Terhangat

Lockdown, Akankah Berhasil Mengerem Laju Penyebaran COVID-19?


Khartoum (El-Nilein) - Seperti yang telah kita ketahui beberapa bagian di seluruh negara di dunia memberlakukan sistem lockdown demi mengerem laju penyebaran virus corona (Covid-19). Baca artikel Majalah El-Nilein (15/04) “Pemberlakuan Lockdown Total di Kota Khartoum”. Tentunya hal tersebut menimbulkan pertanyaan, apakah cara lockdown dinilai akan berhasil, ataukah menimbulkan dampak lain?

Beredarnya video warga Amerika Serikat di beberapa negara bagian seperti Ohio, New Hampshire, dan Texas, “Ini adalah krisis kesehatan nomor satu di dunia, tapi tahukah Anda, para pemimpin perlu mendengar kami karena selain krisis kesehatan, ini adalah krisis ekonomi dan juga krisis kebebasan sipil.” kata salah seorang warga, dikutip dari AFPTV CNN Indonesia (19/04). Hal tersebut nampaknya melahirkan rasa pesimis di beberapa negara. Akankah lockdown menjadi solusi atau justru malah memantik masalah baru? Video yang menunjukkan warga yang sedang melakukan unjuk rasa di depan kantor pemerintah bagian negara masing-masing untuk mendesak pemerintah mengakhiri lockdown karena dianggap mengguncang ekonomi negara bahkan dunia seperti yang telah disinggung oleh seorang ekonom Malaysia, Dr. Yeah Kim Leng, saat merespon penerapan lockdown di negaranya. Ia mengatakan, “Dampak ekonomi akan tergantung pada kegiatan apa saja yang dibatasi dan seberapa luas dan berapa lama periode lockdown ditetapkan. Konsekuensi ekonomi yang akan dialami oleh negaranya Malaysia adalah pengurangan pengeluaran konsumen.” Ia menambah, “Jika berkepanjangan akan menyebabkan kegagalan bisnis dan PHK yang memperburuk penurunan ekonomi.” Selain itu, lockdown juga secara otomatis dapat memengaruhi mobilitas para pekerja, seperti yang belakangan ini terjadi di Singapura. Para pekerja yang berasal dari Malaysia tidak bisa masuk ke Singapura untuk bekerja selama lockdown berlangsung yaitu, dua minggu. Dilansir dari economictimes.com, “United Nations; Ekonomi global dapat menyusut hingga 1 persen pada 2020 karena pandemi virus corona (Covid-19)”.

Sumber: CNN Indonesia
Kendati demikian, cobalah kita melihat dari sudut pandang yang berbeda, lockdown di beberapa negara yang di anggap sukses dan membawa dampak positif, seperti Selandia Baru, Republik Ceko. Mengutip dari BCC News, Selandia Baru, Perdana Menteri Jacinda Ardern menerapkan kebijakan menutup akses perbatasan bagi setia warga asing mulai dari 9 Maret 2020 dan penguncian wilayah (lockdown) pada 23 Maret 2020 selama tiga pekan. Kebijakan ini merupakan dicatat sebagai kebijakan yang paling ketat di dunia. Dilansir dari The Guardian meski kurva kasus kematian terus menurun, pemerintah sama sekali belum berencana untuk melonggarkan bahkan mencabut kebijakan tersebut.

Hal serupa juga datang dari Republik Ceko, meski negara tersebut berbatasan langsung dengan Jerman, Austria, Slovakia, dan Polandia (yang termasuk negara besar dengan kasus corona tertinggi di dunia), namun dengan langkah gesitnya, Ceko merupakan negara Eropa pertama yang menutup perbatasan wilayah sebelum wabah ini menjalar. Presiden Milos Zeman mengumumkan perberlakuan lockdown dimulai pada akhir Maret 2020.  Menutup seluruh pertokoan dan bisis kecuali supermarket, bank, kantor pos, dan pom bensin karena di khawatirkan mengancam stabilitas perekonomian negara. Per hari ini Ceko tercatat memiliki kasus 6.746 dengan 181 angka kematian. Selain negara-negara di atas Denmark, Kepulauan Karibia, merupakan negara yang berhasil tekan kasus corona dengan cara lockdown.

Oleh: Malla Hasyimi

Tidak ada komentar