Terhangat

Benang Merah Yahudi, Samawi, dan Hegemoni Pada Siklus Panggung Dunia (Bagian 1)

Oleh: Si Mireg (nama pena)
Mahasiswa Fakultas Adab di International University of Africa 

Sumber: history.com
Yahudi merupakan bangsa dengan sejuta misteri di dalamnya, dengan sejarahnya yang panjang pada sejarah umat manusia, tak lepas dari bayang-bayang bangsa Yahudi di dalamnya. Bangsa yang mengaku bangsa semit, aktor dunia, dan kekuatan yang berada di balik panggung dunia ini selalu membayangi setiap langkah perjalanan umat manusia sekarang di awal abad ke-21, Yahudi yang berdiaspora ke seluruh penjuru dunia pasca runtuhnya setelah masa Nabi Sulaiman AS telah kembali berdiri dengan adanya Israel di lautan bangsa Arab. Pasca kalahnya Islam dan Turki Utsmani pada perang dunia kedua, dan hegemoni keluarga-keluarga Yahudi yang menguasai London sebagai landlord dan banker pada saat itu, memudahkan langkah Yahudi membangun peradabannya kembali dan memulai kembali peradaban yang telah dijanjikan pada keyakinan mereka, The Great Israelia.

Akar Konflik Palestina Israel

Masalah konflik Palestina Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan bangsa lain. Ia adalah konflik antar peradaban, ideologi, sekaligus  agama yang usianya sangat tua. Di sana terbentang benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi, Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik antara Musa AS dengan Fir’aun bahkan konflik antara Yusuf AS dengan saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi yang diusung Iblis terhadap umat manusia.

Kondisi umat modern yang penuh kesulitan merupakan salah satu bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri adalah bangsa yang kuat’ di dunia, satu-satunya ras yang berani konfrontatif menentang kehendak Allah Ta’âla.

Sejarah Kebangkitan Yahudi

Semua ini sudah dimulai jauh sebelum era perang Arab, pembakaran masjid Aqsa, tragedi Sabra Satila, Intifadhoh akhir 80-an, tragedi Al-Khalil Hebron, penembakan Ad-Durah, pembunuhan Syaikh Ahmad Yasin dan ‘Abdul ‘Aziz Rantisi, dan lainnya, sampai serangan Israel saat ini.

Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Nabi Ibrahim AS. Ibrahim AS mempunyai 2 orang anak, Ismail AS dan Ishaq AS. Ismail nantinya mempunyai anak, Yaqub AS. Nah Yaqub AS inilah yang kemudian digelari Israil (yang didekatkan kepada Allah Ta’âla), sehingga anak-anak keturunan Yaqub AS. Inilah yang nantinya disebut Bani Israil.

Keturunan Nabi Yaqub AS ini adalah Nabi Yusuf AS, Benyamin dan sebelas saudara lainnya, semuanya berjumlah 13 orang: sesuai dengan “matahari”, “bulan” dan sebelas “bintang” yang terlihat dalam mimpi Yusuf AS yang sedang bersujud (menghormati) kepadanya (Q.S Yusuf 2-3). Karena itulah angka 13 merupakan angka keramat bagi Yahudi sampai saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dan lembaga-lembaga besar dunia dibuat dari karakter 13 ini.

Secara umum, sifat Bani Israil mewarisi 2 sifat besar; Shalih dan Thâlih. Sifat yang pertama diturunkan dari garis Yusuf AS, sedangkan sifat yang kedua diturunkan dari sifat-sifat saudara Yusuf AS yang berbeda ibu. Di sana sudah tampak bakat-bakat kelicikan, dengki, kebohongan dan sebagainya. Namun itu sebatas potensi, bukan kemutlakan takdir, apalagi pada akhirnya di akhir hayat Yaqub AS, semua anak-anaknya tunduk dalam agama tauhid (al-Baqarah: 133). Berbicara tentang Bani Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian orang sangat durhaka. Namun setelah datang Islam, mereka diharuskan memeluknya, apabila tidak, maka mereka seluruhnya durhaka tanpa toleransi sedikitpun (Ali-‘Imran: 85)

Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Nabi Yusuf AS. bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa-jasa Yusuf AS yang membantu bangsa Mesir, maka mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir di wilayah Kan’an. Di sana Yaqub AS dan anak-keturunannya mulai membangun kehidupan. Mereka memilih wilayah tersebut karena berdekatan dengan wilayah Mesir yang makmur, sedang di wilayah asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak-keturunan Yaqub AS sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya hubungan bangsa Mesir dengan anak-keturunan Yaqub AS lama-lama menjadi buruk. Alih-alih Mesir menghargai jasa-jasa Nabi Yusuf AS di masa lalu, mereka malah menjadikan Bani Israil sebagai budak-budak, setelah sepeninggalnya Yaqub dan Yusuf AS. Hal ini bisa kemungkinan antara dua hal; sifat buruk Bani Israil sendiri atau tabiat menindas bangsa Mesir, namun jika mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap adil pada Yusuf AS, kemungkinan hal ini dikarenakan Bani Israil sendiri.

Era perbudakan Bani Israil yang dilakukan oleh bangsa Mesir sangat menghawatirkan, bukan hanya kejam namun juga menghancurkan karakter sebuah bangsa (Bani Israil). Bisa dibayangkan penindasan ini terjadi selama ratusan tahun. Bani Israil diberi anugerah berupa bakat-bakat kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di bawah sistem perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran yang luar biasa. Oleh karena itu, Allah Ta’âla mendatangkan Musa dan Harun AS untuk menyelamatkan mereka. Misi dakwah ini sebenarnya selain agar Fir’aun yang waktu itu tidak bersikap sombong di bumi, juga untuk membebaskan Bani Israil dari cengkraman dan penindasannya (Al-A’râf: 104-105). Musa AS awalnya tidak diperintahkan untuk memerangi Fir’aun, hanya membawa Bani Israil ke tanah yang disucikan (Ardhul Muqaddas). Namun karena Fir’aun mengejar mereka, akhirnya ditenggelamkanlah ia beserta bala tentaranya (Al-Baqarah: 50)

Musa AS berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di Laut Merah. Lalu mereka berdiam di Ardhul Muqoddas (sekarang Palestina) itu setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbariin di dalamnya (Al-Maaidah: 20-26)*. Ini adalah peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era Yaqub AS dan Yusuf AS di wilayah Kan’aan. Musa dan Harun AS mendampingi mereka hingga wafat. Namun ketika Musa dan Harun AS ,masih hidup, Bani Israil tak henti-hentinya menguji kesabaran mereka berdua. Berapa banyak kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri. Diantara sikap-sikap tersebut ialah; mereka menyuruh Musa dan Harun AS berperang di tanah tersebut sedangkan mereka maunya duduk-duduk saja; mereka meminta agar dibuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu, mereka mengikuti Samiri untuk menyembah patung anak lembu dari emas; mereka hendak membunuh Harun AS karena selalu menasehati mereka; mereka hampir saja tidak melakukan perintah Allah Ta’âla untuk menyembelih sapi betina, kerena terlalu banyak bertanya sebagai alasan; mereka secara terang-terangan mengungkapkan kebosanan mereka memakan Manna dan Salwa dan meminta bawang, mentimun, kacang adas dll sebagai penggantinya. Namun begitu sabarnya nabi Musa, sehingga Nabi Muhammad shallallâh ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Semoga Allah Ta’âla merahmati Musa, karena ia telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar.” (HR. Bukhori Muslim). Sangat mengagumkan apabila melihat ketabahan perjuangan Musa AS. Orang-orang Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal di era nenek moyang mereka, Musa AS benar-benar mereka sia-siakan. Nabi Musa AS lebih dekat kepada kita daripada Yahudi La’natullah itu. Kemungkinan sifat-sifat durjana kaum Yahudi ini merupakan kristalisasi dari sifat-sifat buruk mereka selama ratusan bahkan ribuan tahun, sejak perilaku mereka kepada Musa as, Dawud as, Sulaiman as, Zakariya as, Yahya as, Isa as dan nabi-nabi lainnya ‘alaihimussalaam, sampai kedurhakaan mereka terhadap Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Dalam al-Qur’an disebutkan sebuah ayat yang terasa bagai petir yang menimpa mereka (al-Baqarah: 61).

Peradaban terakhir Bani Israil yang berwujud di muka bumi ialah kerajaan Nabi Sulaiman as di Palestina. Beliau adalah putra dari Nabi Daud as dari salah seorang istrinya yang berhasil mengalahkan Jalut (oleh karena itu di Barat terkenal kisah David and Goliath). Nabi Sulaiman yang dikenal di Barat dengan nama King Solomon, sampai sekarang kekayaan beliau masih diperdebatkan (diperebutkan) keberadaaanya setelah masa kenabian Sulaiman berlalu, peradaban Bani Israil  semakin merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari kerajaan Byzantium (Romawi) hal tersebut dijelaskan dalam surat al-Israa’: 4-5.

Setelah Bani Israil tercerai berai di Palestina, mereka menyebar ke berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak benua India dan lain sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah diaspora. Mereka bercerai-berai agar mendapat keamanan di Eropa, menjilat kepada penguasa Romawi sekaligus menghasut Romawi agar memusuhi nabi Isa as dan para pengikutnya. Kisah ashabul kahfi adalah sebagian pecahan dari para pengikut Isa al-Masih as.

(bersambung)

Tidak ada komentar