Terhangat

Kisah Perempuan yang Memprotes Rasulullah dan Dibela Oleh Allah SWT

Oleh Suprianto

Khaulah binti Tsa’labah, adalah seorang sahabat perempuan yang cerdas dan memiliki paras cantik nan jelita. Ia diperistri oleh seorang laki-laki bernama Aus bin As-Shamit. Suatu ketika sang suami Aus bin As-Shamit melihat sang istri sedang melakukan shalat di rumahnya. Selama istrinya shalat, Aus terus memandanginya dari arah belakang. Ia sungguh terkesan dengan keindahan tubuh istrinya, terlebih ketika Khaulah sedang bersujud terlihat jelas lekuk bagian belakang tubuhnya yang membuat Aus sangat menginginkannya.

Ketika Khaulah selesai dari shalatnya, Aus mengajaknya untuk melakukan hubungan suami istri, namun Khaulah menolak. Atas penolakan ini, Aus marah besar hingga akhirnya keluar kalimat dari lisannya yang menjadikan Khaulah ditalak. Kepadanya dengan emosi Aus mengatakan, “Bagiku engkau laksana punggung ibuku!”

Dalam tradisi masyarakat Arab kala itu, menyamakan istri dengan punggung ibu suami adalah cara suami untuk menceraikan istrinya. Syekh Nawawi Al-Bantani memiliki catatan tersendiri yang perlu diketahui perihal perilaku seksnya Aus. Disebutkan bahwa Aus berhasrat terhadap perempuan dan menginginkan menggaulinya dengan cara yang tidak semestinya perempuan digauli, karenanya Khaulah menolak permintaannya itu. Atas penolakan ini Aus marah dan mengatakan, “Bila engkau keluar dari rumah sebelum aku melakukannya denganmu, maka bagiku engkau laksana punggung ibuku.” Usai mengucapkan kalimat itu Aus menyesalinya. Ia paham bahwa dengan kalimat seperti itu sama saja Ia menceraikan istrinya.

Pada saat itu, di masa jahiliyah belum ada hukum zihar. Kalimat zihar seperti itu masih dianggap dan dihukumi sebagai talak.

Adapun Khaulah tak terima bila ia diceraikan oleh suaminya, maka serta merta Khaulah mendatangi Rasulullah. Kepada beliau Khaulah menyampaikan, “Aus menikahiku saat aku masih gadis yang disukai banyak lelaki, kini setelah aku tua dan memiliki banyak anak, Aus menyamakanku dengan ibunya. Aku memiliki anak-anak yang masih kecil, kalau mereka aku serahkan kepada Aus, mereka akan tersia-sia. Kalau mereka aku yang mengurus, mereka akan kelaparan.” Dengan aduan itu, Khaulah berharap agar rasulullah tidak menghukumi talak atas hubungan perkawinannya dengan Aus, namun Rasulullah tetap menghukumi talak atas ucapan Aus tersebut. Khaulah masih belum mau menerima, Khaulah bersikeras, “Rasul, demi Allah Aus tidak mengatakan kalimat talak. Dia itu bapaknya anak-anakku. Dia itu orang yang paling aku cintai.” Ungkap Khaulah sekali lagi dengan nada datar.

Dalam hal ini, Rasulullah tetap bersikeras menghukumi talak atas Khaulah dan Aus, “Engkau haram baginya." Kata beliau. Lagi-lagi Khaulah tetap tidak mau menerima. Terjadilah perdebatan antara keduanya. Khaulah bersikeras untuk tidak mau dihukumi talak, sementara Rasulullah tetap dengan pendiriannya.

Sebagaimana diketahui, bahwa setiap kali ada permasalahan yang disampaikan oleh para sahabat kepada Rasulullah, maka beliau tidak akan menghukumi kecuali setelah adanya wahyu dari Allah. Demikian juga dengan kasus Khaulah ini. Karena tidak ada wahyu yang turun menyangkut kasus tersebut, maka beliau tetap menghukumi talak dan tidak menerima permintaan Khaulah untuk memutuskan hukum yang lain.

Melihat kenyataan bahwa keinginannya tak akan dipenuhi oleh Rasulullah, Khaulah tak berputus asa. Kepada Rasul  ia katakan, “Baiklah, akan aku adukan masalah ini kepada Allah!” Maka kemudian Khaulah menengadahkan kepalanya ke arah langit. Dengan suara lantang ia berseru, “ Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu. Turunkanlah solusi bagi masalahku ini melalui lisan Nabi-Mu!” Ia terus mengadukan masalahnya kepada Allah. Di saat seperti itulah wajah Rasulullah terlihat berubah. Kepada beliau turunlah ayat yang menghukumi bahwa masalah Khaulah dan suaminya itu adalah masalah zihar, bukan talak.

Seorang suami yang men-zihar istrinya dan berkeinginan untuk mencabut ucapannya, maka Ia tidak boleh menggauli istrinya kecuali setelah memerdekakan seorang budak. Bila tidak mampu memerdekakan budak, maka baginya berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Bila masih tidak mampu, maka memberi makan kepada enam puluh orang miskin.

Ayat yang turun atas permasalahan Khaulah ini adalah ayat 1-4 dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadalah.

Demikianlah Khaulah binti Tsa’labah. Perempuan dari kalangan sahabat yang tidak saja mengadukan permasalahannya kepada Rasul, tetapi juga kepada Allah. Sahabat perempuan yang aduannya didengar dan dikabulkan oleh Allah, dan karenanya ditetapkanlah hukum zihar dalam syari’at islam.

Kisah ini banyak ditulis oleh para ulama tafsir dalam berbagai kitab mereka. Di antaranya oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Al-Munir li Ma’alimit Tanzil.

Diceritakan dalam kisah lain bahwa suatu ketika saat Sayyidina Umar bin Khattab bersama beberapa orang yang berkendara menunggangi keledai, dalam perjalanannya mereka bertemu dengan Khaulah binti Tsa’labah. Khaulah kemudian menghentikan perjalanan Umar bin Khattab dan teman-temannya. Kepada Khalifah kedua itu Khaulah kemudian memberikan banyak nasihat yang kemudian didengarkan dengan seksama oleh Umar, Khaulah berkata, “Wahai Umar, engkau dahulu diundang dengan Umair, lalu kau dipanggil Umar, dan kini engkau diundang dengan sebutan Amirul Mukminin. Takutlah engkau kepada Allah, wahai Umar! Sesungguhnya orang yang yakin dengan kematian, maka ia takut kehilangan. Orang yang yakin dengan hisab, ia takut pada azab.”

Umar bin Khattab terus mendengarkan nasihat Khaulah, hingga ada yang mengatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mukninin, apakah engkau berhenti hanya untuk mendengarkan ucapan perempuan tua ini?” Mendengar ucapan tersebut Umar bin Khattab menjawab, “Demi Allah, seandainya perempuan ini menahanku dari awal hingga akhir siang, aku tak akan berhenti mendengarkannya kecuali untuk melakukan shalat maktubah. Tidakkah engkau mengenal siapa perempuan ini? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah. Allah telah mendengarkan ucapannya dari atas tujuh langit, bila Tuhan semesta alam mau mendengarkannya, pantaskah bila Umar tak mau mendengarnya?”

Sumber: Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an

Tidak ada komentar