Terhangat

Covid-19: Momentum Transformasi Pemikiran dan Sikap Seorang Muslim Moderat

Oleh Muhammad Najmuddin
 
Islam adalah agama yang diridai Allah bagi seluruh hamba-Nya untuk dipeluk, dijalankan, dan ditaati setiap apa yang bersumber dari Islam. Maka tentulah wajib bagi mereka untuk mengikuti Al-Qur'an sebagai “Grand Concept of Islam” (konsep utama Islam) dengan benar-benar mengikuti sesuai pemahaman para pakar agama Islam yakni ulama.

Allah menghendaki dalam setiap generasi seorang pembaharu yang menuntun kita dalam beragama. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Kamil ibn Ziyad dari Ali bin Abi Thalib bahwa ia berkata, "Bumi tidak akan kosong dari seseorang yang menegakkan hujjah-hujjah Allah." Al-Imam Badruddin az-Zarkasyi dalam kitabnya Tasynif al Masami' juga memilih pendapat tersebut.

Seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as Syafi'i, dan Imam Ahmad yang kita kenal dengan sebutan al-Madzahibul Arba'ah, dari ajaran merekalah kita mampu memahami hukum dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, tidak selayaknya kaum muslimin untuk memahami serta menerapkan intisari Grand Concept tanpa tuntunan ulama.

Begitu pula peran Nabi Muhammad sebagai seorang penuntun seraya mentransformasikan pemikiran bangsa Arab dari masa Jahiliah (sebelum Islam) dimana mereka menyembah berhala dan menjadikannya sebagai Tuhan, menuju masa ilmu pengetahuan (Scientific Era). Kemudian mereka mengajarkan pemikiran Nabi kepada generasi setelahnya. Terus-menerus hingga sampai generasi kita sekarang.

Sebelumnya, jauh sebelum Nabi Muhammad datang mengenalkan apa itu agama dan siapa itu Tuhan, umat manusia ketika kemarau panjang datang melanda, mereka memiliki tradisi menabuh lesung seraya mengharapkan hujan turun. Ketika hujan turun, mereka semakin yakin turunnya hujan karena perantara perbuatan tersebut. Inilah yang dinamakan 'Primitive Era'.

Ketika lesung ditabuh sampai para penabuh kelelahan tidak juga turun hujan, mereka mulai berpikir bahwa ada kekuatan supranatural di dunia ini yang mengatur hujan. Maka mereka pun menyembah segala sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan tersebut, entah itu batu, hewan, ataupun manusia.

Kemudian atas perintah dari Tuhan, Nabi Muhammad  mengajarkan bahwa Tuhan adalah Allah, dan Allah adalah zat yang hanya berhak disembah, zat yang berkuasa secara absolut, bahwa Dialah zat yang keberadaannya tidak dapat dibayangkan oleh akal. Dengan begitu, pemikiran manusia mulai bertransformasi tentang teologi. Kemudian dengan ini mereka dapat mengetahui apa itu Islam dan bagaimana ajarannya  sebab tuntunan dari sang Nabi.

Transformasi pemikiran umat manusia dapat kita temui juga dalam masa-masa awal agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Seperti peristiwa gerhana matahari yang terjadi hanya beberapa saat setelah pemakaman Ibrahim, putra Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah kala itu mengira peristiwa terjadi akibat dari wafatnya Ibrahim. Maka kemudian Nabi meluruskan anggapan tersebut, bahwa gerhana matahari terjadi karena kuasa Allah, bukan karena ada kematian, kelahiran, atau dimakan makhluk tertentu. Transformasi ini juga membuat umat Islam jika suatu ketika Allah tidak berkehendak untuk menurunkan hujan, mereka berpikir bahwa turunnya hujan disamping dengan kehendak dari yang Maha Kuasa, ada sebab-sebab yang berakibat turunnya hujan, bahwa hujan adalah bertemunya ion positif dan negatif lalu menjadi halilintar (lightning) yang mampu memecahkan gumpalan awan mendung tebal menjadi butiran es kecil kemudian menjadi hujan. Era ini kita sebut sebagai "Science Era" dimana kaum muslimin di samping mendalami ilmu agama, juga mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti antariksa, sastra, dan kedokteran.

Lalu, di situasi pendemi sekarang ini, kita bersikap seperti layaknya orang primitif, agamis, atau saintifik? Mari berpikir!

Tertulis dalam sejarah, bahwa umat Islam pernah dilanda berbagai wabah dan penyakit seperti influenza, malaria, cacar, campak, kolera, dan Thaun. Telah jatuh ribuan bahkan jutaan korban yang terdampak dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Di masa itu, meskipun sudah banyak protokol kesehatan, peran ulama sangat terlihat sebagai penuntun umat. Hal ini dibuktikan dengan cara mereka menenangkan umat agar tidak panik atas musibah yang terjadi serta tetap waspada. Diceritakan dalam kitab Syifaul Qalbil Mahzun karya Syaikh Qadi Ṣafad Muḥammad, bahwa pada akhir abad ketujuh hijriah, ketika wabah Thaun  menyerang, umat Islam tetap menjalani hari dan malam mereka serta beribadah seperti biasanya.  Ketenangan mereka dapatkan karena peran ulama yang terus mengumandangkan nasehat Nabi Muhammad untuk menambah porsi ibadah mereka ketika tertimpa musibah, bukan menguranginya.

Begitupun sikap kita saat Covid-19 melanda seluruh dunia, ketika banyak revolusi pemikiran modern dan sekulerisme dalam agama berkali-kali dilalui oleh umat manusia, para ulama masih diharapkan perannya sebagai penyeimbang antara agama dan sains. Ulama adalah penuntun selama ribuan tahun usia agama ini, silih berganti mendidik manusia dalam berbagai generasi.

Saat ini, ulama bersama pemerintah dari berbagai negara, serta berbagai aspek lapisan masyarakat, bersinergi menghadirkan ketenangan bagi umat tanpa meninggalkan ajaran yang ada di dalam 'Grand Concept of Islam'. Seperti himbauan dari Grand Syaikh Al Azhar, Ahmad Tayyeb kepada muslim dunia untuk mengikuti protokol kesehatan dan peraturan yang dikeluarkan otoritas resmi yang berkompeten, di antaranya menjaga kebersihan, mematuhi Physical Distancing (jaga jarak kontak fisik), dan komitmen untuk tinggal di rumah. Dalam himbauannya, Grand Syaikh menukil firman Allah: "Dan janganlah menjerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan," serta kaidah fikih: "Mencegah kerusakan didahulukan atas mewujudkan kemaslahatan," dan: "Bahaya yang lebih besar dihilangkan dengan yang lebih sedikit mudaratnya."

Di masa Covid-19 ini pula, banyak ulama yang gigih menyeru kepada kebajikan dengan konsisten mengadakan kajian keagamaan secara daring. Hal ini mungkin bukan hal baru, namun baru terasa manfaatnya dan terlihat gerakannya pada masa Lockdown ini. Sebagaimana pernyataan dari Ustadz Muhammad Hayat, alumni Global University Lebanon dari kota Pasuruan, Jawa Timur, beliau mengajak santrinya untuk mengikuti kajian kitab secara daring dari ulama dalam dan luar negeri. Menurut beliau, sistem semacam ini sah dalam agama, selama tokoh dalam konten tersebut merupakan orang yang terpercaya dan memiliki sanad keilmuan yang jelas serta bersumber dari akun media sosial yang jelas pula agar kita terhindar dari video atau rekaman suara yang di dalamnya terdapat editan dan sisipan yang tidak benar.

Maka ketika pandemi Covid-19 melanda, sepatutnya masyarakat mengikuti anjuran pemerintah dan ulama dengan tidak membuat dan menyebarkan berita-berita hoaks serta menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap upaya-upaya pemerintah dalam menanggulangi penyebaran Covid-19.

Kesimpulannya, bersikap agamis saja tidak cukup, harus berpadu dengan sikap saintifik. Bukan malah agamis tanpa peduli sains hingga bersikap "bodo amat" tanpa peduli mau terjangkit Corona atau tidak dan tidak mau mendengarkan apa kata dokter. Karena dia salah dalam memahami bahwa hidup dan mati hanya tawakkal (berserah diri) kepada Allah hingga lupa untuk ikhtiar (berusaha sebelum tawakkal).

Jadi, sudahkan kita mentransformasikan pola pikir kita sekarang?

Tidak ada komentar