Terhangat

Fitri

Oleh Eny Choiriyah

Hari Raya tahun ini terasa ada yang berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Corona memaksa semua orang tetap tinggal di rumah (stay at home). Himbauan tidak boleh mudik membuat setiap orang harus bersabar menahan rindu pada orang tua, saudara, dan kampung halaman. Tak terkecuali diriku, meskipun selesai salat Ied kemarin aku langsung membuka aplikasi meeting Zoom agar bisa berjumpa dan bercengkerama bersama keluarga. Tetapi tetap saja berbeda rasa.

Tapi tak hanya itu yang membuatku gundah kali ini. Karena aku hanya ingin bisa lebih memaknai Hari Raya yang sebenarnya. Seperti tausiah dari Kyai yang selalu aku dengarkan secara online, bahwa sesungguhnya Hari Raya itu merupakan ungkapan rasa syukur kepada Gusti Allah. Menahan lapar dan dahaga selama 30 hari bukanlah menahan lapar dan dahaga biasa, tetapi untuk mengasah dan menajamkan empati kita terhadap orang yang tidak mampu yang sering menahan lapar dan dahaga. Bisa pula bermakna sebagai Hari Kemenangan karena berhasil mengendalikan hawa nafsu serta penyucian segala dosa.

Namun kini seakan  ada kenangan yang tidak biasa serta membuatku serasa belum merayakan kemenangan Ramadan yang sesungguhnya. Satu tahun yang lalu, ya aku masih ingat betul rentetan peristiwa itu. Menyeretku pada sebuah tanya dan selalu memberi pias panas pada wajahku ketika mengingatnya.

“Mbak, Mbak Denok, Mbak Denok sudah dengar kalau Mbak Fitri pulang?” Suara heboh dan berisik Dyah memecah suasana sore yang syahdu.

Beberapa detik aku merasa terkesiap antara kaget sekaligus tidak percaya dan spontan dengan nada sedikit membentak aku bertanya, “Kamu jangan asal bicara! Mana mungkin Mbak Fitri pulang, besok katanya ada ujian.”

“Ah, Mbak Denok ini, serius, Mbak, sepertinya tidak kembali lagi. Tadi keluarganya bantu packing barang. Aku nggak berani mendekat mbak, sepertinya serius banget, wajah mereka pada tegang semua. Kelihatan buru-buru. Pamit sama kita aja juga sambil lalu. Teman-teman sampai bengong dibuatnya, suasananya terasa tidak nyaman, jadi kita juga tidak berani tanya macam-macam. Mbak Denok tahu ada apa dan kenapa Mbak Fitri pulang mendadak?”

Serbuan pertanyaan yang dilontarkan Dyah itu tentu saja juga berputar-putar di kepalaku. Memang aku ahli perbintangan yang bisa menjawab semua pertanyaan Dyah? Ketemu dan tahu Mbak Fitri pulang saja justru dari Dyah. Huft… Keringat dingin, gelisah, rasa tidak nyaman, bercampur aduk dalam diriku. Padahal yang aku tahu Mbak Fitri besok ada ujian dari kursus bahasa Inggris yang dia ikuti. Mbak Fitri sudah lulus kuliah setahun yang lalu dan tidak berniat pulang. Sepertinya ingin bekerja di kota tempat menimba ilmu ini. Beberapa kursus diambil untuk menambah skill-nya. Ada kursus public relation, bahasa Inggris, dan juga komputer.

Busyet ini orang ditanya malah ngelamun. Helloooo Mbak Denoookkkk pliss deh ah!” Lamunanku ambyar seiring suara berisik dan lambaian tangan Dyah tepat di depan wajahku.

Euleh.. eulehhh… kamu tuh yang aneh... sudah berisik kasih pertanyaan gak logis.” jawabku sambil beranjak dari kursi meja kerjaku dan berjalan keluar kamar. Mencari hawa segar karena mendadak kamar kosku yang seluas 3x4 meter berasa sesak dan panas.

Depan kamar yang menghadap ke jalan dan berada di lantai 2 ini membuatku suka sekali dengan kamar ini. Kamar ini serasa surga duniaku saat ini, sehingga aku sangat kerasan meski sudah empat tahun lebih aku menyewanya. Teman-teman kos suka ngerumpi pada sore dan malam hari di depan kamarku karena view-nya yang indah. Ketika melongok keluar, terlihat gunung di kejauhan, serta pemandangan ketika pulang kuliah sore. Tak ketinggalan juga pemandangan berupa cowok-cowok penghuni kos lainnya. Deretan rumah disini memang kebanyakan tempat kos para mahasiswa atau mahasiswi yang mencari ilmu di Kota Suwar-Suwir ini. Teman-teman kos biasa cekikikan saat membahas para tetangga kos yang berseliweran di depan. Meski aku malas nimbrung diantara mereka, tapi tidak bosan aku mendengarkan obrolan mereka tentang tetangga kos yang ada didepan itu. Sebaliknya, justru menjadi hiburanku juga... hehehe.

Baru kuhirup satu tarikan nafas, Dyah sudah memburu dan membuntutiku di belakang. Dia bersiap mencecarku lagi dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang jelas-jelas nggak mungkin aku bisa menjawabnya.

“Mbak Denok kan teman dekat Mbak Fitri masak gak tahu, sih… atau kemarin sebelumnya sudah cerita ke Mbak Denok tapi dirahasiakan? Iya betul gitu ya, Mbak… ayolah Mbak cerita dong.” sergah Dyah yang membombardirku seperti senapan mesin dengan segudang pertanyaan.

“Ya Allah kenapa sih kok masih ada makhluk model kayak gini, selalu kepo dengan kehidupan orang lain, sudah bernafas…hidup lagi!” Lama-lama pusing juga aku dibuatnya.

 “Dyah... yang cantik ginuk-ginuk, begini ya sayang… aku benar-benar tidak tahu dan aku masih shock dengan apa yang baru saja kamu sampaikan. Paham?” pungkasku sambil memencet hidungnya yang tidak terlalu mancung itu.

“Bohong… Mbak Denok pasti tahu tapi emang gak mau cerita… awas ya… kita putus sudah… huh!” rajuk Dyah dan berlalu meninggalkan aku sambil ngedumel dengan rasa tidak percayanya dan kecewa setelah gagal mengorek keterangan dariku.

Yeee tukang kepo… sudah sana kerjakan tugas sekolahmu yang bener gak usah ngurusin urusan orang dewasa.” Pesanku sedikit menggoda Dyah. Oh ya, Dyah itu merupakan tetangga ibu kos yang tinggal dan ikut kos di rumah ini yang sekaligus menjabat sebagai pengganti pengawas induk semang. Sedang ibu kos yang asli tinggal beda kecamatan yang jauhnya sekitar 20 kilometer dari rumah ini.

“Mbak Denok gak asyik akh…wekkk!” Dyah melengos sambil menjulurkan lidah serta mengepalkan tangan sebelum berlalu dari hadapanku. Dyah masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), paling junior namun sedikit berkuasa karena diberi kepercayaan pemilik rumah untuk menjadi pengepul uang kos yang disetorkan penghuni kos setiap bulan. Ibu kos saat datang untuk ambil uang sewa kamar dari seluruh penghuni kos cukup menerima setoran dari Dyah.

Perginya Dyah dari hadapanku justru meninggalkan berjuta tanya yang kembali menyergap kepalaku. Berasa kram otak saja. Mbak Fitri yang mahasiswi jurusan Sastra asli Sidoarjo itu merupakan sosok yang pendiam, cool, calm, dan suka menonton olahraga yang mengadu adrenalin seperti roadrace dan balap mobil Formula 1. Kedekatanku dengannya bermula dari kenalnya aku dengan teman-teman seangkatan Mbak Fitri yang aktif di organisasi jurnalistik. Beberapa kali juga ramai-ramai menonton pertunjukan teater yang sering digelar mahasiswa jurusan Sastra.

Aku sendiri merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di salah satu perguruan negeri yang terkenal di kota ini. Meskipun aku kuliah di FISIP yang biasa dibilang sebagai sekolahnya orang suka debat, aku juga menyukai dunia teater dan jurnalistik. Bermula dari merintis karir sebagai jurnalis kampus, akhirnya sebelum lulus aku dilamar kakak kelas untuk dijadikan wartawan salah satu anak cabang grup media besar di Jawa Timur. Alasannya, jika selama ini aku hanya menjadi jurnalis level kampus tanpa ada salary, maka bagaimana menjadi jurnalis yang mendapatkan fee dari jerih payah yang lumayan. Sontak saja aku menerima tawaran itu dan segera tancap gas dan ngebut mengerjakan tugas akhir yang hampir berakhir itu supaya bisa segera bekerja yang berhonor. Keharusan menuntaskan tugas akhir merupakan syarat mutlak dari orangtua yang tidak bisa ditawar ketika aku minta restu untuk bekerja. Mungkin mereka khawatir jika aku sudah merasakan enaknya mendapatkan uang sendiri justru jadi malas menuntaskan studi yang tinggal sejengkal. Akhirnya selesai juga skripsiku, selanjutnya langsung bertugas di sebuah media yang berjudul Bahana.

Banyak bergaul dengan para senior yang rata-rata aktivis dengan idealis yang tinggi, tak terasa sangat mempengaruhi pribadiku sebagai seorang wartawan. Tanpa rasa takut dan sungkan, aku selalu siap menjadi jurnalis yang kritis terhadap setiap policy dan memberitakan setiap kasus-kasus yang tidak menguntungkan masyarakat luas, utamanya masyarakat kelas bawah. Pertama menjadi wartawan sungguhan (maksudnya bukan sekedar wartawan kampus),  aku ditempatkan di kantor kabupaten meski juga diberi keleluasaan untuk hunting berita di wilayah lain.

Suatu ketika, aku mendengar desas desus seorang oknum dosen yang menyalahgunakan profesinya untuk memperdaya mahasiswi yang hendak mengajukan skripsi. Konon oknum dosen ini meminta imbalan kepada mahasiswi untuk mau diajak BBS (Bobok-Bobok Siang) agar skripsi mereka lolos dan bisa lulus dengan mudah. Naluri kewartawananku tergelitik untuk menemukan kebenaran isu tersebut, apalagi isu ini menyangkut nama besar almamater yang selama ini aku bangga-banggakan. Tentu ini tantangan yang tidak mudah, apalagi berkaitan dengan aib yang disandang para korban (mahasiswi).

Mungkin sudah menjadi keberuntunganku sebagai jurnalis baru. Saat jurnalis lain kesulitan untuk menemukan saksi korban yang bisa dijadikan sebagai kunci untuk mengungkap kebobrokan perilaku mesum itu, tanpa diduga datang kepadaku seorang saksi kunci yang dengan sukarela memberikan kesaksian, atau tepatnya mengeluhkan ketidakberdayaan dirinya.

Perang batin pun sulit aku hindarkan antara terus mengungkapkan dan menulisnya sebagai karya jurnalistik atau menyimpan rapat-rapat hanya untuk diri sendiri saja. Dilematis ini bukan tanpa alasan, korban ini adalah sosok yang aku kenal baik. Diantara tumpahnya air mata karena tangisan dan luapan emosional, secara runtut korban ini menceritakan kronologis nestapa yang dialaminya. Bagiku kisah pilu ini bagai petir disiang bolong. Seringnya cerita tentang ketidakadilan, kejahatan dan sebagainya, bahkan yang sampai mengoyak nurani kemanusiaan, menjadikanku terbiasa dengan cerita dan fakta seperti itu. Namun, tidak dengan menimpa orang yang sungguh sangat kukenal dengan baik.

Pikiranku kacau tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap orang di depanku ini. Tangisnya yang kian pecah seiring mengakhiri cerita dukanya itu benar-benar menyayat hati. Saat itu aku hanya bisa memberikan beberapa helai tisu untuk mengusap air matanya, dan selanjutnya aku memeluknya dengan erat, sekedar untuk memberikan semangat agar tetap tabah dan sabar dengan penderitaan yang sedang dialaminya. Padahal aku sendiri tidak bisa membayangkan andai aku yang mengalaminya. Saat ini mampuku hanya duduk lemas, energiku entah menguap kemana.

Postur tubuh tinggi besar, proposional dengan potongan rambut ala Dora, mata belok, lembut, sabar, manja sedikit tomboy dalam berpakaian tentu menjadi impian para kaum hawa. Tubuhku yang jauh lebih mungil dari postur tubuhnya, agak menyulitkanku untuk memeluknya. Namun demikian, tak menyurutkan sebagai sesama wanita untuk ikut sakit hati marah kecewa terhadap perilaku biadab yang dialaminya. Pelukan hangatku padanya serasa mampu membuatku bersikap bak penuh semangat untuk melindungi. Meski sejenak hampir hanyut turut dalam keputusasaan, namun hati kecilku tetap berontak untuk bisa memberikan semangat pada korban pelecehan seksual oknum dosen tadi.

Mbak Fitri adalah saksi korban dan sekaligus saksi kunci itu. Hingga kini aku masih belum mengerti mengapa tiba-tiba Mbak Fitri  bercerita tentang aib yang menimpanya kepadaku.  Tentu tidak mudah bagi Mbak Fitri untuk bisa leluasa bercerita, karena itu aku merasa terhargai karena merasa dipercayanya. Karena itu pula aku sangat menghargai apa yang sudah Mbak Fitri lakukan. Emosiku sebagai sesama wanita yang hampir tidak terkendali, memaksaku untuk sesaat cooling down agar tidak mempengaruhi obyektivitas berita yang akan aku tulis.

Sementara aku mencoba menangguhkan keinginan menulis tentang kasus pelecehan seksual yang dialami Mbak Fitri sampai pikiranku benar-benar tenang. Setelah aku bisa menenangkan diri, dengan tekad bulat aku memulai merangkai kronologis dan menurunkannya menjadi berita yang dimuat di media tempatku bekerja. Rasanya seperti melemparkan bom waktu ke almamaterku sendiri. Hanya dalam hitungan hari bom itu pun meledak …blaaaaaaarrrrrr…

Hari ini aku pulang cepat karena sudah mendapatkan bahan tulisan untuk disetor sebagai bahan berita. Namun baru saja mau memejamkam mata sejenak untuk membuang lelah,  teriakan Dyah membuyarkan cita-cita ingin istirahat siang ini. “Mbak Denok…Mbak Denokkk ada yang nyari tuch, cewek lima orang!” teriakan keras Dyah memanggilku dari lantai bawah seakan membangunkan seluruh penghuni kos yang sedang istirahat siang.

“Iya, Dyah, makasih ya, centil… minta tolong suruh nunggu sebentar, sebentar lagi aku turun!” jawabku dengan sedikit rasa kesal.

Segera aku pakai jilbabku dan berlari turun menemui tamu yang diteriakkan Dyah tadi. Dyah menyambutku di bawah tangga dengan monyongnya yang dimanyunkan serta alis dan mata yang penuh isyarat tanya. Aku hanya mengangkat bahu saja atas pertanyaan dan rasa ingin tahu Dyah. Sedikit mengernyitkan dahi karena dari lima orang cewek itu satu orang samar-samar aku pernah lihat tapi lupa dimana.

Assalamualaikum, Mbak. Ada apa ya mencari saya? Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku sabar, meski dalam hati penuh lelah dan sekaligus juga heran.

Walaikumsalam. Maaf mengganggu waktunya sebentar. Apa benar adik bernama Denok wartawan di Media Bahana?” ucap salah satu cewek paling tomboi dan sepertinya dia menjadi pimpinannya.

“Ya betul, Mbak… ada apa ya?” Gusar juga akhirnya aku dan tidak sabar menunggu penjelasan mereka. Sambil bertanya aku bersalaman dan mempersilakan mereka duduk sedangkan aku di pinggir sendiri menghadapi lima cewek yang aku tidak kenal ini.

“Kenalkan namaku Reni dan ini semua teman-temanku fitness. To the point aja ya, Dik. Terkait berita dua hari lalu tentang dosen BBS yang adik tulis itu. Adik kenal dan tahu bagaimana dosen tersebut?”

“Tidak kenal dan apa maksud tahu bagaimana dosen oknum itu apa ya, Mbak? Saya tidak paham,” jawabku dengan menduga-duga maksud tujuan lima cewek ini.

Senyum sinis tersungging dari sudut bibir cewek bernama Reni, dan diikuti keempat temannya itu. “Hemmm… Ok, boleh aku tahu apa maksudmu menurunkan berita itu? Asal kamu tahu ya… dosen itu mempunyai kekuatan supranatural. Bisa kamu melawannya? Kamu sok mau jadi pahlawan? Apa sih sebenarnya yang kamu inginkan? Apa yang kamu cari? Mau jadi terkenal, begitu?” cerocos Mbak Reni dengan tempo cepat. Seakan tidak ingin memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskan semua pertanyaannya.

“Memangnya dengan begini selesai urusan? Apa yang menjadi targetmu? Menghakimi dosen yang sakti itu, dan merusak masa depan Fitri? Kamu bisa mengembalikan harapan hidup Fitri?! Bisa kamu menghentikan kelakuan dosen itu?! Bullshit!”

Gemas jengkel ada dalam nada yang sedikit ditekan dalam ungkapan Mbak Reni yang ditujukan untukku. Sekali dua kali aku mau membuka mulut ingin memberikan penjelasan tapi hatiku menyuruhku untuk diam terlebih dahulu. Karena tidak ada gunanya meladeni orang yang sedang emosi. Cukup aku dengarkan semua bentuk kekesalan dari Mbak Reni yang ternyata adalah teman-teman Mbak Fitri ini.

“Sudah begini saja…tolong diingat ya… ini kita berlima masih bisa bersabar. Tapi jangan salahkan kalau nanti ada temen-temen cowok kami yang berniat melukai Dik Denok yang tidak terima Dik Denok sudah menghancurkan hidup Fitri. Paham?” ancam Mbak Reni.

“Iya Mbak saya paham. Saya siap terima resiko,” ucapku tanpa sempat memberikan jawaban semua amukan dan pertanyaan yang dilontarkan.

“Oke, sudah itu saja yang perlu saya sampaikan. Assalamualaikum.” katanya pamit Mbak Reni tanpa mengajak salaman dan berlalu begitu saja bersama teman-temannya.

Aku duduk termangu memejamkan mata sejenak dan mengambil nafas sambil ku tahan beberapa detik agar memenuhi otakku dan kuhembuskan kembali secara perlahan.

“Mbak Denok…what happened? Are you OK?” bisik Dyah yang tetap saja meski berbisik membuatku terlonjak kaget.

Masya Allah bikin kaget saja kunyuk ini…huft!” sungutku menjawab bisikan Dyah.

Yaelahhh… kan aku lihat Mbak Denok lagi pejam mata ya aku bisik-bisiklah takut ngagetin eh ternyata masih aja tetep bikin kaget…salah terus aku ini di mata Mbak Denok.” kata Dyah merajuk.

Haish, sudah, aku mau rehat sebentar… next time saj ceritanya, oke?” jawabku sambil berdiri dan berlalu dari hadapan Dyah tak lupa mencubit pipi tembem Dyah.

Auuuughhh…wow dasar jahat…Mbak Denok gak seru sama sekali ah!” teriak Dyah.

EGP… mau seru, mau asik, mau ini mau itu suka-suka gue dong…herrrr.godaku pada Dyah.

Dyah melemparku dengan kerikil hiasan yang ada di vas bunga meja ruang tamu. Aku berkelit dan berlari menuju tangga sambil menyeringai penuh kemenangan.

Langkahku serasa lunglai menaiki tangga menuju kamar. Lemas karena pikiran yang berkecamuk ada dalam kepalaku. Kuhempaskan tubuhku di kasur dengan pandangan menerawang jauh mengurai peristiwa yang baru saja terjadi.

Semenjak berita itu turun, aku tidak melihat Mbak Fitri di kos-kosan lagi. Aku pernah bertanya pada sebagian penghuni kos dan tidak ada yang tahu ke mana perginya Mbak Fitri. Karena aku memakai inisial untuk korban pelecehan seksual dari oknum dosen tersebut jadi untuk sementara seluruh penghuni kos tidak ada yang tahu kejadian yang menimpa Mbak Fitri. Hanya teman-teman dekat Mbak Fitri saja mungkin yang tahu. Aku tidak takut dengan segala ancaman teman-teman Mbak Fitri. Niatku hanya satu yaitu kedholiman tidak harus didiamkan agar tidak ada korban lagi. Bodoh amat dengan ketakutan semua orang yang mengatakan kalau oknum dosen tersebut mempunyai ilmu klenik. Seperti yang pernah disampaikan Mas Alex, salah satu dari beberapa teman jurnalis.

“Denok, kamu berani sekali, kamu tidak takut?” tegur Mas Alex seniorku yang mengajakku masuk bekerja di Media Bahana ini.

“Takut kenapa mas?” tanyaku heran.

Bwadalah…oknum itu orangnya sakti. Dia punya pengawal ada sebelas yang …(dua jari tangan mas Alex bergerak mengkode tanda kutip), kita sudah beberapa kali mencoba mengungkap tapi selalu gagal karena… Ah, sudahlah, semoga kamu baik-baik saja Denok…jaga diri kamu, ya.”  pesan Mas Alex sambil menepuk pundakku.

Kota tempatku merajah ilmu memang terkenal dengan hal-hal mistik. Aku bukan tidak percaya namun aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan tidak lebih. Aku tidak terima dengan kedholiman ini. Semua harus dihentikan. Tidak menyerah begitu saja, setidaknya mencoba dahulu apa salahnya? Menurutku kalau semua takut dan mendiamkan akan semakin merajalela. Akhhhh…erghhhh… kram otak..kram otak…

Nada dering lagu Glenn memanggil. Sedikit malas kuangkat ponselku. “Assalamualaikum…ya ada apa Yud?” sapaku lemah ketika tahu yang menelepon adalah Yudi. Jurnalis berambut gondrong yang dekat denganku karena seangkatan masuk di Media Bahana. Kita sering sharing masalah pekerjaan.

“Denok, ada berita kurang sedap. Dengar-dengar kampus mau ada sidang intern terkait berita yang kamu tulis. Kamu siap kan kalau dipanggil kampus? Perlu aku temani?”

Terdengar nada kuatir Yudi.

Aku tersenyum kecut. Tapi aku harus siap menghadapi semua karena ketika aku menulis berita itu artinya aku harus siap berperang. Baiklah.

Insha Allah siap Yud. Sudah tidak apa-apa, bantu doa saja, ya.pintaku pada Yudi.

“Makasih sudah kasih tahu kabar ini, ya.lanjutku.

“Serius kamu bisa sendiri? Ini teman-teman menyuruh aku untuk menemani kamu. Teman-teman membicarakan kamu dari kemarin. Sebagian menyesalkan kenapa kamu gak ajak kita buat bikin berita seri. Karena kita masing-masing punya bahan yang bisa ditulis secara bersambung kupas tuntas saling melengkapi dari bahan-bahan yang ada di teman-teman.” protes Yudi.

“Iya, maaf, kemarin itu menuruti ego gender saja, Yud. Sampaikan maafku pada teman-teman, ya. Kemarin aku memang sedang chaos mau lanjut atau tidak menurunkan berita itu. Oke, nanti sore aku ke kantor untuk setor berita sekalian ngobrol masalah ini, thanks ya, Yud, aku rehat dulu, ya. Assalamualaikum.” Kututup telepon tanpa menunggu Yudi membalas salamku. Aku tahu pasti Yudi paham dengan sikonku yang sedang galau.

Tok tok…suara pintu kamarku diketuk dari luar.

“Nok, boleh aku masuk?” Suara lembut Mbak Fitri di balik pintu.

Allahu Akbar. Aku langsung meloncat turun dari ranjang dan segera membuka pintu kamarku.

“Mbak Fitri. Aku─”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat sudah ditubruk pelukan Mbak Fitri.

“Sudah jangan banyak bicara. Aku tahu maksud kamu, Nok, aku hanya ingin memelukmu.” gumam Mbak Fitri lirih dibalik punggungku. Aku terpaku beberapa detik.

Lepas dari pelukan Mbak Fitri aku pandang wajahnya dan mencari-cari jawaban yang aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang aku cari. Wajah Mbak Fitri flat dan hanya menunjukkan lelah. Itu saja, tak lebih.

“Besok lusa aku ujian TOEFL. Doakan ya, Nok!” pinta Mbak Fitri dengan memanggil namaku dengan panggilan sayangnya.

Be the best…always we pray for you, Mbak Fitri.Janjiku pada Mbak Fitri.

“Sudah makan siang? Mau makan bareng, Nok?“

Tawaran Mbak Fitri yang aku rasa hanya basa-basi. Karena yang kulihat adalah wajah lelah Mbak Fitri. Sepertinya Mbak Fitri juga tidak ingin membahas apa yang ingin aku sampaikan.

“Mbak Fitri istirahat saja, sepertinya Mbak Fitri lelah sekali. Nanti malam saja ya makan bareng, Mbak.” tolakku halus supaya Mbak Fitri istirahat saja.

Mbak Fitri mengangguk pelan. Tersenyum tipis dan tangannya mengacau rambutku dengan manja, khas kebiasaan Mbak Fitri kalau gemas denganku. Aku tertawa kecil dan mendorong Mbak Fitri untuk keluar kamarku dan menyuruhnya rehat.

“Sudah Mbak Fitri rehat. Besok prepare ujian. Jangan kemana-mana, ya. Pulang kerja aku belikan makanan kita makan di kamar Mbak Fitri saja. Janji ya?” kataku sambil menyiapkan jari kelingking untuk dikaitkan tanda deal rencana besok bersama Mbak Fitri. Mbak Fitri mengangguk dan mengkaitkan jari kelingkingnya dengan kelingkingku.

Hari ini setelah kemarin aku makan malam dan berbincang santai tanpa menyinggung sedikitpun berita yang aku tulis, Mbak Fitri pulang tanpa pamit.

Oh My God, ada apa dengan Mbak Fitri. Apa artinya kemarin malam adalah perpisahan denganku? Mengapa dia tidak marah seperti yang dilakukan oleh teman-teman Mbak Fitri lakukan padaku? Seharusnya Mbak Fitri yang lebih berhak marah denganku dibanding teman-temannya. Tapi justru sebaliknya Mbak Fitri tidak melakukan itu. Hanya saja nyeri yang aku rasakan adalah aku belum sempat meminta maaf dan tidak tahu alasan Mbak Fitri pulang yang begitu mendadak. Sehari dua hari seminggu dua minggu tidak ada kabar dari Mbak Fitri, nomor ponselnya juga tidak aktif, sepertinya ganti nomor. Penghuni kos juga tidak ada yang tahu alamat rumah Mbak Fitri. Seperti hilang ditelan bumi. Jeleknya di kita memang jarang bertukar alamat kos, karena merasa aman dengan bekal nomor handphone, ada apa-apa kan tinggal pencet nomor, selesai. Kalau sudah begini kan jadi kelimpungan juga.

Keriuhan berita yang aku tulis memang berlanjut meski di rumah kos tetap tidak ada yang mengetahui kasus ini. Selama tiga hari aku tidak bisa menulis berita. Tiap depan laptop berasa mati pikiran padahal bahan berita sudah ada disampingku. Aku hanya bisa memandang kertas itu dengan nanar. Menatap laptop yang tidak bisa memberikan inspirasi untuk memulai berita yang aku rangkai. Aku seperti orang linglung. Tiga hari berturut-turut teman-teman membantu menuliskan beritaku karena aku tidak sanggup dalam menyelesaikannya.

Sempat bertemu dengan Kepala Humas dari kampus almamater tempat oknum dosen bekerja pada sebuah acara jumpa pers launching pelatihan public relation. “Orang yang nulis berita itu emang benar-benar bego ya." ucapnya sinis seolah-olah berbicara secara umum namun diakhiri tatapan mata tajam ke arahku layaknya elang yang menyambar mangsanya.

Yudi dan Mas Alex akhirnya memaksa aku untuk menuruti mereka datang ke seorang Kyai. “Buat apa to, Mas, Yud? Aku tidak apa-apa. Aku sehat dan baik-baik saja,” tolakku ketika awal mereka menyampaikan niatnya.

“Iya tahu, paham, tapi ini bukan hanya masalah untuk dirimu saja. Tapi saling berkaitan, Denok. Jangan keras kepala. Jangan egois. Rentetannya seperti labirin. Sulit untuk memutus kalau tidak dengan cara ini.” urai Mas Alex.

Demi menghormati Mas Alex dan Yudi, aku pun menuruti apa kata mereka. Seorang Kyai masih belum cukup untuk menghentikan serangan magic kepadaku. Selain juga proses yang dilakukan oleh pihak kampus katanya masih terus berjalan, yang katanya akan memanggil diriku untuk sidang. Baru setelah Kyai yang kedua tiba-tiba semua seperti disirep (bahasa Jawa, dihentikan). Hilang lenyap seakan-akan semua orang dibungkam untuk tidak membahas kejadian ini lagi.

***

Setahun berlalu. Aku sudah resign dari pekerjaan jurnalis dan memulai kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan jurnalistik. Terjun ke dunia pendidikan dan melanjutkan studi di pasca sarjana di Kota Apel. Niat hati ingin melupakan peristiwa itu. Namun, setiap Hari Raya Idul Fitri aku selalu merasa menjadi orang yang belum fitri.

 

 

1 komentar: