Terhangat

Terai yang Lelap


Larik madah menyirat luka
Serpihan suara mulai sirna
Gelap rasa nan merana
Pikir gelagapan sadar sudah mulai tak nyata

Ada terai mendobrak sebuah tulisan
Berpikir menghayati sepi
Berjalan dalam khayal yang tak karuan
Semua batu yang telah terlempar malah membaur menjadi dasar

Hari ini mentari harap berseri
Dengan mengubah langkah yang selama ini salah
Waktu tak akan bisa di salah
Serampangan jiwa meruntuhkan
Cerita yang telah disemai bersama
Sobek dengan api yang tak berguna

Bukan sebuah hal ideal bagi jiwa, untuk berpisah tanpa rasa bersalah
Sadarlah semua, jiwa ini salah
Menganggap waktu bersama yang tak berguna
Nyata tak berguna jika sampai nafsi tak bisa bersama
Seperti sekarang

Ada yang hilang
Mulai samar
Tak bisa digenggam lagi
Apakah benar akan pergi?

Maaf  jalan menjadi remang
Tak seterang harapan lalu itu
Berharap setinggi langit
Namun hanya jatuh yang kau rasa

Maaf jiwa hanya bisa menulis bait
Setelah bualan yang begitu pahit
Sebenarnya tak berselera
Namun jiwa tak tahu cara
Untuk mengurai ungkap tak berguna

Sekarang,
Air mata yang telah kau derai
Sudah terhayat,
Terimakasih,


Oleh: Indah Dahlia
(Mahasiswi UIN Sunan Gunung Jati, Bandung)

Tidak ada komentar