Terhangat

Benang Merah: Yahudi, Samawi, dan Hegemoni Pada Siklus Panggung Dunia (Bagian 2)

Oleh: Si Mireg (nama pena)
Mahasiswa Fakultas Adab, International University of Africa


Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Ketika mereka datang ke Madinah. bukan hanya ingin mendapatkan perlindungan dari bangsa kekejaman bangsa Romawi. Tetapi mereka juga berniat menjemput nabi yang terakhir setelah Musa dan Isa As. Mereka ingin “memaksakan” agar kenabian itu jatuh ke tangan mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar mampu membangun kejayaan bani Israil kembali seperti di zaman Musa dan Sulaiman as. Namun setelah menyadari bahwa kenabian bukan lagi di pihak mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al-Baqarah: 89 dijelaskan.

Dalam kemarahan mereka atas kenabian yang jatuh ke bangsa Arab dari keturunan Isma’il as, mereka menjadi lebih marah bahwa ternyata sang Nabi dilahirkan di Makkah, bukan di Madinah tempat mereka tinggal. Yahudi telah habis-habisan dalam penantiannya akan kedatangan Nabi penerus Musa as ini. Ratusan tahun sudah mereka tinggal di Makkah dan melebur dengan budaya Arab, berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anak mereka dengan istilah Arab, bukan istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus dan sebagian lainnya mendukung Khazraj.

Kemarahan mereka akhirnya tertuju kepada Allah Ta’âla swt. Mereka kecewa karena kenabian terakhir ternyata benar-benar turun kepada bangsa Arab (Al-Baqarah: 90). Terlebih lagi di al-Qur’an, Allah Ta’âla menjelaskan banyak kebusukan-kebusukan Yahudi. Mereka merasa dibenci oleh Allah Ta’âla. Bahkan tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa as diturunkan. Seperti yang telah diketahui dalm sabda beliau: “Tidaklah aku diutus melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan bani Israil.” Meskipun pada waktu itu nabi Isa as merupakan bagian dari bani Israil, tetapi kedatangannya membuat muram wajah kaum Yahudi, karena ternyata Isa as membawa kitab suci baru yaitu Injil (bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari zaman-zaman nabi sebelumnya). Nabi Isa as juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku bani Israil. Beliau dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya dibanding kepada mereka. Nah, kemarahan yang sudah “mekar” ini kemudian semakin menjadi ketika nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam lahir di kalangan bangsa Arab (Al-Baqarah:90).

Ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku kaum Yahudi, namun juga menyebabkan mereka “tercabut” hingga akar-akarnya dari Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, sperti bani Nadhir, Qainuqa, Quraidah hingga benteng terakhir mereka di Khaibar.

Setelah mengalami kekalahan berat dari sang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi lainnya di Eropa. Dalam masa ratusan tahun mereka menyebar di negara-negara Eropa seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.
 
Mereka mempunyai cara yang unik dalam mengembangkan komunitasnya. Mereka berbaur dengan masyarakat setempat, namun mengharamkan asimilasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya dan yang paling rawan, mereka membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan praktek-praktek ribawi dan melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual ini mereka mengorbankan warga setempat untuk dikuras darahnya lalu dipakai untuk persembahan. Begitu kejamnya sampai-sampai mereka membuat alat semacam drum yang didalamnya penuh dengan paku-paku yang dibagian bawahnya ada saluran untuk mengalirkan darah tersebut. Orang yang dikorbankan dimasukkan kedalam drum itu sampai tubuhnya penuh luka tusuk dari paku-paku tersebut sehingga darahnya mengucur ke bawah. Ritual semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara tertentu di Eropa, salah satunya Spanyol. Spanyol melarang Yahudi tinggal di negerinya sampai saat ini karena kekejaman mereka dalam soal ritual keji itu.

Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke negara-negara lain yang masih “mau” menampung mereka. Kebetulan waktu itu rakyat Eropa sedang memulai eksodus menuju benua Amerika yang menurut propaganda sejarah baru ditemukan oleh Columbus. Yahudi ikut didalamnya sampai Amerika merdeka dari tangan Inggris. Yahudi yang pada waktu itu telah berada di amerika mendapat peringatan dari Benyamin Franklin agar tidak bertindak semaunya. Bahkan sang presiden mengingatkan juga warganya tentang bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut bangsa Yahudi sebagai “vampir” yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Maka tepat sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang Yahudi di Eropa. Namun sangat di sayangkan bahwa bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang ditakutkan 400 tahun silam benar-benar terjadi (kapitalisme). Krisis finansial di Amerika saat ini adalah akibat nyata dari sistem ribawi Yahudi ini.


Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan (kalau tidak mau dibilang tidak) oleh para ahli sejarah adalah kedatangan Yahudi ke wilayah Turki-Utsmani. Kejadian ini terpisah jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Tentu setelah masa selama itu peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah telah dilupakan. Yahudi diterima dengan hangat ditengah-tengah masyarakat Turki Ustmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nasrani tinggal, selama mereka membayar Jizyah. Yahudi tidak dianiyaya di negeri ini, bahkan mereka diberi pelayanan dan hak-haknya sebagi dzimmy. Tentu saja Yahudi berlagak “sopan”. Di seluruh dunia tidak ada yang memperlakukan mereka secara manusiawi selain peradaban Islam. Di sini Yahudi tidak mungkin akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu, lagi pula Yahudi waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut dikutuk oleh Allah Ta’âla, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani, Yahudi tidak melakukan perbuatan-perbuatan bejat mereka, namun mereka berlaku baik. Tanpa diduga, disinilah mereka mempersiapkan segala konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan khilafah Islam justru dimanfa’atkan Yahudi untuk mempersiapkan Imperium kejahatan di seluruh dunia; Imperialisme-Sistem Tatanan Dunia Baru (Codex Allimentarius), seperti yang kita saksikan sekarang ini bahkan dimulai sejak awal dan tertera di dolar kertas Amerika “The all-seing eye- (Dajjal)” dalam agenda tersebut:




 

ANNUIT COEPTIS

the One Who Granted

“Yang Dianugerahi”




NOVUS ORDO SECLORUM

New World Order

Sistem Tatanan Dunia Baru



Berikut beberapa daftar kejahatan Zionis Yahudi (Yahudi ada dua: Ortodoks dan Liberal (Zionis)):



1.      Dalam ideologi: liberalisme, nihilisme, dkk.

2.      Dalam gaya hidup: hedonisme, pragmatis, instan, homoseksual, dkk.

3.      Makanan: penyebaran racun makanan yang disamarkan (aspartame; Acesulfame-K, artificial sweetener, nutrifos, nutri sweet, sweeteners. MSG; autolyzed yeast (ragiautolisis), kalsium kaseinat, glutamat, asam glutamat, protein hidrolisis, protein kedelai hidrolisis, protein sayuran  hidrolisis, monopotasium glutamat dan sodium kaseinat, dkk.) untuk melemahkan umat manusia (de-population program)

4.      Ekonomi: kapitalisme: IDB, IMF

5.      Politik: Negara baru Israel, “the power behind UNO”, dan lainnya.

6.      Sosial-Budaya: kebebasan berekspresi dalam seni (film, musik), generalisasi logo-logo yang mengagungkan akidah mereka; pyramid, tugu-tugu, simbol mata satu, bintang David, dkk.

7.      Pertahanan & keamanan: American Forces, Mossad, dkk.




Tidak ada komentar