adalah hari pertama  kalinya aku akan mengikuti MUN (Model United Nations) sebagai pembicara. Bayangkan! Akhirnya, tercapai juga cita-citaku bisa ikut MUN, walaupun akomodasi ditanggung masing-masing pribadi.

Selagi masih muda, apa salahnya aku ikut? Begitulah pikirku saat itu. Tak kusangka, aku lulus seleksi administrasi. Siang, aku berangkat dari Bandung diantar adik laki-lakiku, Pasha. Hmm, sebenarnya yang paling semangat untuk antar dan jemput itu ayahku, tapi kondisinya saat ini sedang tidak sehat dan harus berkali-kali ke rumah sakit.

Sebagai anak bungsu yang selalu jadi kesayangan, aku bertanggung jawab menemani ayahku. Ibuku masih bekerja di Malaysia sebagai TKW. Untung saja, ada Mbak Nadia yang bersedia menyediakan rumahnya untukku dan ayahku. Sebenarnya dulu aku sempat menolak penawaran Mbak Nadia, tapi aku juga tidak punya pilihan lain. Jadi, aku dan ayahku menyetujuinya. Aku kasihan pada ayahku kalau harus hidup sendiri di rumah, apalagi keadaannya sedang sakit.

Tapi, hari ini kudengar kabar bahwa kondisi ayahku mulai membaik.

Ayah, doakan Farah, ya. Besok mau presentasi di depan audience. Doanya ya, Ayah.

Ponselku kemudian bergetar. Ada Mbak Nadia menelepon.

Assalamu’alaikum. Ada apa, Mbak?”

Wa’alaikumsalam. Farah, kamu masih presentasi?”

“Tujuh menit lagi, Mbak.”

Kudengar dari suara telepon, ada suara berbisik-bisik di sana.

“Bisa pulang dulukah? Ini ayahmu mau ketemu sama kamu, Farah.”

“Waduh. Maaf, Mbak. Ini soalnya Farah bentar lagi maju tampil. Gimana?”

“Ya udah. Ini ayahmu mau ngomong sebentar. Katanya rindu sama kamu, Farah.”

“Halo, Ayah?“

Baru saja aku menyapa ayah, tapi telepon sudah tutup. Dadaku jadi terasa sesak. Kulihat layar ponselku. Ah, dasar! Ternyata kehabisan baterai. Bagaimana ini. Jantungku semakin berdebar-debar. Apakah kondisi ayah sedang memburuk sehingga dia ingin sekali bicara padaku?

Pikiran buruk terus berkecamuk dalam diriku. Sejenak aku tarik napas dan ingat nasihat ibuku kalau dalam keadaan apa pun kita harus selalu berperasangka baik. Rasanya aku semakin kesal bercampur perasaan bersalah. Ibu memberi nasihat semacam itu, tapi ia pun tak kunjung pulang melihat kami. Ditambah lagi hari ini ponselku mati. Apa yang harus kulakukan sementara aku sebentar lagi akan tampil presentasi, dan ayahku kabarnya samar-samar?!

Bandung, 27 Juli 2019

Perjalanan dari bandara ke rumah terasa sangat lama seperti jalannya siput. Jam terasa berputar lebih lambat dari biasanya. Sejak turun dari pesawat, sudah tak terhitung berapa kali Mbak Nadia menelepon.

“Macet ini, Mbak. Dua puluh menit lagi mungkin baru bisa tiba di rumah.”

Lambat semakin lambat, akhirnya tiba juga aku di rumahku. Aku jadi bingung, saat sampai di rumah. Ada tenda dan kursi-kursi plastik berjejeran di rumah Mbak Nadia. Aku turun dari taksi, berdiri seperti patung. Aku bertanya-tanya, sebenarnya ada apa?

Mbak Nadia keluar dari rumah dan menyambutku. Tak ada kata yang diucapkan. Ia hanya memeluk dan membawaku masuk ke rumah. Saat melangkah masuk ke pintu, mataku langsung menangis.

Ayahku, terbujur di tengah ruang tamu. Berselimut kain jarik.

Ayahku, pergi tanpa disaksikan aku dan ibuku.

Ayahku yang berhati emas. Kupegang wajahnya. Dingin. Sayup-sayup suara Pak RT meminta agar pemakaman segera dilaksanakan hari ini juga sebelum langit gelap.

Rasanya seperti angin yang menusuk tiba-tiba di kepalaku. Hari-hari ketika ayahku mengantar ke sekolah, ketika aku menemani di rumah sakit, senyum ayah yang selalu memberikan semangat kepadaku beberapa hari yang lalu sebelum aku berangkat ke Jakarta. Kini semua tinggal kenangan.

Dan penghujung bulan Juli ini, telah menjadi bulan tersuram yang tak terlupakan dalam hidupku.

♥ ♥ ♥

*Sekretaris Pelaksana Millennial Connect PPI Dunia 2020

Tidak ada komentar