Terhangat

Malam di Kota Duka

Oleh Muflih Hariman*
 
Malam-malam itu belum mati, mereka akan kembali tanpa rasa takut kepada seorang pun, mereka akan datang meski kau membencinya, mereka akan menjemputmu di sini, di kota duka.

Katamu kota ini mengerikan, kau selalu ketakutan, keadaanmu buruk sejak pertama kali sepatu cokelatmu menapaki lidah kota ini, kota yang bukan kotamu apalagi kotaku, lalu kita menyebutnya kota duka.

Tapi benarkah kota ini kota duka?

Ketika orang-orangnya bersujud di pinggir-pinggir jalan hanya beralaskan tanah.

Benarkah kota ini kota duka?

Ketika ulama-ulama sepuh duduk di sudut-sudut masjid menyampaikan ilmu dengan penuh keikhlasan.

Benarkah kota ini kota duka?

Ketika kota ini mengajarkanmu arti kehidupan dengan menyatukan rasa syukur dan sabar di hatimu.

Benarkah kota ini kota duka?

Ketika nil biru dan nil putih dipertemukan di kota ini setelah puluhan kilometer berpisah tanpa saling sapa.

Benarkah kota ini kita duka?

Ketika kota ini mempertemukan aku dan kau di salah satu malamnya, dan saat itu rasa kita sama.

Sekali lagi kutanya, benarkah kota ini kota duka?

Sepertinya kita salah, raut wajahmu juga meyakinkan bahwa kita salah, maka maukah kau bersaksi malam ini? Bahwa kota ini kota cinta bukan kota duka.

*Mahasiswa International University of Africa

1 komentar: