Terhangat

Terulang Kembali

Oleh Iffah Zehra* 

Sore ini hujan deras menyusuri jalanan Hotel Sahid Batam dan sekitarnya. Hujan deras beserta angin kencang itu membuat para ojek online enggan menerima orderan. Mereka lebih memilih berteduh di pinggir jalan dan juga warung makan. Iya, mencari aman daripada harus membahayakan diri sendiri demi upah yang tak seberapa.

Lalu, di sinilah Tifani, sedang berada di depan bank syariah tempat kerjanya sambil mencoba memesan ojek online langganannya.

Tiga puluh menit kemudian, gadis itu mendengus kesal ketika ia membaca sebuah pemberitahuan di layar ponselnya, yang lagi-lagi sama persis seperti sebelumnya.

Maaf, kami belum bisa mendapatkan driver untuk Anda. Kami akan mencobanya lagi.

5, 4, 3, 2, 1 ………

Pasha Ahmad

Satu nama muncul, tapi tak lama lewat lagi. Hingga akhirnya tertera nama Erlangga di profil ojek online tersebut. Ponsel gadis itu bergetar dan rupanya ada pesan dari driver ojek online itu melalui chat.

Erlangga

Ditunggu ya, Bu.

 

Tifani
Siap, Mas.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sampailah driver ojek online itu di lokasi penjemputan. Driver ojek online itu kemudian memarkir motornya.

Erlangga

Bu, saya sudah di depan ATM bank. 

 

Tifani

Oke, Mas. Saya menuju ke sana.

Balasan terkirim dan segeralah Tifani menuju ke ATM bank dan menemui sang driver. Saat berjalan, Tifani membuka telapak tangannya lalu menatap ke langit rupanya hujan telah berhenti. Menyisakan jalanan basah dan sedikit semilir angin yang membuat bau khas hujan semakin tercium. Di sana!

“Mas Erlangga, ya?” tanya Tifani memastikan, ketika ia sudah berada di dekat driver ojek online tersebut.

Laki-laki itu mendongak, mengalihkan sejenak perhatiannya dari layar ponsel.

Deg! Tifani terhenyak.

“Oh?”

Laki-laki itu hanya tersenyum dan  dan mengangguk. “Bu Tifani?” tanyanya balik.

“Iya, saya.”

“Ini, Bu. Helmnya,” kata Erlangga sambil menyerahkan helm yang terdapat logo dari ojek online tersebut.

“Makasih, Mas.”

Pakai helm selesai, kemudian yang dilakukan Tifani adalah menaiki motor itu.

“Sudah, Bu?” tanya Erlangga memastikan penumpangnya sudah duduk di belakangnya.

“Sudah, Mas.”

Mereka berdua pun akhirnya berangkat. Selama di perjalanan, pikiran Tifani berkecamuk. Ditambah lagi, lidahnya kelu. Apakah benar Erlangga adalah laki-laki yang sering ditemuinya di angkot satu tahun yang lalu mengenakan seragam SMA atau bukan.

Sedari tadi yang ia lakukan adalah mengecek profil dari driver ojek online tersebut. Beberapa kali dilihatnya, hanya untuk memastikan bahwa yang ia lihat itu tidak salah. Hening menyelimuti keduanya. Ketika gadis itu sedang asyik dengan pikirannya sendiri, suara Erlangga menghancurkan semuanya.

“Bu, kita mampir SPBU dulu isi bensin, nggak apa-apa, Bu?”

“Iya, nggak apa-apa, Mas.”

Setelah mengisi bensin, perjalanan kembali berlanjut. Tifani pun membuka percakapan.

“Sudah kerja atau kuliah, Mas?”

Erlangga menoleh sedikit lalu menjawab, “Saya masih kuliah, Bu.”

Ternyata salah orang! Raut wajah Tifani pun berubah mengecut.

“Memangnya kenapa, Bu?” tanya Erlangga penasaran.

“Mas ini mirip sama orang yang setahun lalu satu angkot sama saya.“

“Angkot mana, Bu?”

“Angkot 26, kalau saya nggak salah.”

Namun tak sampai semenit, Erlangga berkata lagi yang membuat raut wajah Tifani berubah 180 derajat. Ya, mood-nya kini lebih baik.

“Oh. Itu memang saya, Bu.”

Oalah!! Ternyata.”

Dahi Erlangga pun mengerut. Namun, merata kembali saat Tifani kembali mengajaknya berbicara. Erlangga tertawa kecil saat mendengar candaan receh yang dibuat Tifani sepanjang perjalanan.

Tifani terdiam sambil tersenyum tipis. Ia jadi teringat akan permintaan konyolnya sewaktu melihat Erlangga di jalan mengendarai motor setahun yang lalu. Waktu itu, Tifani bertemu Erlangga di halte bus, tempat biasa mereka menunggu angkot. Sayangnya, waktu itu pagi yang tak biasa karena  Erlangga yang biasanya naik angkot, tiba-tiba tidak naik angkot. Justru, naik motor dan dengan santai melewati Tifani begitu saja. Tifani sangat berharap bisa naik angkot sama-sama lagi dengan Erlangga, dan saat itu pula ia memendam permintaan konyol dalam hati.

Erlangga, andai saja aku bisa duduk di motor sama kamu ke sekolah. Pasti aku senang banget.

Tifani menggelengkan kepalanya mengingat kejadian itu ia kemudian kembali membuka percakapan setelah diam beberapa menit.

“Erlangga, aku Tifani.”

“Oh ya? Wah, kamu sudah banyak berubah.”

Sore itu rasanya senja menemani jingga dan lampu jalanan, kedua anak Adam akhirnya kembali dipertemukan setelah kejadian dulu. Lihat, semesta mulai bekerja dan kita tunggu saja bagaimana kisah selanjutnya.

♥ ♥ ♥

*Sekretaris Pelaksana Millennial Connect PPI Dunia 2020

Tidak ada komentar