Terhangat

Hakikat Kemerdekaan

Oleh Muhamad Irfandi

Jauh sebelum negara ini mengenal kata merdeka 75 tahun silam, kedatangan Islam 6 abad silam telah lebih dulu mengumandangkan seruan kebebasan, kemerdekaan, serta keadilan.

Kita bisa lihat tinta sejarah Islam dulu, bagaimana agama ini menentang perbudakan dan kesyirikan. Turun ayat-ayat keadilan sosial pada fase awal mengisyaratkan bahwa Islam tidak setuju dengan perbudakan dan penghambaan sesama makhluk.
Oleh karena itu Islam datang untuk melepas itu semua.

Silih berganti tahun, hakikat dari kemerdekaan itu sendiri telah mengalami pergeseran makna yang signifikan. Bahkan mereka mengartikan kemerdekaan sesuai dengan keinginan dan kepentingan belaka.

Ada yang mengartikan bahwa kemerdekaan itu adalah kebebasan beragama, sehingga terkesan melegitimasikan adanya Tuhan selain Allah, Karena mereka berasumsi bahwa umat manusia berasal dari satu leluhur yaitu keturunan Nabi Adam 'Alaihissalam.

Ada juga yang berpendapat kebebasan berpendapat dan berfikir sehingga memasukkan pemikiran-pemikiran yang sangat menyimpang dari ajaran Islam, bahkan sampai mentolerir ajaran yang tidak sesuai norma-norma Islam dengan menggunakan jargon hurriyyah (kebebasan) atau HAM.
Maka jangan heran pemikiran seperti ini akan menjadi cikal bakal pemikiran liberal, sekuler, feminism dan pemikiran menyimpang lainnya.

Apakah seperti itu hakikat dari merdeka menurut ajaran Islam?
Islam sudah menjelaskan kemerdekaan yang dimaksud, bukan seperti mereka yang mengartikan seenak sendiri.
Karena merdeka bukan berarti berbuat semaunya tanpa ada pengikat, kita harus memperhatikan juga rambu-rambu yang berlaku didalamnya.

Pada hakikatnya agama Islam adalah agama yang memberikan kemerdekaan kepada pemeluknya agar menjadi hamba yang benar-benar merdeka, karena agama ini datang untuk membebaskan manusia dari segala macam bentuk ikatan, terlebih menjadi budaknya manusia.

Maka kemerdekaan yang hakiki adalah mereka yang tidak mau menerima penghambaan dari hamba yang lainnya; membuat hukum untuknya, tidak merancang manhaj hidupnya, dan tidak ridha jika akal nya dipinjam oleh orang lain untuk menciptakan aturan hukum yang menyimpang dari hukum Allah.

Seperti contoh, jika kita bekerja di sebuah perusahaan. Lantas ketika masuk jam sholat, pemimpin perusahaan tidak mengijinkan kita untuk sholat apakah ini bisa kita katakan merdeka? Tentu saja tidak, karena dia masih terkekang oleh aturan hukum yang berlaku di perusahaan itu.

Ingin membangun gedung diharuskan memberikan tumbal karena kalau tidak akan ada jin dan hantu.

Punya anak, karena takut kenapa-kenapa, pergi ke dukun untuk minta dibuatkan penangkal agar anak sehat dan kuat.

Jadinya setiap tindak-tanduk perbuatan selalu terkait dan ketergantungan kepada makhluk. Benar-benar diperbudak, benar-benar tidak merdeka.

Islam menginginkan agar tidak ada penghambaan seorang hamba kepada hamba yang lainnya. Yang ada hanyalah penghambaan kepada Pencipta dan Penguasa Seluruh Hamba, yaitu Allah SWT. Ketika perang Qadisiyah, Sa’ad bin Abi Waqqash memerintahkan Rabi’ bin Amir untuk menghadap Rustum, panglima perang Persia. Rustum bertanya kepada Rabi’ tentang tujuan kedatangan pasukan Islam ke wilayahnya. Dengan lantang Rabi’ menjawab dan jawabannya itu dicatat dengan tinta emas oleh sejarah, ”Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesamanya kepada penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, serta dari kesewenang-wenangan kepada keadilan Islam.”

Selaras dengan yang di atas, Syaikh Ibnu Utsaimin di Syarah Al-Aqidah Al-Washithiyyah juga menjelaskan pengertian dari kemerdekaan,

أن العبودية لله هي حقيقة الحرية، فمن لم يتعبد له، كان عابداً لغيره

“Ubudiyah kepada Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, orang yang tidak menyembah kepada Allah semata, dia adalah hamba/budak bagi selain Allah.”

Kesimpulannya merdeka itu menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata, jadi bebas dari ketergantungan dan keterikatan makhluk dan itulah hakikat dari kemerdekaan ...

Khartoum, 16 Agustus 2020

Referensi tulisan :

Hakikat Kemerdekaan oleh Abdur Rasyid
Demokrasi vs Islam karangan Syeikh Abu Abdillah As-Sodiq ibnu Abdillah Al-Hasyimi

Tidak ada komentar