Terhangat

Tiga Pesan Rasulullah SAW terhadap Diri Sendiri yang Harus Kita Ketahui


Oleh A. Setiawan*

Menjaga diri dari berbagai perkara yang dapat merugikan diri sendiri adalah sesuatu yang sangat penting. Berapa banyak orang yang melakukan perkara-perkara yang membuat dirinya merugi bahkan lalai. Waktu yang Allah karuniakan bisa-bisa habis terlewat begitu saja.

Waktu pun habis tanpa ada nilai-nilai kebaikan yang berbekas dan melekat pada dirinya. Lebih-lebih berupa kebaikan yang dapat dirasakan orang lain. Rasulullah SAW telah memberikan contoh terbaik dalam menjaga diri terhadap perkara tersebut.

Tiga perkara yang Rasulullah SAW jaga terhadap dirinya. Perkara ini sudah familier (akrab) di telinga kita. Perlu kita ketahui bahwa ketiga perkara ini dapat berakibat fatal terhadap diri sendiri, jika itu sudah melekat pada diri.

Rasulullah SAW sangat menjaga agar tidak terjerumus ke dalam perkara-perkara ini. Apa saja perkara-perkara tersebut? Selengkapnya, silakan disimak!

Penulis mengutip dari kitab syamail muhammadiyah ‘kesempurnaan pribadi Rasulullah Muhammad SAW’ karya Imam Tirmidzi dengan judul "Keagungan Pribadi Rasulullah SAW" terjemahan dari kitab  "الشمائل المحمدية والخصائل المصطفوية".

Dalam kitab tersebut, Hasan Bin Ali bertanya kepada ayahnya Sayyidina 'Ali tentang akhlak Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya, maka Sayyidina 'Ali  pun mengatakan ;

قد ترك نفسه من ثلاث : المراء, والإكثار, وما لا يعنيه
…. روه الترمذى

"… Baginda menjaga diri dari tiga perkara : Berdebat, menyombong diri, dan melakukan perbuatan tidak bermanfaat …". (H.R. Tirmidzi)

Tiga perkara inilah yang semestinya juga harus kita jaga agar tidak terjerumus ke dalamnya. Kalau kita bisa menjaganya, insyaallah kesempatan di dunia ini tidak akan berakibat kesia-siaan belaka.

Pertama, Menjaga Diri dari Berdebat.
Bertukar pikiran tentang suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat itulah berdebat (KBBI V). Dua kubu yang saling menganggap kebenaran miliknya dan saling pertahankan pendapatnya. Tidak jarang perdebatan akan berakhir dengan permusuhan, kalau tidak diikuti dengan akhlak yang benar.

Debat semacam itu kita kenal dengan istilah debat kusir, yaitu debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal (KBBI V). Perdebatan semacam ini jika dilanjutkan juga tidak membuahkan hasil yang baik, bahkan malah menimbulkan kegaduhan, ketegangan, hingga menimbulkan permusuhan. Peribahasanya 'Kalah jadi abu, menang jadi arang', dan 'arang habis besi binasa'. Insyaallah paham, yaa!

Kecenderungan kita untuk menang sudah menjadi sifat manusiawi, apalagi terhadap hal-hal yang krusial (penting). Kendati demikian ada kalanya kita memilih 'kalah untuk menang'. Sama halnya dengan perdebatan, boleh bahkan sangat dianjurkan agar meninggalkan perdebatan meskipun kita benar.

Meninggalkan perdebatan bukan berarti kita kalah. Seseorang yang menjaga diri dari perkara berdebat tersebut, berarti ia sudah mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Kalau kita meninggalkan perkara debat kusir ini, maka Allah SWT akan menyediakan istana yang megah di tepian surga kelak di akhirat, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

 عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ. رواه ابوداود.

Dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi Surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah Surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau, dan aku juga menjamin rumah di Surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (H.R. Abu Daud).

Syekh Abdul Muhsin dalam kitab Syarah Sunan Abi Daud menegaskan, "Kalau hendak berdebat, maka berdebatlah dengan memperturutkan akhlak, yakni tidak berdusta, tampakkan akhlak yang mulia dalam berdebat, maka balasannya adalah surga yang paling tinggi (Hasanah, 2019)."

Berkenaan dengan akhlak ketika berdebat, Allah SWT juga menegaskan dalam firman-Nya yang berbunyi :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q.S. An Nahl :125) 

Jadi, sebisa mungkin kita tinggalkan berdebat, apalagi sudah tampak dalam perdebatan tersebut tidak lagi memperturutkan akhlak dan alasan yang masuk akal. Meninggalkan perdebatan berarti menyiapkan istana di tepian surga.

Kedua, Menjaga Diri dari Kesombongkan

Sombong tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, akan tetapi agar lebih mantap lagi dalam memahami definisinya, penulis sudah mengutip hadis yang menjelaskan sombong tersebut, Rasulullah SAW bersabda :

"لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر" فقال الرجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا, ونعله حسنة? قال: "إن الله جميل يحب الجمال الكبر بطر الحق وغمط الناس" روه مسلم.

"Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada setitik saja dari kesombongan”, kemudian ada seseorang berkata : “Bagaimana dengan orang yang suka memakai baju dan sendal yang bagus”. Nabi saw. Bersabda, Allah itu indah dan menyukai keindahan, sementara sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (H.R. Muslim)

Sifat sombong, angkuh, dan lain sebagainya adalah sifat yang semestinya dijauhkan dari dalam diri setiap mukmin. Aa Gym dalam ceramahnya menuturkan dengan tegas tentang kesombongan, yaitu :

"Orang-orang sombong lebih sibuk membela dirinya walaupun salah dan lebih sibuk menyerang orang lain. Itu indikator kesombongan seseorang, tidak tahan mendengar masukan, saran apalagi kritis, marah. Ciri lain orang sombong adalah menganggap remeh orang lain. Dia merasa mulia dengan harta, gelar, pangkat, kedudukan yang dia miliki dan menganggap orang lain lebih rendah dari dirinya."

Aa Gym melanjutkan dengan mengatakan "Kesombongan adalah kebodohan, bodoh tidak tahu siapa tuhan, bodoh tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, bodoh tidak mengerti bagaimana hidup mulia sesungguhnya. (Gymnastiar, 2017)

Sangatlah buruk manusia yang berperilaku sombong, sebab yang boleh sombong hanyalah Allah SWT. Lagi pula apa yang mau kita sombongkan, kekuasaankah? Tidak,  Fir'aun yang jauh lebih kuasa dari kita, lalu Allah binasakan. Kekayaankah? Tidak, Qarun lebih kaya juga binasa karena sombongnya. Kekuatankah? Tidak, kaum Tsamud lebih kuat dari kita, mereka pun Allah binasakan. Mereka sombong dengan menolak kebenaran yang diserukan oleh para rasul Allah.

Kita juga harus hati-hati dengan perkara sombong yang tanpa sadar kita lakukan. Apa itu? Yakni sombong akibat sudah berbuat baik kepada orang lain (sombong dalam kebaikan), ia merasa dirinya lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain (Ansori, 2016). Kesombongan seperti ini harus kita wanti-wanti sebab ia perlahan dengan kepastian  menggerogoti hati seseorang.

Kesombongan ini harus kita tinggalkan, sebab Allah SWT tidaklah menyukai seseorang yang memelihara kesombongan dalam dirinya. Allah SWT berfirman yang berbunyi :

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (Surat Luqman, Ayat 18)

لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡتَكۡبِرِينَ

"Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong." (Surat An-Nahl, Ayat 23)

Kesombongan jugalah yang mengeluarkan Iblis dari surga. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kalian kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al Baqarah: 34).

Salah satu upaya untuk menghilangkan rasa sombong, yaitu dengan mengetahui bagaimana tawaduknya orang-orang yang Allah Ta'ala limpahkan karunia yang 'luar biasa sempurna', tetapi mereka tetap taat kepada Allah Ta'ala.

Nabi Sulaiman A.S. misalnya, kerajaan yang dimilikinya tidak ada bandingan dengan kerajaan makhluk lain di alam ini, begitu juga kekuasaannya, kekuatannya, kepandaiannya, tetapi semua itu tetap menjadikannya hamba Allah yang tawaduk 'merendah hati kepada manusia' dan 'merendah diri kepada Allah'.

Rasulullah SAW juga sangat terkenal ketawadukannya. Maharnya kepada Sayyidah Khadijah saja 100 unta merah (satu unta merah seharga mobil sport), juga kekuasaan, jabatan, dan kelebihan-kelebihan lainnya tidak membuat baginda sombong. Karunia yang Allah Ta'ala berikan tersebut tetap menjadikan baginda tawaduk, sederhana dan berwibawa.

Ketawadukan Nabi Sulaiman A.S. dan juga Rasulullah SAW adalah bukti kesempurnaan perwujudan keimanan kepada Allah SWT yang sebenar-benarnya. Laa haula wala quwwata illa billah 'tiada daya upaya melainkan dari Allah Ta'ala'.

Selain itu, upaya yang kita lakukan untuk mengikis kesombongan ialah dengan mengingat kematian, bahwa kita pasti akan wafat dan tinggal menunggu giliran saja, entah kapan? Kita tidak tahu. Ingat! Yang kita bawa saat meninggal hanyalah selembar kain putih dan amal-amal shaleh saja. Terputuslah seluruh kenikmatan dunia ini saat datangnya maut.

Upaya berikutnya ialah dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki adalah semata-mata titipan Allah SWT Harta, jabatan, kekuasaan, kekayaan, keturunan, kepandaian, semua itu nanti pada masanya pasti Allah cabut. Mari! Kita sadari dan pahami lagi kalimat dzikir ini Laa haula wala quwwata illa billah 'tiada daya upaya melainkan dari Allah Ta'ala'.

Ketiga, Menjaga Diri dari Perkara yang Tidak Bermanfaat.

Perkara yang kita lalui tentu banyak sekali macamnya. Apakah semua perkara itu bermanfaat? Tidak semua bermanfaat, makanya kita harus pilih-pilih mana yang kira-kira memberikan manfaat dan mana yang kurang bahkan tidak berfaedah.

Tahu tidak?  Bahwa Islam sudah dari dulu mengajarkan kita untuk meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Yuk! Kita simak dulu hadisnya yang berbunyi :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ نَصْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا : حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَمَاعَةَ ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ ، عَنْ قُرَّةَ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ ".
هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ.
حكم الحديث: صحيح

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda ; “Diantara tanda kebaikan keIslaman seseorang, jika ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (H.R. Timidzi : 2317)

Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA. menegaskan, bahwa perkara yang tidak bermanfaat itu ukurannya adalah syariat, di antaranya dengan meninggalkan perkara yang haram, makruh, dan juga kemubahan yang berlebihan (Zaen, 2008).
Coba kita merenungi sejenak, apa saja kegiatan kita kemarin selama 24 jam? Sudah terbayang yaa! Berapa jam waktu yang kita gunakan untuk melakukan hal yang manfaat? Tentu lebih banyak waktu yang bermanfaat ketimbang waktu yang kita sia-siakan, Insyaallah.

Banyak hal yang bermanfaat, misalnya bekerja, berkreasi, dan berinovasi. Bisa dengan menghasilkan sesuatu sebagai buah pikiran, bisa juga dengan membuat (melakukan) penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat) dan lainnya yang bermanfaat.

Banyak juga hal yang tidak bermanfaat, misalnya tidur berlebihan, mengobrol berlebihan, buka media sosial berlebihan, dan lain-lain sebagainya.

Memikirkan yang tidak penting juga merupakan perkara yang tak berguna, Solikhin Abu Izzuddin penulis buku best seller "Zero to Hero" dalam bukunya "New Quantum Tarbiyah" menyebutkan, bahwa ada ulama yang melewati suatu bangunan yang megah. Nah! Terlintaslah dalam pikiran ulama tersebut beberapa pertanyaan mengenai bangunan itu. Setelah beberapa saat ulama tersebut langsung beristighfar (menyesali perbuatan tersebut) sebab telah memikirkan hal yang tidak berguna.

Nah, bagaimana dengan pikiran kita! Berapa banyak pikiran-pikiran yang sia-sia telah menemani kita? Tentu banyak sekali. Berapa banyak waktu yang kita habiskan hanya untuk memikirkan hal yang tidak membawa faedah? Sangat banyak. Ayoo! Mari kita benahi lagi waktu-waktu yang masih ada. Kita harus dapat mengefisienkan waktu sebaik mungkin.

Di sisi lain ada rahasia yang terkandung dari pesan Rasulullah SAW ini. Hemat penulis rahasia di balik meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat tersebut ialah mendorong kita agar produktif hingga menorehkan karya-karya yang menampakkan sempurnanya syariat Islam sebagai rahmatan lil’alamin ‘rahmat bagi seluruh alam’. Kita lihat bagaimana penduduk dunia pun ikut merasakan dampak positif yang di torehkan oleh para pembawa risalah Islam.

Lihat saja dari zaman Rasulullah SAW hingga zaman keemasaan Islam, dimana zaman-zaman itu pemahaman keIslaman sangatlah sempurna. Lahirlah ahli-ahli Quran, Hadits, Fikih, dan lain sebagainya.

Pada masa keemasan Islam juga lahir Al-Farabi  ahli filsafat (Wafat 339 H / 950 M) , Ibnu Sina ahli kedokteran (Wafat 428 H / 1037 M), Ibnu Al-Haitsami  ahli optik (Wafat 430 H / 1039 M), Al-Idris ahli geografi (Wafat 560 H / 1165 M), dan Ibnu Khaldun ahli sosiologi (Wafat 808 H / 1406 M), juga masih banyak ilmuan muslim selain mereka (Badwi, dkk. 2008). Mereka dikenal bukan hanya di "Dunia Islam", tapi juga di "Dunia Barat".

Ulama-ulama di atas adalah bukti bahwa Islam ini rahmat bagi seluruh alam, keilmuan mereka menjangkau seluruh aspek kehidupan yang didasari dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Banyak sekali karya-karya mereka, hingga membawa pada kejayaan dan keemasan Islam, lalu lahirlah peradaban Islam yang gemilang.

Kita juga tahu bahwa orang-orang Barat pun berbondong-bondong belajar kepada ilmuan-ilmuan muslim. Mereka mulai mempelajari bahasa Arab, kemudian menerjemahkan buku-buku yang berbahasa arab ke berbagai bahasa. Setelah itu bangkitlah dunia Barat, kita kenal dengan renaissance (kebangkitan dunia Barat).

Perlu kita ketahui juga kebiadaban mereka yang tak ingin Islam lebih luas lagi pengaruhnya, maka mereka pun berupaya menghapuskan jejak-jejak literasi karya-karya fenomenal ulama-ulama kita yang sudah mereka pelajari. Mereka juga merusak pemikiran umat Islam dengan ghozulfikr (perang pemikiran).

Hasilnya kita lihat sekarang, berapa banyak umat Islam (milenial) yang tidak tahu ilmuwan-ilmuwan muslim. Mereka hanya mengenal Imam Syafi'i, Imam Bukhari, dan segelintir ulama lainnya. Ironisnya mereka pun (milenial) ikut mencela ilmuwan-ilmuwan muslim yang sudah berjasa dalam dunia Islam (termasuk sains). Kewaspadaan harus kita tingkatkan dalam menyikapi ghozulfikr ini.

Terlepas dari itu semua, hemat penulis baik ilmuwan Islam ataupun Barat sangatlah baik dan efisien dalam menggunakan waktunya. Mereka juga meninggalkan perkara yang tidak berfaedah. Sekarang tinggal kita pilih, mengikuti jejak mereka yang banyak memberikan manfaat atau bersikap masa bodoh saja? Tentu pilihan kita ialah mengikuti jejak mereka agar produktif dan bermanfaat terhadap orang lain dengan berbagai kreasi dan inovasi.

Penulis menekankan agar kita dapat menjauhi perkara yang tidak bermanfaat ini, maka kita harus memperhatikan lagi peringatan dari Allah SWT yang berbunyi :

وَٱلۡعَصۡرِ
"Demi masa"

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ
"Sungguh, manusia berada dalam kerugian"

إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." (Surat Al-'Ashr, Ayat 1-3)

Tinggalkanlah perkara yang tidak bermanfaat dengan beramal shaleh. Mulailah tuliskan apa saja yang kita citakan, mulailah rencanakan apa yang akan kita impikan kedepannya. Impian dan cita-cita yang sudah kita tuliskan mulailah satu persatu berusaha kita tunaikan (kerjakan) dengan langkah-langkah yang sudah kita rancang. Ingat! Buktikan bahwa kita benar-benar mencita-citakan dan mengimpikan hal-hal yang sudah kita tuliskan.

Solusi lain agar kita dapat meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat ialah dengan disiplin waktu. Dalam sehari semalam tetapkan waktu-waktunya, kapan waktu bekerja? Kapan waktu baca Quran? Kapan waktu menyambung silaturahmi? Kapan waktu membuka media sosial? Kapan waktu baca buku (menambah wawasan)? Kapan waktu rekreasi? Kapan waktu olahraga? Kapan waktu murajaah (mengulang-ulang) hafalan dan pelajaran? Kapan waktu muhasabah diri (introspeksi)? Tulis waktu-waktunya dan disiplin terhadap waktu yang sudah kita tetapkan.

Kita juga harus memfokuskan pada hal-hal yang memang menjadi spesialis kita. Coba renungi lagi berapa banyak diskusi yang kita ikuti? Berapa banyak buku-buku (spesialis kita)  yang sudah kita bahas? Jangan-jangan kita malah lebih banyak buka media sosial sebagai hiburan saja ketimbang memperdalam dan mempertajam spesialisasi kita. Ingat! Waktu terus berlalu, hari ini tak akan terulang lagi, maka jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin. Kelalaian hari ini jadikan bahan pembelajaran untuk memperbaiki hari-hari berikutnya. Berusahalah menjadi orang yang beruntung dalam mengarungi samudra kehidupan ini.

Itulah tiga perkara yang harus kita jaga terhadap diri sendiri. Jangan sampai perkara-perkara tersebut ada pada diri kita. Ayoo! Segera kita tinggalkan debat kusir, kesombongan, dan perkara yang tidak bermanfaat. Isi waktu kita dengan produktivitas, kreativitas, dan inovasi. Selamat bekerja semoga sukses dan berkah.


Daftar Pustaka

  1. Abu Izzuddin, Solikhin, New Quantum Tarbiyah, Yogyakarta : Pro-U, 2009.
  2. Badwi, Sayyid Muhammad, dkk. Alkitabul Asasi Fii Ta’liimil Lughatil Arabiyah Lighairinnatiqiina Biha, Tunisia: Munadzamatul Arabiyah Littarbiyah Watsaqafah Wal ‘Uluum, 2008.
  3. Tirmidzi, Keagungan Pribadi Rasulullah Saw, Pulau Pinang: IPII, 1430 H.
  4. Aplikasi  KBBI V For Android.
  5. Aplikasi Al-Quran For Android.
  6. Aplikasi Kutubut Tis’ah For Android.
  7. Ansori, Bahron, Larangan Berlaku Sombong dalam Kehidupan, dalam minanews.net, dikutip pada 12 Juni 2020.
  8. Gymnastiar, Abdullah, Aa Gym Kuliah Satu Menit "Bahaya Sombong", dalam youtube akun Aagym Official, dikutip pada 10 Juni 2020.
  9. Gymnastiar, Abdullah, Jangan Menjadi Orang yang Sombong, dalam youtube akun Aagym Official, dikutip pada 10 Juni 2020.
  10. Nurhasanah, Annisa, Sabda Nabi Agar Meninggalkan Debat Meskipun Benar, dalam Bincangsyariah.Com, dikutip pada 8 Juni 2020.
  11. Rintisan Indonesia, Perbedaan Orang Sibuk dan Produktif, dalam Instagram @Rahmah.Bookaholic, dikutip pada 7 Juni 2020.
  12. Zaen, Abdullah, Penjelasan Hadis Arba’in ke Dua Belas: Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat, dalam Muslim.Or.Id , dikutip pada 11 Juni 2020.
*Mahasiswa Mahad Lughah pada Khartoum International Institute for Arabic Language (KIIFAL) di Sudan

6 komentar:

  1. ok lanjuktan dakwah mu akhina

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah konten dn diksi yg dipakai bagus, Lama ga melihat di kampus staipi jkt ternyata sudah pindah ke sudan,

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, penjelasannya sangat mudah dipahami..
    Saat membaca artikel ini, seakanakan terbayang wajah antum sedang berbicara di depan ana..

    Semoga karya ini menjadi asbab turunnya Rahmat Allah kepada antum dan para pembacanya
    Amiiin

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, penjelasannya sangat mudah dipahami..
    Saat membaca artikel ini, seakanakan terbayang wajah antum sedang berbicara di depan ana..

    Semoga karya ini menjadi asbab turunnya Rahmat Allah kepada antum dan para pembacanya
    Amiiin

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah, penjelasannya sangat mudah dipahami..
    Saat membaca artikel ini, seakanakan terbayang wajah antum sedang berbicara di depan ana..

    Semoga karya ini menjadi asbab turunnya Rahmat Allah kepada antum dan para pembacanya
    Amiiin

    BalasHapus