Terhangat

5 Masjid Terindah di Turki


Oleh Hisyam Azhari*

Sebagai salah satu negara di dunia yang penduduknya mayoritas Muslim, Turki kerap menjadi tujuan utama pelancong-pelancong mancanegara. Terutama bagi para Muslim yang ingin menikmati indahnya masjid mulai dari peninggalan Kekaisaran Utsmaniyah sampai Kerajaan Selcuk Besar. Beberapa masjid memang masih dijaga kelestariannya oleh pemerintah setempat. Itulah yang menjadi daya tarik sendiri negara dua benua ini.

Masjid-masjid di Turki pada umumnya memiliki arsitektur yang unik setiap eranya. Misalnya masjid-masjid yang dibangun di masa Kekaisaran Utsmaniyah memiliki corak yang berbeda dengan masjid lain di masa setelah ataupun sebelumnya. Mari simak dan ketahui lebih banyak tentang masjid-masjid indah di Turki dari zaman ke zaman.

Pertama: Çamlıca Camii


Masjid ini baru saja diresmikan pada bulan Mei 2019 dan bisa menampung 63 ribu orang. Saat meresmikan masjid ini, Presiden Republik Turki, Recep Tayyip Erdoğan, menyampaikan salah satu fungsi masjid ini sebagai tempat berlindung umat. Menurutnya, masjid adalah tempat yang aman dari serangan. Meski saat itu dunia sedang digemparkan oleh aksi teror di masjid di Selandia Baru dan Sri Lanka.

Masjid ini memiliki gaya yang modern dan bisa dikatakan cukup futuristik. Meskipun mereka tidak meninggalkan corak yang sudah membudaya. Bahkan arsitek perancangnya mengatakan bahwa ia mengambil konsep masjid-masjid zaman Kerajaan Selcuk Besar. Masjid ini sendiri dilengkapi dengan enam menara, sebuah perpustakaan, ruang konferensi hingga pelataran yang luas. Masjid ini terletak di daerah Uskudar, Istanbul.

Kedua: Ortaköy Camii


Dibangun oleh arsitek bernama Nigoğos Balyan atas perintah dari Sultan Abdulmajid pada tahun 1853 dan selesai pada 1854. Letaknya yang menjorok ke selat Boshporus menjadi keindahan tersendiri bagi masjid ini. Bagaimana tidak, masjid ini seakan memisahkan benua Eropa dan Asia. Ketika matahari akan terbenam, cahaya langit senja melengkapi indahnya masjid ini. Memandangi benua Asia dari tepian benua Eropa sembari menunggu adzan maghrib berkumandang adalah cara yang tepat untuk menikmati indahnya masjid ini.

Ketiga: Sultan Ahmet Camii


Masih masjid yang berdiri kokoh di Istanbul. Masjid ini merupakan masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmet Pertama. Ada legenda yang mengatakan, Sultan Ahmet Pertama meminta kepada arsitek masjid ini, Arsitek Sedefkar Mehmet Ağa, untuk meletakkan emas di menaranya. Tetapi karena kesalahan penerimaan informasi, sang arsitek melakukan hal yang lain, yakni membuat enam menara. Dalam bahasa Turki, emas berarti altın. Sedangkan angka enam berarti altı. Atas kesalahan penerimaan informasi ini, Sultan Ahmet Camii atau yang juga dikenal sebagai Masjid Biru ini memiliki enam menara.

Masjid ini didominasi oleh warna biru yang menghiasi bagian luarnya. Sangat padu dengan warna laut yang berada tak jauh dari lokasi masjid ini berdiri. Itu adalah sebabnya mengapa masjid ini juga disebut sebagai Masjid Biru.

Keempat: Diyarbakır Ulu Camii


Masjid yang satu ini bisa dikatakan sangat unik. Masjid yang terletak di Diyarbakır, Turki ini awalnya didirikan pada tahun 639 oleh orang-orang Arab pada masa Umar bin Khattab yang menyebarkan Islam di daratan Anatolia. Jadi, ini adalah masjid tertua di daratan yang nantinya menjadi daratan yang menjadi saksi sejarah berdirinya kerajaan Islam terbesar pada beberapa abad setelahnya. Pada era Kerajaan Selcuk Besar, masjid ini sempat mengalami perbaikan atas perintah Raja Maliksyah pada tahun 1091. Dengan kata lain, meski pendiri awalnya adalah orang-orang Arab, karena dipugar oleh raja dari Kerajaan Selcuk Besar, masjid ini tetap memiliki corak unik dan berbeda dari masjid di daratan Arab pada umumnya.

Terakhir: Ayasofya


Ketika membicarakan masjid di Turki tanpa menyebut Ayasofya, rasanya seperti ada yang kurang. Ayasofya atau yang ditulis Haghia Sophia oleh literatur Barat awalnya dibangun bukan sebagai masjid. Bangunan ini pertama kali didirikan oleh Kaisar Konstantin dari Kekaisaran Romawi sebagai gereja pada tahun 337-361. Dalam bahasa Latin, Ayasofya berarti “Gereja Besar”. Namun, seiring penaklukan kota ini, bangunan ini beberapa kali dibangun ulang hingga pembangunan ketiga dilakukan oleh Kaisar Iustinianos dari Kekaisaran Romawi Timur. Bangunan yang dibangun oleh Kaisar Iustinianos inilah bangunan Ayasofya yang bisa kita nikmati sekarang. Satu hal unik lainnya mengenai Ayasofya adalah bangunan ini merupakan katedral terbesar sejak dibangun hingga tahun 1520, saat diselesaikannya sebuah katedral di Sevilla, Spanyol.

Bangunan ini juga menjadi saksi biksu penaklukan Bizantium oleh Sultan Muhammad Kedua atau yang lebih dekenal sebagai Sultan Alfatih dari Kekaisaran Utsmaniyah pada 1453. Saat itu, banyak penduduk Bizantium yang berlindung di dalam bangunan Ayasofya. Dengan kemuliaan Sultan Muhammad Kedua, ia menenangkan para penduduk yang ketakutan di dalam bangunan tersebut dan membiarkan mereka pulang dengan selamat. Beberapa hari setelah penaklukan, Sultan Alfatih memerintahkan pasukannya untuk mengubah fungsi bangunan tersebut agar bisa dipakai untuk salat Jumat. Setidaknya hingga tahun 1934, bangunan ini menjadi masjid indah dengan sejarahnya yang panjang.

*Mahasiswa S1 Universitas Uludag-Bursa, Turki

Tidak ada komentar