Terhangat

Ngalor-ngidul Soal Uang Kertas: Dari Karya Seni Hingga Identitas Nasional

Ngomongin soal uang, tentu kita semua tahu bahwa uang adalah alat pembayaran yang sah. Bentuknya pun beragam ada yang berbentuk logam, kertas, dan seiring berkembangnya zaman, sekarang sudah ada yang namanya uang elektronik. Tapi, kalau diulik lebih dalam lagi, ternyata uang memiliki nilai lain, bukan sekedar nominal yang tertera di dalamnya. Terlebih uang kertas, yang banyak terdapat gambar-gambar pahlawan, atau pemandangan alam Indonesia, juga flora dan fauna yang ada di negeri kita. Lalu siapakah pelukis gambar-gambar tersebut?

Adalah Mujirun. Seorang pelukis uang kertas atau biasa disebut dengan sebutan delivanit. Namanya memang tak begitu terkenal, tetapi hasil karyanya di atas uang kertas, jangan  ditanya, kita semua pasti akrab kalau disebutkan semua satu-persatu. Bapak kelahiran 26 November 1958 ini setidaknya telah melukis 13 uang kertas Indonesia. Beliau bekerja di Perum Peruri sejak 1979 dan pensiun di tahun 2009. 

Teknik yang beliau pakai untuk melukis adalah teknik engraving. Teknik mengikis sebagian permukaan material dengan pola tertentu. Teknik yang sangat jarang orang banyak miliki, membutuhkan kedisiplinan, ketelitian yang sangat tinggi. Untuk pengerjaan satu halaman muka uang kertas, setidaknya mebutuhkan waktu 3-4 bulan lamanya. Prosesnya, Mujirun mengukir plat baja dengan alat ukir khusus yang ujungnya mirip dengan huruf ‘V’. Komposisi seperti gelap-terang, bayangan, hingga lukisan tersebut berdimensi dibedakan dengan ukiran-ukiran garis pada plat baja tersebut. Teknik engraving pada pembuatan mata uang merupakan bentuk pengamanan. Karena dengan kerumitannya uang akan susah untuk dipalsukan tetapi tetap menghasilkan gambar yang apik dan realistis.

Mujirun dan "Pak Harto Mesem", dok. Bank Indonesia


Beberapa karya Mujirun diantaranya, gambar “Pak Harto Mesem” pada pecahan uang Rp 50.000 yang dikeluarkan pada tahun 1995. Kemudian gambar pahlawan Sisingamangaraja XII pada pecahan uang Rp 1.000 keluaran tahun 1987, gambar rusa Cervus timorensis pada pecahan Rp 500 keluaran tahun 1988. Gambar anak Gunung Krakatau pada pecahan Rp 100 keluaran tahun 1991. Gambar Ki Hajar Dewantara pada pecahan uang Rp 20.000 cetakan tahun 1998. Gambar Paskibraka pada pecahan Rp 50.000 cetakan tahun 1999. Gambar Kapitan Pattimura pada uang Rp 1.000 dan Tuanku Imam Bonjol pada pecahan Rp 5.000, keduanya dicetak di tahun yang sama, yaitu 2001.

Beliau juga yang menggambar pahlawan Otto Iskandar Dinata pada uang Rp 20.000 yang dicetak di tahun 2004. Dan karya terakhir, gambar pahlawan I Gusti Ngurah Rai pada pecahan Rp50.000 yang dicetak di tahun beliau pensiun, 2009. 

Selain Mujirun, Indonesia juga memiliki delivanit lainnya. Adalah Junaelis (namanya masih menggunakan ejaan lama, dibaca Yunaelis), lelaki kelahiran Bukittinggi, 14 Juni 1924, ini mulai bekerja di Peruri sejak berusia 21 tahun, tepatnya pada 1 Agustus 1955. Waktu itu Perum Peruri belum berdiri. Junaelis bekerja di PN Pertjetakan Kebajoran yang merupakan cikal bakal dari Perum Peruri. Ia bekerja sebagai delivanit hingga akhir hayatnya, yakni ketika meninggal dunia pada 10 September 1976. 

Selama 21 tahun bekeja di Peruri,beliau menghasilkan banyak karya, diantaranya seluruh uang seri pekerja yang terbit di tahun 1958, yang kemudian diterbitkan lagi di tahun 1963 dan 1964. Lalu uang pecahan Rp 1 dan Rp 2.5 cetakan tahun 1960 dan pecahan yang sama juga di tahun 1968. Karya beliau yang cukup populer dan terkenal adalah uang pecahan Rp 10.000 yang dicetak tahun 1975. Karya tersebut bisa dibilang salah satu desain terfavorit bagi para kolektor uang lama, karena gambar barong yang ada di dalamnya. Dan karena coraknya itu pula, uang itu memiliki sebutan ‘Uang Barong’.
Uang Barong. Sumber: http://www.uang-kuno.com/2014/08/kisah-si-barong.html

Nama delivanit berikutnya adalah M. Sadjiroen. Lahir di Kendal, 4 Maret 1931.Beliau memulai karir di Peruri sejak 12 Desember 1955 sampai 1 April 1987. Kalau dihitung-hitung, beliau bekerja sebagai delivanit selama 31 tahun lamanya. Beberapa karyanya adalah uang seri Sudirman pecahan Rp 5 hingga Rp 10.000. di tahun 1958, M. Sadjiroen bersama Junaelis mendesain uang kertas bersama pada pecahan Rp 10, Rp 50, dan Rp 500. Dan bekerja sama lagi pada pecahan yang sama di tahun 1964. Ada fakta menarik, setiap kali keduanya bekerja sama, entah disengaja atau tidak M. Sadjiroen selalu mengerjakan bagian belakang yang disebut reverse, sedangkan Junaelis kebagian dibagian muka yang disebut obverse. 

Pada tahun 1980an, tepatnya 1980-1988 ada 4 nama delivanit yang namanya kerap ditulis di uang-uang cetakan BI. Adalah Sudirno, AL Roring, Soeripto, dan Heru Soeroso. Sebagian uang kertas Indonesia yang dicetak kisaran tahun 1952 hingga 1988 mencantumkan nama para delivanit. Keterangan tersebut dapat dilihat dibagian muka uang, tepatnya sebelah kiri bawah. Nama pelukisnya ditulis dengan huruf kapital diikuti tulisan ‘DEL.’,yang merupakan singkatan dari delivanit. Contohnya sebagai berikut; JUNAELIS DEL., HERU SOEROSO DEL., dan SOERIPTO DEL. Namun, setelah tahun 1988, Peruri tidak lagi mencantumkan nama para delivanit lagi.

Nilai yang bukan sekedar nominal

Menurut Drs. Baskoro Suryo Banindro, M. Sn. Dosen dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, gambar pada uang kertas adalah salah satu hasil karya seni rupa. Di dalam uang kertas terkandung nilai estetika yang berhubungan dengan masalah keindahan visual, antara lain tersusun atas elemen huruf, gambar, warna, serta teknik cetak yang khas. Selain itu gambar pada uang kertas sarat dengan muatan informasi atau bahkan kode visual. 

Memahami seni adalah usaha membaca simbol yang digunakan dalam budaya masyarakat tertentu. Manusia dapat mengekspresikan dan memancarkan pengalamannya dalam bentuk wujud atau rupa. Dalam uang kertas, ekspresi visual yang dituangkan dapat mencerminkan gagasan, ide, konsep, atau bahkan muatan politik terkait legitimasi dan ideologi. Melalui uraian semiotika visual gambar uang kertas yang pernah beredar di Indonesia akan dikaji makna-makna simbolik bahasa rupa di dalamnya. 

Uang kertas seri pahlawan dan kebudayaan dengan gambar RA Kartini emisi tahun 1952 nominal Rp 5 adalah uang kertas pertama yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan didesain oleh C. A. Mechelsea, dicetak oleh Thomas De La Rue.

Sumber: http://aes.iupui.edu/rwise/countries/indonesia.html
 Dominasi warna monokromatik biru dipenuhi dengan stilasi pohon hayat, flora dan fauna. Konotasi makna simboliknya RA Kartini adalah pahlawan wanita dan sebagai pelopor emansipasi di Indonesia. Sudah sepantasnya mendapat penghargaan dan pengakuan secara nasional. Ragam hias pohon hayat ,stilasi flora dan fauna mencerminkan bahwa indonesia kaya akan nilai tradisi yang bersumber dari warisan budaya leluhur. Mitos yang muncul dari kode visualnya menyampaikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya serta menjunjung tinggi nilai tradisi dan budayanya sebagai satu aset bangsa. 

Dr. Sri Margana, M.Hum., M.Phil., bersama tiga rekannya (Abdul Wahid, Wildan Sena Utama, dan Ravando) sejak pertengahan 2016 melakukan kajian holistik untuk meriset bagaimana latar belakang ekonomi, politik, numismatik, sistem pengamanan, makna gambar, hingga pelukis uang rupiah. Penelitian tersebut diprioritaskan terhadap 12 pecahan mata uang yang terpilih cetakan tahun 1952 hingga 1955. Menurutnya selembar uang kertas yang beredar di suatu negara tak hanya mengandung nilai kebendaan sebagai alat tukar saja. Bila merujuk pada gambar-gambar yang tersemat, termasuk wajah pahlawan, uang merefleksikan  nilai-nilai historis, kebudayaan, identitas nasional, hingga alat politis.
Sumber: Wikipedia Commons
Banyak yang sudah dihasilkan dari penelitian tersebut, salah satunya makna dari adanya dua tokoh pahlawan di uang kertas keluaran tahun 1950-an yaitu RA Kartini dan Diponegoro. Margana mengungkapkan bahwa dua tokoh itu (RA Kartini dan Diponegoro) adalah tokoh sejarah pertama dalam uang kertas yang dicetak pertama kali oleh BI. Kartini tersemat pada uang kertas Rp 5 sedangkan Diponegoro pada uang Rp 100 yang dicetak di tahun 1952.

Siapa yang dianggap tokoh dan disegani (ditampilkan dalam uang kertas) salah satunya Kartini. Jadi yang dikenal dan dia layak disematkan pada uang pertama.” jelas Margana pada sebuah wawancara. 

Reputasi Kartini sebelum Indonesia merdeka memang sangat menonjol, bahkan, kata Margana, ia tak hanya diakui oleh orang Indonesia saja. Pemerintah kolonial pun segan terhadapnya. Karena ia memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan anak-anak. Sedangkan Diponegoro, sudah lama menjadi lambang atau inspirasi bagi para kaum pergerakan. Ia adalah simbol perlawanan kesultanan Mataram dan rakyat Jawa terhadap kolonialisme. 

Menilik gambar pahlawan yang ada di masa itu hampir bisa dipastikan tema pahlawan itu dipilih untuk merespon kondisi sosial-politik Indonesia yang tengah gigih menjaga dan memperoleh kedaulatan. Saat itu pemberontakan lokal juga banyak terjadi. 

Benar adanya, uang kertas bukanlah sekedar alat tukar yang berlaku di suatu negara. Ia juga memiliki nilai karya seni yang tinggi dikarenakan kerumitan dan ketelitian dalam proses pembuatannya. Sehingga sulit untuk dipalsukan. Selain itu, uang juga menjadi simbol semangat nasionalis juga identitas nasional yang mudah disebarkan di mana saja, kapan saja, juga siapa saja. Dari gambar para pahlawan, semangat nasionalis bisa disebar dan diedukasikan dengan mudah. Dengan gambar lanskap pemandangan, budaya, flora dan fauna, uang kertas menyebarkan semangat bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya. Sekian ngalor-ngidul kali ini.

Oleh Faruq Al-Quds
 
Pustaka:
· Agnesia, Ratu Selvi (2016) Diponegoro Hingga Soeharto Tersenyum di Lembaran Rupiah https://jurnalruang.com
· Nurhuda, Eko (2012) Mengenal Perancang Uang https://uanglama.com
·  Arifin (2010) Delinavit (Pelukis Uang) https://uang-kuno.com

Tidak ada komentar