Terhangat

Menyikapi Degradasi Kualitas Pendidikan Era Modern

Oleh Abdullah Azzam

Pendidikan memainkan peran utama demi kemajuan sebuah peradaban. Sejarah telah membuktikan hal tersebut. Asimilasi yang timbul dari budaya setempat dan pengaruh lingkungan eksternal melahirkan iklim baru yang menuntut kepala keluarga untuk semakin cerdas dan melek soal pendidikan. Arus globalisasi yang mengalir deras mengharuskan orang tua lebih waspada dan lebih selektif lagi dalam memilih metode pendidikan terbaik untuk buah hati demi membendung arus infiltrasi budaya barat yang banyak menyimpang dari identitas keislaman dan dari ciri khas masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi budaya luhurnya. Masalah demi masalah baru pun muncul seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Anggapan salah bahwa usia remaja adalah usia labil

Mari kita menengok 14 abad silam. Bagaimana sumber daya manusia pilihan ditempa di bawah bimbingan insan terbaik Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Setelah tiga belas tahun bersabar disiksa, diboikot, bahkan beberapa sampai terbunuh tibalah peletakan batu peradaban pertama itu dimulai. Fase 13 tahun di Mekah merupakan masa penanaman benih identitas keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya secara kaffah dengan segala konsekuensi yang harus dibayar lunas. Fondasi penting dan isyarat matangnya individu secara jasmani dan rohani untuk menerima beban syariat baik dalam ibadah, hudud (hukum), muamalah dan beban lainnya.

Tahun 2 H syariat jihad pertama (perang badar) turun yang sebelumnya dilarang saat fase Mekah demikian juga syariat puasa dan zakat. Artinya para sahabat butuh waktu 15 tahun untuk siap terjun ke medan jihad. Dari sini kemudian sebagian ulama berkomentar bahwa orang tua memegang peran penting dalam mendidik anak guna mempersiapkan generasi yang di usia 15 tahun sudah siap secara mental dan jasmani dalam mengemban amanah menegakkan syariat Allah di bumi-Nya. Hal tersebut didukung dengan dalil lain yang meriwayatkan bahwasanya Ibnu Umar yang ketika itu masih berusia 14 tahun belum diizinkan mengikuti Perang Badar oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dan baru diizinkan ketika berusia 15 tahun pada Perang Uhud.

Jikalau kita mendapati dalam ilmu psikologi produk Barat bahwa usia 15 tahun adalah masa pencarian jati diri yang biasa dikenal dengan masa pubertas atau masa transisi yang didominasi sifat labil maka dalam teori pendidikan Islam usia 15 tahun menjadi batas seorang individu sudah cukup secara mental dan jasmani untuk dibebani tanggung jawab syariat. Masa produktif di mana seseorang mulai menginjak usia dewasa. Contohnya Usamah bin Zaid yang di usia 18 tahun sudah di tugaskan menjadi komandan perang lintas negara. Mushab bin Umair yang belum genap 30 tahun sudah menjadi pendakwah sekaligus diplomat yang khusus dikirim Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke Madinah yang kemudian menjadi cikal bakal pusat peradaban Islam. Zaid bin Tsabit di usia remaja sudah menjadi penghafal sekaligus juru tulis Al-Quran, menguasai Bahasa Ibrani tak lebih dari setengah bulan, menguasai bahasa Suryaniyah tak kurang dari 17 hari, dll.

Monosentris pendidikan dan metode pendidikan ala Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Pemusatan alur pendidikan hanya pada lingkungan sekolah menambah deretan kegagalan lainnya. Banyak yang beranggapan bahwa seseorang bisa dikatakan intelek atau berkompetensi dalam bidang keilmuan bila lulus atau sudah menyandang gelar akademik sarjana, magister, atau doktoral. Sekolah atau Perguruan Tinggi didefinisikan sebagai satu satunya indikator yang mempunyai peran paling implisit dalam mencerdaskan generasi. Hal ini ditandai dengan ditambahnya jadwal belajar peserta didik, contoh pada tingkat SD ada yang sampai jam tiga sore. Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu tokoh pendidikan sudah lama mewanti-wanti bahwa ada banyak hal yang mesti menjadi konsentrasi bersama. Ia pernah mengatakan, “Setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah.” Hal inilah yang memelopori lahirnya trisentris pendidikan, yaitu selain melibatkan sekolah juga tak luput dari faktor keluarga dan masyarakat. Artinya semua faktor memegang peran penting atas kelestarian budaya keilmuan generasi selanjutnya. Akibat yang timbul dari monosentris ini adalah ketika kemudian sekolah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk sebab tertentu tidak lagi dapat menjalankan amanahnya. Seperti yang kita dapati beberapa hari yang lalu, seorang bapak terpaksa mencuri agar anaknya bisa tetap ikut kegiatan pembelajaran jarak jauh. Fakta miris yang memaksa kita kembali merenung dan peduli, bahwa pendidikan hari ini ternyata hanya diperuntukkan bagi golongan masyarakat tertentu yaitu mereka yang berduit.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai Nabi Terakhir juga mempunyai metode tersendiri. Mengingat saat itu belum dibentuk gedung sekolah atau madrasah maka alur pembelajaran tidak hanya berorientasi pada materi yang disampaikan di dalam masjid belaka namun juga proses alami yang berlangsung dalam keseharian. Tidak adanya ruang khusus yang mengikat pembelajaran memberikan peluang besar bagi anak untuk belajar banyak hal dari lingkungannya. Artinya seorang anak bukan hanya menimba ilmu dari kitab lebih penting dari itu mereka langsung ikut berpartisipasi dalam putaran roda kehidupan sebagai salah satu subjek. Hal ini juga mendorong anak bukan hanya menjadi pribadi yang berilmu tapi juga beradab.

Dewasa ini beberapa sekolah mulai menaruh perhatian terhadap pendidikan kecakapan hidup (life skill) sebagai sebuah terobosan baru, padahal metode tersebut sebenarnya sudah di pakai 14 abad silam oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Secara umum fungsi pembelajaran life skill adalah untuk memberikan bekal kepada seorang anak dalam menyelesaikan setiap permasalahan (problem solving) yang dia temui dalam kehidupan sehari-hari dengan membangun kreativitas, dan menggali potensi-potensi diri yang mungkin untuk dikembangkan.

Konsep pendidikan barat yang menyilaukan

Mari kita beralih ke benua Eropa tepatnya di bumi Andalusia yang dahulu menjadi kota destinasi ilmu pengetahuan dari seluruh penjuru dunia.

Kebangkitan keilmuan di barat sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak masih berdirinya kekhalifahan Umayyah di Granada, Spanyol dahulu Andalusia. Banyak pelajar mancanegara menimba ilmu di Andalusia dengan berbagai latar belakang.

Sejarah mencatat puncak kebangkitan itu bermula dengan runtuhnya Daulah Islamiyah di Andalusia tahun 1492 M karena kemudian kiblat keilmuan berpindah ke barat.

Dalam jurnal bertajuk PENDIDIKAN MASA RENAISSANCE: Pemikiran dan Pengaruh Keilmuan, Irfan Taufan Asfar menuturkan, “Renaissance merupakan titik awal dari sebuah peradaban modern di Eropa. Essensi dari semangat Renaissance salah satunya adalah pandangan bahwa manusia bukan hanya memikirkan nasib di akhirat seperti semangat Abad Tengah, tetapi mereka harus memikirkan hidupnya di dunia ini.

Manusia Renaissance ditandai dengan pemilikan ilmu pengetahuan lebih dari satu, maksudnya menguasai banyak ilmu pengetahuan. Agama menjadi hal yang hanya mengenai individu, perhatian orang lebih banyak ditujukan untuk dunia.

Renaissance mempunyai arti penting dalam sejarah kebudayaan Barat. Renaissance adalah masa kekuasaan, kesadaran, keberanian, kepandaian yang luar biasa, kebebasan dan seringkali semua itu tidak ada batasnya.”

Barat yang ketika itu mulai menjadi kiblat perkembangan ilmu pengetahuan modern agaknya membuat kita silau terhadap apa-apa yang datang darinya. Konsep pendidikan bertumpu pada akal manusia yang terbatas tanpa mengindahkan ajaran agama akibat dari trauma masa lalu perlakuan tidak layak yang di pelopori oleh gereja. Ini juga yang memelopori paham sekularisme yang menganggap agama adalah sesuatu yang bersifat individual dengan forum terbatas.

Manusia memang dibekali akal untuk menaksir kemungkinan-kemungkinan yang bersifat maddiyah (materi) juga di anugerahi hati yang berfungsi sebagai neraca berpikir mengiringi kinerja akal namun secara fitrah manusia tetap butuh tuntunan wahyu langit.

Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq At-Tarifi menyebutkan, secara umum ada dua hal yang melatar belakangi munculnya kesesatan ; Satu kebodohan dan yang kedua hawa nafsu. Kebodohan sendiri dibagi menjadi tiga ; Bodoh terhadap dalil, bodoh terhadap derajat keautentikan sebuah dalil, dan bodoh dalam memahami dalil.

Pendidikan hari ini yang banyak diadopsi dari Barat seharusnya perlu di koreksi lebih lanjut. Terutama pada infiltrasi paham sekularisme, liberalisme, dan paham menyimpang lain yang semakin menjalar dan mendarah daging.

Akhir kata, kaum muslimin seyogianya bukan hanya terbuai euforia romantika masa lalu dan harus mulai melihat ke depan. Setiap pihak terutama orang tua mau tidak mau harus mempunyai jiwa sebagai seorang pendidik yang baik yang bukan hanya menyediakan instrumen pembelajaran namun juga mampu mengajarkan ilmu dan adab. Perlunya memperkaya keilmuan dalam hal sejarah terutama sejarah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga memperkuat aqidah sebagai media untuk menanggulangi pemahaman dan kebudayaan barat yang banyak menyimpang.

Tidak ada komentar