Terhangat

Mewarnai Gerakan Menakjubkan Lawan Covid-19, Islam Buktikan Totalitas Cinta Indonesia

Beberapa tahun silam, ungkapan ‘Islam Anti NKRI’ marak didengar dan dicuitkan. Menyusul gerakan Aksi Bela Islam yang berlangsung di bundaran Monas, Jakarta di mana momen tersebut dinilai sebagian pihak merupakan bukti nyata bahwa Islam memang tidak memelihara kebhinnekaan dan kesatuan Indonesia. Beberapa paradigma buruk juga kerap disandingkan dengan agama Islam akhir-akhir ini. Mulai dari tuduhan radikalisme, terorisme, anti Pancasila, hingga tentunya anti NKRI.

Sebutan-sebutan tersebut tidak hanya menjadikan Islam menjadi ikon yang ditakuti menghancurkan persatuan negeri. Namun berdampak juga memantik ketakutan masyarakat terhadap agama Islam itu sendiri. Islam dicerminkan sebagai suatu ikon yang dapat menimbulkan perpecahan dan permusuhan suatu negeri. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan tujuan diturunkannya Islam ke muka bumi, yakni membawa rahmatan lil alamin untuk semua lapisan masyarakat tanpa berbatas ruang dan masa. Adapun tuduhan jika Islam merupakan anti Pancasila juga perlu dipatahkan, karena proses menyusun hingga butir-butir yang terkandung dalam Pancasila itulah cerminan agama Islam itu sendiri. Maka bagaimana seorang muslim dikatakan muslim sejati jika dia tidak mengamalkan butir-butir pancasila yang merupakan wujud nyata dari agama yang dianutnya? Dan menanggapi bahwa Islam membenci kesatuan NKRI, tentunya kilas balik sejarah Indonesia menyatakan fakta bahwa perjuangan merebut kemerdekaan dan mewujudkan negara kesatuan tak lepas dari ribuan darah pejuang beragama Islam.


Di tengah paradigma yang bermunculan tentang Islam di Indonesia, faktanya akhir tahun 2019 dunia dihebohkan dengan kedatangan salah satu spesies virus dari Wuhan, China yang ampuh menggemparkan dunia. Virus bernama Severe Acute Respiratory Syndrom Coronavirus atau biasa disebut Corona/Covid-19 ini juga menjangkiti Indonesia. Menyedihkannya sebagaimana dikutip dari merdeka.com (9/4/2020), Indonesia tercatat memiliki pasien terdampak sebanyak total 3.293 kasus dengan kenaikan 337 kasus positif dan 40 orang tambahan pasien yang dinyatakan meninggal. Hal yang menambah miris adalah fakta mewabahnya corona di Indonesia menyebabkan 18 tenaga medis yang meninggal dan dalam status pengawasan (PDP) menurut data yang diambil dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Minggu (5/4/2020) kemarin.

Menyikapi wabah corona yang terjadi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa pada Senin, 18 Maret 2020 yang diantaranya menyatakan bahwa setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang diyakini mampu menyebabkan terpapar, memicu tindakan yang menimbulkan kepanikan dan kerugian publik, serta menghimbau untuk tidak melakukan salat wajib berjama’ah, tarawih, ied, ataupun salat Jum’at jika diyakini dapat menjadi media penyebaran virus corona. Diluar fatwa tersebut yang menghadapi pro-kontra di tengah masyarakat, umat Islam di Indonesia telah meluncurkan kebijakan yang secara tidak langsung menghimbau orang banyak untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran Corona semakin meluas.


Hal yang menakjubkan dalam pergerakan Islam di tengah wabah corona ini, fakta di lapangan menunjukkan bahwa dakwah Islam mampu tetap mewarnai dan memberi dampak positif bagi masyarakat. Diantaranya adalah peran pendakwah yang terlibat aktif untuk menghimbau masyarakat supaya berlaku bijak menghadapi pandemi, mematuhi kebijakan sekeliling, mengingatkan prosedur kebersihan dan kesehatan diri-yang tentunya sudah diatur dalam agama Islam sendiri, serta yang menjadi poin penting adalah bagaimana penyikapan ikhtiar dan tawakal yang benar sehingga diharapkan orang-orang tidak salah mengambil langkah menyikapi wabah corona ini. Alternatif dakwah menggunakan kecanggihan teknologi merupakan salah satu jalan yang diambil para pendakwah untuk tetap mewarnai Indonesia dengan nilai-nilai Islam yang mendamaikan di tengah kebijakan pembatasan interaksi dengan orang lain.

Mengagumkannya, bukan hanya mampu berperan dalam membuat kebijakan yang dirilis menjadi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau hanya seputar berdakwah secara lisan kepada orang lain, Islam ditengah wabah corona ini hadir di setiap kesempatan baik. Islam muncul benar-benar sebagai wujud nyata agama rahmatan lil alamin. Mewarnai, memberi kontribusi, dan beraksi dengan semangat Islam dan perwujudan nyata pada kecintaan terhadap bumi pertiwi. Sebagaimana dikutip dari perkataan Ustadz Hanan Attaki ketika ditemui sedang terjun langsung mendistribusikan bantuan kepada warga, beliau mengungkapkan bahwa di saat-saat seperti ini kita harus eksis, eksis dalam hal membantu kesulitan orang lain. Sebab dakwah itu adalah rohilah yang berarti mengangkat beban. Dan umat ini punya beban. Jangan sibukkan diri dengan berdebat siapa yang bertanggung jawab. Tapi ambillah peran yang kita bisa didalamnya. Sebab Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya manusia seperti unta sebanyak seratus, hampir-hampir tidaklah engkau dapatkan diantara unta-unta tersebut, seekor pun yang layak untuk ditunggangi (rahilah).” (Muttafaq Alaih). Hadits tersebut menunjukkan bahwa manusia itu banyak namun yang mau mengangkat beban orang lain itu sangat sedikit.

Sebagai perwujudan dakwah itu adalah rahilah, gerakan membantu atasi wabah corona memiliki respon luar biasa dari umat Islam di Indonesia. Ditengah kelangkaan alat medis, bahan pangan, hingga minimnya benda-benda yang mendukung kesterilan, semua lapisan masyarakat hadir bahu-membahu membantu dan memberi donasi. Tentu saja dengan beragamnya golongan Islam di Indonesia, umat islam Indonesia hadir ditengah huru-hara corona. Menampilkan gerakan aksi nyata tentang kecintaan mereka pada Indonesia yang beberapa tahun terakhir hanya dipelajari di mata pelajaran sejarah kemerdekaan hingga membuat bimbang; akankah Islam memang hadir untuk mendamaikan dunia?


Di tengah Indonesia yang darurat corona, ummat Islam serentak bahu-membahu membantu pencegahan corona. Sebagaimana dikutip dari instagram resmi @nucare_lazisnu, bahwa Tim Satgas Nahdlatul Ulama (NU) Peduli Cegah Covid-19 itu berperan aktif mengadakan edukasi online atau offline, pendistribusian paket sembako, pembagian masker gratis, dan penyemperotan disinfektan. Sementara pergerakan yang hampir sama juga diadakan oleh organisasi Muhammadiyah lewat Lazismu sebagaimana dikutip dari akun resmi @lazismupusat bahwa seluruh rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah giat melayani pasien terdampak corona dan aktif menyalurkan bantuan-bantuan lainnya untuk masyarakat. Selain dua organisasi Islam besar di Indonesia diatas, ustadz-ustadz kondang, relawan-relawan muslim, dan para influencer tak kalah berperan dengan membuka penggalangan dana untuk kemudian diserahkan pada lembaga pendistribusian bantuan dan sebagian turut terjun langsung dalam mendistribusikan bantuan itu ke masyarakat Indonesia.

Wabah corona yang menjangkiti Indonesia, membuat Islam banyak mewarnai perjuangan Indonesia dalam mencegah corona. Paradigma yang menyebutkan bahwa Islam hanya menjadi ikon menyeramkan yang mampu merusak keutuhan NKRI, patah sudah dengan aksi-aksi nyata ummat Islam yang membaur ditengah wabah corona. Perjuangan meluangkan waktu, tenaga, bahkan nyawa tanpa imbalan bahkan justru merogoh harta menjadi bukti bahwa begitulah sebenarnya Islam: hadir untuk kebaikan yang pengharapan balasan-Nya bukan ukuran dunia. Sampai detik ini, akun-akun yang mewarnai platform media sosial masih aktif memanggil peduli. Relawan-relawan tanpa imbalan turun membantu masyarakat. Bahu-membahu memulihkan Indonesia yang sedang sakit raganya. Umat Islam tak peduli agama apa dia segenap bantuan dan simpati itu mengalir untuk semua kalangan.

Umat Islam bahu-membahu mengajak kalangan lain masyarakat untuk bersama lawan corona. Tapi jika gerakan itu dilakukan oleh umat Islam, maka mereka adalah orang yang sedang mengamalkan apa yang memang telah diperintahkan dalam agama yang dianutnya. Dan sekarang kita mampu melihat dengan mata kepala, fakta yang ada, realita yang tampak di lapangan dan media: bahwa Islam membuktikan kalau dirinya ada bukan sebagai pemisah. Islam hadir dengan kecintaan totalitas kepada bangsa Indonesia. Dulu, sekarang, dan in syaa Allah sampai selamanya.

Wallahu A’lam Bi Shawab.

Oleh: Faradilla Awwaluna Musyaffa

Tidak ada komentar