Terhangat

Jebakan Dalam Jargon Green Lifestyle

Seiring lajunya industri umat manusia yang dimulai sejak Revolusi Industri beberapa abad lalu, semakin banyak pula informasi dan pertimbangan baru yang terekspos dan kemudian diperhatikan dalam praktik industri. Konsentrasi para pelaku industri di masa lalu terpusat pada efisiensi kerja dan dimensi praktikal mesin yang terbuktikan dengan semakin mengecilnya ukuran mesin dan perangkat yang digunakan dan juga  terbuktikan dengan beragamnya bahan yang digunakan sebagai sumber daya mesin dari batu bara, minyak, energi kinetik, energi angin, listrik, dan sebagainya. Pada saat itu, para pelaku dunia industri masih memusatkan perhatian kepada hasil produksi yang sebesar-besarnya dengan menggunakan sumber sesedikit mungkin. Untung sebesar mungkin dengan modal sekecil mungkin, prinsip ekonomi ini dianut secara religius pada masa itu.
Sumber: pixabay.com

Akan tetapi, di awal milenia kedua, mulai terbentuk satu entitas baru dalam tatanan masyarakat sosial politik dunia internasional. Gerakan-gerakan yang mengumandangkan pentingnya penjagaan alam, konservasi lingkungan hidup, serta pemastian akan keberlangsungan siklus hidup di bumi mulai bermunculan. Mulai dari organisasi internasional sepeti PETA, Greenpeace, dan WWF, hingga organisasi lokal seperti Walhi yang kerap direpresentasikan oleh salah satu personil band punk di Bali, Jerinx.

Kehadiran mereka bukan tidak beralasan. Proses industri yang terus berkembang dari dulu hingga masa kini abai akan dampak yang muncul dari proses ini pada lingkungan sekitarnya. Limbah-limbah pabrik mengaliri sungai hingga ke laut, mencemari banyak ekosistem yang efeknya masih akan terasa di masa depan. Hutan-hutan dan lahan terbuka dibabati dan ditimpa dengan bangunan pabrik, galian tambang, hingga infrastruktur penunjang industri tertentu. Kalimat global warming pun mulai marak dilontarkan para ilmuwan, dikatakan suhu bumi akan meningkat, begitu pula garis pantai yang terus naik disebabkan melelehnya benua Arktik dan Antartika. Seiring global warming, istilah efek rumah kaca pun makin dikenal masyarakat. Hal-hal seperti inilah yang menjadi pemicu munculnya kampanye konservasi oleh gerakan-gerakan tadi.

Cepat dan lambat, narasi kampanye konservasi mulai diterima dan dicerna masyarakat. Kesadaran mulai muncul akan pentingnya turut serta dalam konservasi massal. Dengan sendirinya, muncul satu tren baru, green lifestyle alias gaya hidup hijau. Jargon ini terpatri dan digunakan secara sadar oleh para penduduk bumi hingga akhirnya menjadi perhatian baru para pelaku industri. Mulailah bermunculan produk-produk yang melabelkan dirinya sebagai hasil dari proses daur ulang atau juga yang meninggalkan jejak ringan kepada lingkungan, menghasilkan sampah yang minimal, menyumbangkan keuntungannya untuk konservasi alam.

Akan tetapi konsep green lifestyle ini banyak mengalami miskonsepsi saat dijadikan sebagai jargon dalam dunia komersil.

Mari kita ambil contoh di dunia global. Salah satu produser produk pembersih terkenal dunia, Clorox yang masyhur dengan pemutih berbahan dasar klorin, pada tahun 2008 meluncurkan Green Works yang diklaim berefek ringan pada lingkungan, 99 persen bahan-bahan alami, dan biodegradable. Produk ini mampu menaikkan penjualan Clorox sebesar 12 persen dalam setahun. Masalahnya adalah, di saat yang sama, Clorox juga tetap memproduksi dan menjadi pemimpin utama sebagai penyumbang limbah beracun di kalangan produk pembersih. Ia mempromosikan produk ramah lingkungan dan menyumbang limbah merusak dalam waktu yang sama. Bahkan berikutnya, produk Green Works sendiri ketahuan menggunakan bahan-bahan sintetik dan berbahaya. Dalam hal ini, maka green products hanyalah jargon iklan, sebuah gimmick dalam marketing yang bertujuan menambah pundi-pundi perusahaan.
Sumber: mayoclinic.org

Regulasi yang dibentuk pemerintah-pemerintah dunia pun masih mengalami kecacatan dalam regulasi itu sendiri ataupun dalam penerapannya. EPA (Enviromental Protection Agency) di Amerika Serikat telah mengalami kegagalan dalam mengenali dan memberi sanksi pada pelaku industri dan produk yang melanggar regulasinya. Clorox dan Green Works termasuk dalam daftar kegagalan ini. Di Indonesia, meskipun sudah muncul Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada tahun 2009, masih mengalami inkompetensi SDM dalam menerapkan aturan demi aturan di dalamnya.  Tercatat di Bogor pada tahun 2019, setelah Ombudsman RI mempertanyakan tentang tindakan atas ribuan industri yang diduga tidak mengantongi izin lingkungan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor menyatakan ketidaktahuannya tentang izin dari industri-industri tersebut.

Oleh karena itu, dalam penerapan gaya hidup hijau ini, para konsumen perlu untuk lebih kritis lagi dan tidak terjebak dalam embel-embel dan jargon dari produsen dan penjual. Setiap hal harus diperhatikan dan diteliti oleh bidang peneliti yang mumpuni agar barang-barang dan jasa yang digunakan betul-betul memiliki dampak positif bagi alam atau seminimalnya dapat mengurangi dampak yang merusak terhadap alam.

Oleh: Ismail Musyafa Ahmad

Sumber:
https://www.thestreet.com/story/12805916/1/eco-friendly-fakes-don-t-trust-label.html

Tidak ada komentar