Terhangat

Hitam Putih Senioritas


Oleh Muhammad Ismail

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Begitupun para siswa, mahasiswa, dan  pekerja yang membutuhkan arahan dari para pendahulunya untuk mendapatkan petunjuk. Kehadiran senior memudahkan tersalurnnya informasi-informasi dan budaya di suatu lembaga atau komunitas, ia menjadi role model untuk junior-juniornya di setiap perilaku dan tindakanya. Para senior juga menjaga rantai nilai-nilai yang ter-estafetkan dari para pendahulunya, sebuah kaderisasi yang terus tumbuh membuat suatu kegiatan, nilai, dan organisasi terus hidup.

Senior bukanlah malaikat yang hanya berisikan cahaya kebaikan, terkadang mereka memainkan otoritasnya seenaknya kepada junior-juniornya. Mulai dari mendikte jalanya para junior, memberikan rambu-rambu kehidupan tambahan disekitarnya, ingin terlihat hebat di depan para juniornya agar  disegani dan ditakuti. Terkadang senior menjadi sumber ketakutan para junior dalam melakukan segala hal, kebebasan junior terbatasi oleh otoritas sang senior. Tradisi dan budaya sebuah komunitas dan lembaga yang di pertahankan oleh para senior bukan hanya hal baik, tapi kekejian yang ia rasakan dari para pendahulunya merasa harus diberikan juga kepada para juniornya. Dan dengan bangganya mengatakan, “Kalian itu belum apa-apa, kami dahulu lebih parah, gak usah manja baru segini aja.” Haruskah rasa sakit itu terus mengalir dari generasi ke generasi karena alasan membentuk mental dan pola pikir? Mental dan pola pikir apa yang mau di bentuk sebenarnya? Zaman sudah berubah seharusnya luka lama bisa dimaafkan dengan rasa cinta dan kasih sayang, bukankah semuanya hanya sementara? Maka untuk apa mempertahankan yang akan hilang selamanya?

Korban-korban terus berjatuhkan setiap masanya dari senior kepada juniornya, dari tekanan mental, rasa intimidasi yang terus menghantui, luka fisik pun tak lepas kerap sering terjadi saat ini, bahkan menimbulkan kematian. Akibat kesakralan budaya dan tradisi yang dilanggar oleh junior membuat para senior memberikan hukuman yang tak pantas. Kebebasan yang terisolasikan oleh rasa takut dengan peraturan turunan. Sampai kapan ini semua akan berakhir? Atau sampai kapan ini ingin dipertahankan? Jika nilai itu baik maka pertahankanlah, namun jika buruk lebih baik dihilangkan untuk generasi yang lebih baik nantinya.

Keterbukaan dan saling menghargai antara senior dan junior menjadi salah satu solusi untuk persatuan yang lebih baik. Keangkuhan diantara keduanya juga harus dihilangkan karena setiap dari kita sama-sama memiliki hitam putih dalam jiwa. “Aku tidak lebih baik dari pendahuluku, karena dia telah lebih lama belajar, beramal, dan berpengalaman dariku. Aku pun tidak lebih baik dari mereka yang lebih muda dariku, karena mereka belum berbuat kejahatan, kesalahan, dan dosa sepertiku sekarang.” tegas sang pujangga.

Tidak ada komentar