Terhangat

Uzlah di Kala Pandemi Corona

Sudah panjang masa yang kau lewati, maka adakah sesuatu kebaikan darimu yang berbekas kemanfaatannya pada manusia? Adakah karya yang kau torehkan, wahai hamba yang sudah berumur? Bukankah sebaik-baik manusia itu ialah yang bermanfaat bagi orang lain? Masihkah kau menunggu bertambahnya nikmat yang diberikan baru kemudian bergerak melangkah? Mungkinkah kau akan berubah sendirinya ketika nikmat itu bertambah? Bukankah kau hidup atas kebiasaanmu selama ini? Pembaca yang budiman, inilah renungan singkat mengawali lockdown di Khartoum Sudan, juga sebagai pembuka cerita pendek dengan judul "Uzlah di Kala Pandemi Corona".


Dokumen Pribadi.
Kuangkat panggilan melalui WhatsApp dari teman di Indonesia, Ustaz Fauzi saya memanggilnya. Dia membersamai saya pada empat tempat ketika di Indonesia, yaitu; di Ma'had Utsman Bin Affan sebagai mahasiswa, di STAIPI Jakarta (STAIPI Bandung) juga sebagai mahasiswa, dan di MI Moeslem Character (Rumah Quran) Cipayung Jakarta Timur sebagai muaddib (guru yang mempraktekkan adab-adab dalam kegiatan belajar mengajar), serta di HIMA PERSIS DKI Jakarta sebagai aktivis. Kalau dilihat dari pendidikan dan usia, serta pengalaman kerja Ustaz Fauzi lebih senior dari saya, beliau sudah menyelesaikan sarjana strata satu (S-1) jurusan ekonomi dan beliau lebih duluan mengajar di MI Moeslem Character. Beda halnya kalau dilihat dari pengalaman berorganisasi di HIMA PERSIS, agaknya saya lebih senior daripada beliau, sebab saya termasuk orang yang mengkader beliau bersama teman-teman angkatannya pada akhir tahun 2019 lalu di acara KABAH (Kaderisasi Anggota Baru Hima Persis) gabungan di Depok. Sebelum saya berangkat ke Sudan beliau berpesan, "Kalau antum ganti nomor WhatsApp (WA) kabarin ana ya."

Nah, dari itu wahai pembaca yang budiman! Sudah merupakan kewajaran jika beliau menelepon saya ketika sudah berada di Sudan. Dalam percakapan WA tersebut kami saling menanyakan kabar, suasana baru di Sudan, juga perihal pendidikan, hingga perihal jodoh, dan lain-lain. Ada satu percakapan yang membuat saya berpikir-pikir dan mengingatkan saya tentang tujuan berangkat ke Sudan, cakapnya dalam bentuk pertanyaan, “Sudah berapa hafalan antum sekarang?” Agak tertegun saya mendengar pertanyaan itu, lalu kujawab, “Belum ustaz, ana masih murajaah (mengulang-ulang) hafalan kemarin.” Saya rasakan pertanyaan itu sangatlah dalam maknanya, pertanyaan tersebut seperti halnya alarm yang mengingatkan hamba tentang tujuan ke Sudan. Rasanya Allah Ta’ala memberikan peringatan yang halus dengan pertanyaan itu melalui lisannya Ustaz Fauzi.

Berkaca dari pertanyaan tersebut hamba mulai berpikir lagi tentang tujuan-tujuan hidup. Hamba mulai merenung sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam sebagai bentuk mawas diri. Beberapa saat setelah itu terbayanglah punya kesempatan di mana tidak lagi tersibukkan oleh banyak urusan, di mana tidak lagi dicari-cari, di mana tidak lagi diresahkan oleh urusan perut, juga terbayang punya kesempatan di mana tidak lagi diresahkan oleh biaya hidup. Terbayanglah punya kesempatan seperti yang ditulis Dr. `Aid Al-Qarni dalam bukunya yang berjudul ``La Tahzan``, yaitu kesempatan “mengasingkan diri dari segala kejahatan dan kemubahan yang berlebihan, menyelami makna-makna, menangkap butiran-butiran nilai, merenungkan tujuan-tujuan hidup, dan membangun menara ide, serta pemikiran. (Al-Qarni, 2005: 117)”

Sebenarnya bayang-bayang tersebut sudah ada sejak dulu ketika masih bersekolah di MAN Bintuhan (MAN 1 Kaur). Kemudian dilanjutkan belajar ke Kota Bengkulu di Pesantren Quran Al-Fida (PQA), di sinilah bayang-bayang tersebut hampir sepenuhnya terwujudkan, hanya saja hasilnya belum banyak yang terikat dengan tinta. Saya lanjutkan perjalanan, merantau ke Jakarta  dengan tujuan utama kuliah. Walhasil saya kuliah di dua kampus, yaitu di Mahad Utsman Bin Affan Jakarta dan STAIPI Jakarta (STAIPI Bandung). Pada sebagian waktu yang tidak berbenturan dengan jam kuliah, maka saya bekerja bisnis sayuran di Pasar Induk Keramat Jati, Jakarta Timur dan menjadi guru di MI Moeslem Character Cipayung, Jakarta Timur. Sungguh sulit rasanya untuk merealisasikan bayang-bayang yang ada itu saat di Jakarta, karena memang “sibuknya bukan main”. Bayang-bayang itu masih kental adanya dalam diri ini, hingga datanglah masa harus meninggalkan Jakarta.

Dokumen Pribadi.

Melangkah lagi kaki ini melanjutkan perjalanan, alhamdulillah diberi rezeki kesempatam belajar ke luar negeri, yaitu negeri arab tempatnya di Sudan atau kita kenal dengan sebutan Negeri Dua Nil, sejarah dan peradaban Islam ada di sini. Tetapi sayang belum juga bisa merealisasikan bayang-bayang itu, hingga datang pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) atau kita kenal dengan sebutan virus Corona. Kebijakan pemerintah yang mengharuskan beraktivitas di rumah masing-masing, kampus-kampus ditutup, sekolah-sekolah diliburkan, dars-dars (kajian pematerinya syekh) juga diliburkan. Begitu juga tempat-tempat keramaian bahkan masjid pun ditutup, kecuali tempat kebutuhan pokok yang masih buka dan beberapa mudarasah (kajian pematerinya senior) saja yang masih berlangsung,  kegiatan itu pun terkadang sudah via online (Zoom, WhatsApp, Youtube, dan lain-lain).

Ini masa yang cukup panjang, tapi semua itu ada hikmahnya. Disamping Corona ini ujian dari Allah Ta'ala untuk penduduk bumi ini, ia juga memberikan kesempatan untuk hamba mengasingkan diri. Hemat saya, inilah masa yang pas untuk merealisasikan bayang-bayang yang selama ini tak kunjung terwujud. Pada awal-awal lockdown saya membuka lembaran pdf yang ditulis oleh Dr. 'Aid Al-Qarni dengan judul "La Tahzan", kudapati kata uzlah (mengasingkan diri). Oooh, saya sontak tersadarkan! Ternyata wujud dari bayang-bayang selama ini namanya uzlah, yaitu “Mengasingkan diri dari segala bentuk kejahatan dan kemubahan yang berlebihan, ber-uzlah seperti ini membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua kesedihan (Al-Qarni, 2005:116)”. Sambungnya di akhir alinea: "Siapa saja yang mencintai uzlah maka itu kemuliaan baginya. (Al-Qarni, 2005: 118)” Terima kasih Corona, kau tak bicara tapi gerakmu sangatlah berarti. Terima kasih Corona telah menjadi wasilah yang memberi hamba kesempatan untuk uzlah. Wahai Corona tolong jagalah gerakmu dari orang-orang yang senantiasa mengingat Penciptamu di pagi dan sore, jaga juga gerakmu dari orang-orang yang kami cintai.

Uzlah ini telah kumulai, tempatnya di rumah kekeluargaan Paguyuban Mahasiswa Jawa Barat dan Banten (PMJB), ada juga candaan mereka memelesetkan PMJB dengan Paguyuban Mahasiswa Jawa Barat dan Bengkulu, huruf B dipelesetkan artinya dari Banten ke Bengkulu, ini dikarenakan ada beberapa orang Bengkulu menjadi anggota kekeluargaan PMJB dan juga tinggal di Rumah PMJB (Sekretariat). Saya termasuk orang Bengkulu yang tinggal di Rumah PMJB dan juga anggota di kekeluargaan PMJB. Hal ini dikarenakan mahasiswa/i dari Bengkulu masih sedikit dan belum memenuhi syarat untuk membentuk kekeluargaan sendiri secara resmi, sehinggga kami bebas memilih gabung di satu kekeluargaan yang sudah resmi, umumnya kami bergabung di kekeluargaan FORMASSI Sudan (Forum Mahasiswa Sumatera Selatan Berintegrasi Sudan).

Uzlah ini dimulai dengan merenungi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah saya tulis pada pembuka cerita ini. Walhasil ada beberapa hal yang harus  diperbaiki, mulai dari tujuan-tujuan hidup, amal-amal harian, kewajiban-kewajiban yang belum dituntaskan, hingga kemubahan-kemubahan yang telah berlarut-larut. Dalam uzlah ini kukuatkan lagi satu tahun ini dengan azam dan itikad tentang tiga hal, yaitu pertama penguasaan Al-Quran 30 juz bersanad serta penguasaan matan-matan dasar ilmu tajwid, kedua penguasaan bahasa Arab serta kitab-kitab dasarnya, dan ketiga mengaplikasikan ide-ide serta pemikiran melalui wadah Persatuan Pelajar Indonesia Sudan (PPI Sudan).

Uzlah ini semakin terasa ketika amal-amal harian mulai teratur, kewajiban-kewajiban  sedikit demi sedikit mulai dituntaskan, kemubahan-kemubahan yang berlebihan mulai dikurangi bahkan ada yang ditinggalkan. Sungguh benar apa yang dikatakan Dr. `Aid Al-Qarni, “… Uzlah ini membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua kesedihan. (Al-Qarni, 2005: 116)” Uzlah ini juga yang menyadarkan pentingnya bersyukur atas nikmat dari Allah Ta'ala, juga menyadarkan hamba tentang kebiasaan, bahwa kita menjalani hidup menurut kebiasaan kita.

Uzlah ini mulai merenungi tentang kebiasaan-kebiasan dan harapan mulia serta rasa syukur. Terucaplah beberapa kalimat yang indah sebagai renungan kita, yaitu;


Berat rasanya jika engkau berharap nantinya gemar sedekah ketika harta sudah mulai berlimpah, kalaulah sekarang kebiasaanmu menahan harta walau sebutir kurma. Sulit rasanya jika engkau mau bangun malam menunggu hafalanmu 30 juz, kalaulah biasanya yang sedikit ini saja belum bisa kau bawa dalam qiamullail. Sulit rasanya kau berharap kelak dapat menulis kitab yang berjilid-jilid jika biasanya catatan kecil saja masih belum bisa  kau tuliskan.

          Kusahut dalam renungan itu, "Masihkah kau menunggu ditambahkannya nikmat, baru kemudian mau beramal? Sadarlah wahai hamba tentang nikmat yang telah Allah berikan kepadamu. Berusahalah memaksimalkan syukur terhadap nikmat yang ada dengan beramal sekuat semampu sebisa mungkin. Mudah-mudahan jika nanti Allah tambahkan kenikmatan, maka kau sudah terbiasa mensyukurinya dan kau akan ringan menjalaninya."

Uzlah masih berlanjut, rasanya ada kemubahan yang terlalu berlebihan hingga membuat kita lalai. Rasanya ada panggilan bahwa “Ramadan sebentar lagi menghampiri-mu, maka perlu kau berbenah lagi." Kita berdoa agar bisa disampaikan pada bulan tersebut dalam keadaan siap dan bersegera dalam beramal. Allahumma ballignaa fii ramadhan.

Di penghujung uzlah ini kuceritakan sedikit kekhawatiran yang datang dari sebuah diskusi. Yaa, diskusi biasa perihal pendidikan dan keadaan di Sudan, yang tidak biasa adalah lawan diskusi tersebut merupakan perempuan (akhwat) salihah juga cerdas yang sedikit kukenal. Sebelumnya pernah kutanyakan kepada seorang alim, "Bolehkah kita chat dengan akhwat?," lantas jawabannya, "Boleh saja".

Saya pun melanjutkan diskusi dengan akhwat tersebut di sela-sela waktu luang. Lebih lanjut, nampaknya diskusi ini sudah berada di penghujung, persoalan-persoalan sudah mulai terang dan sebagian bisa terjawab. Harapannya sangatlah bagus, yaitu mau melanjutkan pendidikan di Sudan. Semoga saja usahanya dimudahkan dan mendapatkan taufik dari Allah Ta'ala. Sungguh, saya tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang bukan area saya, karena terbatasnya pengetahuan lebih-lebih hal perempuan. "Oooh!", sahut saya! Ternyata dia belum punya kontak akhwat untuk diskusi perihal pendidikan di Sudan, maka saya bantu carikan kontaknya. Dapatlah kontak ketua PPPI Sudan (Persatuan Pelajar Putri Indonesia Sudan), lalu saya kirimkan kontak tersebut. Nah, sekarang dia sudah punya teman diskusi yang lebih tepat dan bisa leluasa untuk menanyakan hal-hal terkait pendidikan di Sudan.

 Hemat saya, sudah tidak ada lagi hal-hal yang penting untuk ditanyakan dan ini perlu diakhiri agar tidak berlarut hingga membuka peluang pintu-pintu keburukan. Akhirnya kutuliskan kepadanya beberapa kalimat yang indah untuk mengakhiri percakapan, juga sebagai renungan di awal malam untuk menyambut kedatangan bulan mulia Ramadan. Harapan saya, agar kiranya kalau diskusi salama ini mengandung kemubahan yang berlebihan hingga membuat lalai, maka segeralah kembali kepada Allah. Kutulis kalimat-kalimat indah itu dengan judul "Pengkhianatan Berbungkus Kemubahan". Ini pesan yang saya kirim via WhatsApp;

Kepada saudariku ………………
Sebagai renungan kita menyambut bulan yang mulia (Ramadan)
Pengkhianatan Berbungkus Kemubahan
Teruntuk diri ini, sebagai hamba yang tak luput dari dosa dan kekhilafan. Sudah hamba baca beberapa nas dari Al-Quran maupun Hadis, apa yang hamba ambil dari semua itu?.. Sudahkah hati dan raga ini senada dengan nas yang dibaca?.. Yaa Rabb berilah hamba petunjuk dan bimbinglah ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Semoga diskusi dari awal saat kau menjawab salamku hingga saat ini, bukanlah suatu bentuk pengkhianatan yang berbungkus kemubahan terhadap sabda Rasulullah Saw. dari Ibnu Abbas r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: "janganlah salah seorang diantara kamu ber-khalwat, berdiam diri ditempat yang sepi dengan seorang wanita kecuali disertai dengan mahramnya" (H.R. Bukhari Muslim). Kita juga tahu bahwa diantara ciri perkara maksiat yaitu perbuatan yang kita lakukan jika dilihat banyak orang maka kita merasa malu. Wahai hamba, adakah rasa tersebut dalam dirimu?.. Adakah kecemasanmu ketika diskusi ini diketahui oleh orang tua?.. Adakah kekhawatiranmu jika diskusi ini diketahui oleh teman dekat mu?.. Adakah kekhawatiranmu jika mereka membuka pesan-pesan ini?.. Jika benar perasaan itu ada dalam dirimu, maka segeralah kembali kepada Rabb-mu mengadulah kepada-Nya memohon ampunan dan takutlah akan terjerumus dalam lembah kemaksiatan yang berlarut. Memang perkara ini indah dan mengasyikkan, tetapi bisa larut dan menghanyutkan jika kita tak cepat sadar.
Kutuliskan kalimat-kalimat indah ini mengawali malam sebagai renungan kita menyambut bulan mulia (Ramadhan). Sekali lagi hamba berharap kiranya diskusi ini bukanlah sebuah pengkhiatan yang berbungkus kemubahan. Semoga kita dipertemukan di lain waktu dan bisa melanjutkan diskusi ini dalam keadaan yang lebih baik dan lebih terang, sehingga kekhawatiran itu bisa ditepis.
Syukron wassalam

Demikianlah teramat banyak hikmah yang bisa diambil sebab Corona ini. Corona mungkin akan berakhir dalam waktu yang dekat ini, begitu juga halnya lockdown.
Semoga kita bisa mengambil manfaat dari uzlah ini dan istikamah terhadap apa yang telah menjadi iktikad kita dalam berazam. Terima kasih Corona, kau tak bicara tapi gerakmu sangatlah berarti. Terima kasih Corona telah menjadi wasilah yang memberi kesempatan kepada hamba untuk uzlah. Wahai Corona tolong jagalah gerakmu dari orang-orang yang senantiasa mengingat Penciptamu di pagi dan sore, jagalah juga gerakmu dari orang-orang yang kami cintai. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa beraktivitas lagi sebagaimana mestinya.
Uzlah di Kala Pandemi Corona.

Oleh: April Setiawan (Mahasiswa di Khartoum International Islamic For Arabic Language)

32 komentar:

  1. Masyaallah akhi... War biasa. Malu ane bacanya sdh seharus nya memang kita selalu mmperbaiki diri yg sdh menuju tua ini... Jazzakallahu smoga allah senantiasa mmberkahi nt aamiin yra

    BalasHapus
  2. Masya Allah tabarakllah.bagus sekali ceritanya bisa menginspiras, memotivasi para generasi muda untuk memperbaiki diri menjadi hamba Allah yang lebih baik dan taat dengan adanya pandemi covid-19 ini, ceritanya bukan hanya untuk muhasabah diri tapi juga memperbaiki diri.
    Tebarkan selalu kebaikan dan jangan menyerah����

    BalasHapus
  3. Tabarakallah ..
    Bersyukur dengan waktu, manfaatkan waktu sebaik-baiknya.

    Semoga cerita ini bisa menginspirasi bagi pembacanya.
    Semoga Istiqomah dalam berbuat baik dan menyebar kebaikan.

    BalasHapus
  4. Tinggal di pertajam 1 W 5 H nya, Saran saja di awal penulisan buat gagasan pembuka.
    Kedepan jgn terlalu banyak Percakapan, tapi ambil ibroh tarik dg Qur'an, hadist, dan qoul ulama / kontemporer,
    Berikan permisalan, dan perbandingan.

    Biar lebih hidup.

    BalasHapus
  5. Masyaallah,sangat menginspirasi.

    BalasHapus
  6. Masya allah allah terus produktif pril

    BalasHapus
  7. Alhmdllh, terus berkarya perdalam isi kaidah hikmah penulisan 👍

    BalasHapus
  8. Masyaallah isinya bagus, penuh inspirasi dan bermanfaat. Di balik virus Corona yg menakutkan terdapat hikmah yg mendalam. Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk ber-Uzlah dari kesibukan dunia supaya kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Syukron mas Afril semoga selalu berkarya dan sukses selalu. Amin.

    BalasHapus
  9. Jazakallah. Terimakasih atas untaian nasihat yg ada dalam tulisan ini.
    Sederhana namun bermakna, tulisan yg mampu menyadarkan pembaca bahwa cobaan ditengah Pandemi ini adalah cara Allah untuk menguatkan kita.
    Tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati dan pandai untuk bersyukur, karena kebahagiaan dalam hidup berawal dari rasa syukur yang selalu kita panjatkan kepada-Nya.
    Akhir kata, semoga antum selalu menginspirasi, istiqomah dalam menyampaikan kebajikan melalui tulisan-tulisan yang penuh makna.

    BalasHapus
  10. Maa syaa Allah, sangat menginspirasi. Semoga kita semua menjadi hamba yang baik dan benar sesuai dgn pandangan Allah

    BalasHapus
  11. MasyaAllah kawan ana satu ini,dari pertama kali ketemu pun seperti sosok kaya yang ga punya capek,nostop. Sekarang bisa membaca karya tulisnya pun bangga,mantab masyaAllah,bukan karya tulis biasa.

    BalasHapus
  12. MasyaAllah luar biasa . Habis dah kata kata buat .

    BalasHapus
  13. Masha Allah mantap ustad, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  14. MasyaAllah akhy semoga allah senantiasa melindungi akhy dan juga teman teman akhy yang sedang menempuh ilmu di luar indonesia, semangat terus,tetap berkaya dan pantang menyerah.
    BarakaAllah hu fik akh.
    Ini sangat mengesankan dan khoir.

    BalasHapus
  15. بارك الله فيك يا أخي الكريم

    نفع الله بكم الأمة

    BalasHapus
  16. Bismillah... Bagus pril. Semakin terbiasa insya Allah semakin mantap menulisnya. Mungkin bisa menyamai ibu Asma Nadia atau lebih baik. Hehe yang penting punya target. Tapi untuk tulisan selanjutnya, bolehlah sedikit disinggung soal daya tahan tubuh/imunitas. Contohnya madu. Karena uzlah itu butuh itu apalagi zaman Pandemi seperti ini. Sukses my bro.

    BalasHapus
  17. بارك الله فيك و بارك الله في علمك...

    BalasHapus
  18. بارك الله فيكم
    اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفنا وزدنا علما من عندك

    BalasHapus
  19. Masya Allah tabarakallah, semoga Allah melindungi antum dan teman² yang sedang menuntut ilmu di jalan Allah. tetap selalu Tawadlu dan rendah hati kang April,semoga dengan begitu Allah akan mengangkat derajat antum sama dengan orang-orang penurut ilmu pada zaman imam² besar dahulu, aamiin YRA��

    BalasHapus
  20. Masyaa Allah, mudah2an tulisannya bisa menginspirasi

    BalasHapus
  21. Terimakasih April, semoga Allah senantiasa memudahkan jiwamu dan kita semua untuk menjadi jiwa yg kembali fitrah.
    Sy baca kembali ke paragraf awalnya, o ini ternyata cerita pendek. Akhirnya perjalanan hidupmu menemukan apa yg kau cari, makna uzlah. Hidup ini tak ubahnya adalah perjalanan untuk belajar. Belajar agar menemukan nilai-nilai, belajar menjalani hidup yg bermakna sebagaimana tujuan kita diciptakan..
    Teruslah belajar, teruslah menulis

    BalasHapus
  22. "Uzlah juga yg menyadarkan pentingnya bersyukur atas nikmat dari Allah ta'ala, juga menyadarkan hamba tentang kebiasaan, bahwa kita hidup menurut kebiasaankita". Kalimat yg seketika menyadarkan sy untuk senantiasa ber-muhasabah. Masyaallah tabarakallah.

    BalasHapus
  23. Alhamdulillah ust terimakasih,. Baru tersadar, inilah kesempatan uzlah yg sebenarnya.. tapi sya masih terlena..

    BalasHapus
  24. MassyaAllah smoga tlisan nya brmanfaat untk pembacanya , smoga adanya wabah covid 19 ini mnjdi cambuk bgi kita smua memperbaiki dri msing2 ,ttaplah mengamalkan hpalan al-qur'an , n jdikanlh pengalaman klian dsana ( sudan ) untk pmbelajaran yg bermanfaat .

    BalasHapus
  25. Bismillah. Afwan mengkoreksi dan memberi saran, namun sebelumnya cerita ini begitu Masya Allah. Alhamdulillah. Tetapi, sebaiknya jangan terlalu banyam penggunaan tanda seru, memang tanda seru berfungsi sebagai penegasan, tetapi untuk kata kata yang halus tidak usah mungkin takut terkesan seperti membentak. Dan ada baiknya jika dalam penulisan ini disematkan obrolannya menggunakan tanda petik. Misalnya, " Assalamu"alaikum. Maaf boleh bertanya kak?"
    " Wa"alaikumussalam. Tentu ukhti, apa yang bisa saya bantu? " Jawab ku kepada seorang ukhti yang mengirim pesan kepada ku.
    kira kira seperti itulah. Afwan jika ada kesalahan. sekian

    BalasHapus
  26. Masya Allah Tabarakallah ..
    Cerita nya bnyak mengandung inspirasi . Semoga kita sllu berusha memperbaiki diri. Dan selalu berfositip thingking setiap musibah yg trjdi .stiap yg trjd psti ada hikmahnya😊😊😊

    BalasHapus
  27. MasyaAllah Tabarakallahu...

    BalasHapus