Terhangat

Lantai Dua, Asrama Abdullah ash-Shofi



Oleh Malla Hasyimi

Teruntuk kesekian hari, di asrama Abdullah ash-Shofi
terkasih..
Seperti yang engkau lihat
Pada mata senja yang kian redup
Waktu terus menabung gemuruhnya
Gelombang retak menyihir wajah kota
Memaknai musim bertapa
Kini, bumi kami di jajah mitos-mitos kecemasan

Lagi,
Berkian kali purnama terlewati,
Terbingkai dari jendela lantai dua
Asrama Abdullah ash-Shofi
Menjejak mimpi, merangkum aksara sanubari
Meski tiap langkah adalah jejak luka 
Meski tiap embusan napas adalah desah lara
Tetap gagah memahat percaya,
Sebab cemas mengajarkan untuk;
tidak memiliki apa-apa selain doa

Duh gulita,
Bukankah ghubar dalam debar gundah
telah mengaku lelah melelapkannya
dalam pertarungan rindu dan kewajiban
menguapkan asa dalam menyerta fatamorgana
ke cakrawala gagap gempita

Cah ayu,
dalam dera coba pandemi,
satu dua keluh tak akan membuat badai menjauh
tetap dawamkan saling mengasihi
karena sejatinya; hanya raga yang terkunci
romansa senda tawa biar tetap
memaknai jejak hari-hari

‘cobaan datang untuk menguatkan’
Bila,
dari sisi manakah engkau membaca?
dari sisi manakah engkau menafsir makna?

Khartoum, 28 Mei 2020

1 komentar: