Terhangat

Frugal Living, Gaya Hidup Hemat yang Tidak Murahan


Oleh Ismail Musyafa Ahmad

Konsep pengelolaan aset finansial yang sehat dari dulu hingga sekarang berkutat pada dua hal. Mengurangi pengeluaran, menambah pendapatan. Simpel dan mudah, akan tetapi banyak macam pula bentuk penerapannya. Ada yang berkutat pada bagaimana mengencangkan ikat pinggang sekencang mungkin, setiap receh dalam pengeluarannya betul-betul berat untuk dilepas. Ada pula yang berlomba-lomba meraih pundi-pundi harta agar pemasukannya menggunung. Intinya jangan sampai menjadi peribahasa modern: besar keranjang check-out daripada saldo OVO. Besar debit daripada kredit.

Di artikel ini, alih-alih kita berpikir bagaimana mendapatkan harta sebanyak mungkin dengan cara halal maupun haram, mari kita bahas salah satu opsi dalam mengontrol pengeluaran kita yaitu frugal living.

Umumnya, apabila kita dituntut untuk mulai berhemat maka kita akan mencari pilihan termurah dalam mengeluarkan lembaran merah berilustrasikan Soekarno-Hatta. Pilih baju termurah, pilih makanan termurah, pilih barang yang nominal harganya paling rendah, pilih handphone paling terjangkau, dan semacamnya. Tindakan ini tentu cara paling dasar dalam menekan spending.

Potensi masalah pun muncul ketika kita hanya memilih barang dan produk termurah tanpa memerhatikan mutu, kualitas, dan keawetannya. Contoh, satu set earphone kualitas rendah di depan Markaz Islami yang berharga 100 SDG mungkin teramat sangat murah, akan tetapi terbuat dari bahan yang rusak dalam beberapa pekan pemakaian. Jika terus menerus membeli earphone baru tersebut setelah rusak, maka pengeluaran kita bisa jadi terus menggunung tanpa disadari, walau dengan tujuan utama berhemat. Kita jadi terjebak dalam lingkaran spending yang sebenarnya dapat dihindari.

Nah, konsep frugal living hadir untuk melengkapi tindakan penghematan finansial tadi.

Frugal living, apa sih?

Konsep ini memadukan antara menghemat pengeluaran dengan manajemen kepemilikan, pengenalan kualitas produk, dan keberlangsungan produk di masa depan. Frugal living juga melibatkan rasionalitas dan keputusan mental dalam mengantisipasi tiap pengeluaran. Artinya, mencari barang dan produk yang betul-betul berkualitas dan awet untuk dipakai dalam jangka waktu yang panjang.

Pertanyaan dasarnya, apakah pantas membeli produk ini untuk digunakan dalam jangka panjang?
Tentu jika dibandingkan dengan contoh earphone seratus pound sebelumnya, ini berarti mencari earphone yang berharga lebih mahal dengan kualitas tinggi yang awet digunakan hingga bertahun-tahun setelahnya. Syukur-syukur ada garansi, sehingga tidak perlu lembiru. Lempar beli baru. Dengan begini, dalam jangka panjang pengeluaran kita jadi lebih efisien dan efektif.

Frugal living juga dapat menumbuhkan kreativitas, skill, dan kesadaran mental kita dalam menjalani kehidupan keseharian. Akan muncul pemikiran seperti: lebih murah mempelajari bagaimana membetulkan kerusakan sederhana di rumah daripada membayar tukang dalam setiap kerusakan kecil. Lebih murah bila merawat barang-barang yang ada sebelum rusak daripada memperbaikinya atau menggantinya jika rusak.

Tidak hanya dalam aspek finansial, aspek kesehatan contohnya, juga dapat mendapat manfaat dari konsep ini. Lebih efektif menjaga kesehatan tubuh dengan memerhatikan kualitas asupan makanan yang masuk daripada memakan apapun yang lebih murah dan kadang tidak selalu sehat daripada menanggung dampaknya di kemudian hari.

Menimbang setiap pengeluaran juga menjadi kebiasaan bagus yang muncul dari konsep frugal living ini. Dalam bidang fesyen misalnya, konsep ini mengharuskan kita untuk betul-betul memastikan bentuk busana yang akan kita beli cocok dan versatile dalam pemakaian kita sehari-hari. Satu topi mungkin saja berkualitas dan awet, akan tetapi jika tidak cocok dengan baju-baju kita dan juga berkemungkinan akan jarang dipakai, maka bisa menjadi pengeluaran yang tidak efisien dan efektif.

Lalu bagaimana langkah-langkah dasar dalam memulai frugal living?
  • Mulailah budgeting dengan merinci pemasukan dan pengeluaran normal Anda, kemudian mengenali pengeluaran mana yang efisien, mana pula yang tidak.
  • Dalam hal makanan, rencanakan. Mulai dari belanja apa saja, frekuensi belanja, kapan saja mau makan di luar rumah, menu makanan pekan ini atau bulan ini.
  • Beli barang yang berkualitas, lebih bagus lagi bila barang bekas yang masih awet dan akan awet dalam jangka waktu panjang.
  • Ketahui dan kenali apa saja yang Anda miliki, mulai dari makanan apa saja yang tertimbun di kulkas, baju apa saja yang jarang dipakai di pojok bawah lemari, dan lainnya. Kemudian mulai organisir apa saja yang Anda punya sehingga bisa diketahui apa saja yang tidak diperlukan dan apa saja yang perlu ditambah.
  • Tanamkan kata-kata berikut ini jika ingin mengeluarkan uang untuk sesuatu: “Saya bisa membelinya, tapi apakah saya harus?”
  • Yang terakhir, sesekali mengeluarkan biaya lebih untuk kesenangan Anda juga tidak masalah. Pastikan saja tidak berlebihan dan tidak terus menerus.

Jika frugal living ini diterapkan dengan benar, maka kita akan dapat mengoptimalkan dan bersyukur atas setiap harta dan barang yang kita punya. Selamat mencoba dan selamat bereksperimen!

Tidak ada komentar