Terhangat

Manuskrip dan Mistikisme

Oleh Benny MS

Jika kita mengacu pada KBBI, manuskrip adalah naskah tulisan tangan yang menjadi objek kajian filologi, namun pada kenyataannya seringkali manuskrip atau naskah dianggap benda sakral yang tidak boleh sembarang orang lihat atau sentuh, ini tidak terlepas dari pemahaman lama yang sudah turun-temurun ada di masyarakat dan kurangnya informasi terkait naskah tersebut.

Saya pun tidak terlepas dari anggapan di atas, Sebelum mendapat informasi yang cukup saya pun mengira bahwa naskah naskah lama yang ditulis tangan di atas lontar, dluwung, ataupun kertas “kuno” lainnya pastilah berisi hal hal yang sakral dan mengandung mistikisme, baik mantra atau “bacaan-bacaan”,  pernah suatu ketika teman saya di SMA diberi “bacaan” oleh gurunya berupa lipatan kertas yang dipercaya dapat memikat lawan jenisnya. Ini tidak terlepas dari stigma yang beredar pada masyarakat umumnya bahwa benda-benda yang sudah berumur harus disakralkan dan memiliki daya magis tertentu, tanpa kita tahu isi atau substansi dari benda tersebut.

Pemahaman saya lama kelamaan bergeser seiring dengan bertambahnya informasi yang saya dapatkan, puncaknya adalah ketika saya mendapat tugas filologi yang mengharuskan saya meneliti langsung apa kandungan dari naskah yang saya pilih di perpustakaan nasional, jatuhlah pilihan saya kepada naskah berjudul الى خطبةعيدين. Dengan dibantu oleh beberapa teman, saya mencoba mengkaji isi dari manuskrip ini, banyak informasi unik dalam tradisi tulis menulis zaman dahulu yang saya dapatkan, salah satunya yakni manuskrip bukanlah berisi hal hal yang harus berbau mistik ataupun mengandung tulisan yang memiliki kekuatan magis, ditambah juga informasi dari kawan-kawan kelas saya yang mendapat tugas serupa dengan saya, bahwa naskah yang mereka teliti berisikan puisi, silsilah keluarga, fikih, dan sebagainya.

Kejadian unik pun pernah dialami salah satu pengajar di kampus saya di mana beliau datang ke satu desa di Jawa Barat untuk melihat naskah yang dibungkus oleh kain putih, naskah itu sangat disakralkan oleh warga setempat, dan bundelan putih berisi naskah itu selalu diberikan kepada kepala desa yang baru setiap pergantian kepala desa, setelah beliau dan timnya mengkaji isi dari naskah yang ada dalam bundelan tersebut barulah diketahui bahwa naskah itu berisi catatan administrasi desa pada masa lampau, maka dari itu selalu diserahkan kepada kepala desa yang baru di setiap pergantian.

Tentu di belahan Nusantara lain masih banyak kejadian serupa seperti yang saya tulis di atas, peran filolog cukup besar untuk meluruskan stigma-stigma yang beredar di masyarakat dan memberi informasi yang terkandung di naskah, tentunya dengan mengedepankan tindakan persuasif dan penjelasan yang rasional rasanya dapat diterima oleh masyarakat hari ini, walau pasti ada tentangan dari masyarakat yang tetap meyakini hal yang sudah lama diyakini. 

Manuskrip الى خطبةعيدين (khutbah ila iydaiin) 

Naskah dengan judul الى خطبةعيدين dengan kode 282 IIa ini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, lantai 9,  bagian layanan koleksi naskah Nusantara. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, judul naskah ini berarti “Untuk Khutbah 2 Hari Ied”. Kondisi naskah cukup baik namun ada beberapa huruf  yang sudah tak terbaca tulisannya, tapi secara keseluruhan masih dapat dipahami. Naskah ini dikarang oleh Syekh Kamanu bin Walid Muhammad, tidak terdapat informasi di mana tempat dikarang atau diterbitkannya naskah ini.

Naskah yang ditulis dengan bahasa Arab fushah ini berisikan tentang teks khutbah sholat Ied yang mengajak para pendengarnya merefleksikan kembali makna hakiki daripada Idul Fitri dan Idul Adha. Ada beberapa hal unik yang menjadi perhatian saya, salah satunya catatan kaki daripada naskah ini, jika umumnya karya tulis saat ini memiliki catatan kaki di bawah paragraf terakhir pada suatu halaman, naskah ini memiliki catatan kaki di bagian sebelah kiri kertas yang ditulis ke bawahnya dengan tidak beraturan.



Tertulis di catatan kaki bulan dan tahun kelahiran dari pengarang.
Manuskrip dengan 12 halaman ini pada halaman pertama terdapat 8 baris tulisan, halaman kedua sampai halaman terakhir berisi sekitar 20-21 halaman, naskah ini tidak terdapat satu pun gambar atau hiasan.

Secara garis besar manuskrip khutbah ila iydaiin adalah mengajak kita untuk kembali merefleksikan makna hakiki daripada hari Idul Fitri yang kita rayakan. 

Refleksi hari raya Idul Fitri dari manuskrip khutbah ila iydaiin 

Belum lewat dari sebulan umat muslim merayakan hari raya Idul Fitri 1441 Hijriah, hari yang identik dimana sebagian dari kita mengenakan pakaian baru nan trendy, berkumpul bersama sanak keluarga walau sebagian besar tidak dapat berkumpul dikarenakan pandemi Covid-19, makan makanan lezat di hari itu, segala sesuatu yang berbeda dibanding hari biasanya, namun bukan berarti yang tidak melakukan hal hal diatas tidak merayakan Idul Fitri, ada baiknya kita kembali merenungkan esensi dari Idul Fitri.

Syekh Kamanu bin Walid Muhammad menuliskan pada manuskrip ini 

فليس العيد لمن لبس الجديد بل لمن طاعته تزيد  bukanlah hari Ied bagi orang yang memakai baju baru tetapi hari ied adalah bagi mereka yang ketaatannya meningkat



ولا لمن ملاء بطنه با الوات الطعام بل لمن ملاء فاه بذكرالجلال والاكرام  dan bukan pula bagi mereka yang mengisi perutnya dengan makanan tapi bagi mereka yang senantiasa berdzikir mengagungkan



و قد فان من احيي ليلة فنال الغفرات  dan juga bagi mereka yang bangun pada malam hari maka mendapat ampunan



وحان الغفور و الرضى من الملك الديان الله اكبر   dan juga mereka yang datang meminta ridho dan ampunan dari Allah yang Maha Besar 

Lewat teks di atas semoga kita benar benar kembali memahami esensi dari Idul Fitri. Karena hari raya Idul Fitri bukan hanya tentang kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan turun temurun dan hal-hal yang bersifat ceremonial.

1 komentar:

  1. Bagus Tulisan nya, semoga terus memberikan temuan-temuan dalam bidang Filologi

    BalasHapus