Terhangat

Pergaulan yang 'Sehat' di lingkungan Indonesia



Mempersempit definisi dari suatu kata merupakan salah satu faktor utama kesalahan seseorang dalam mengambil langkah. Ia mengartikan sesuatu hanya dalam batasan itu, maka ia melangkah hanya dalam ruang lingkup itu.

Sederhananya, ketika kritis diartikan oleh seseorang hanya dengan berkomentar. maka ia akan menganggap dirinya kritis ketika sudah mengomentari sesuatu, atau seseorang. tanpa peduli ia turut memberikan solusi setelah komentarnya atau tidak.

Yang lainnya, tentang produktif. Tak sedikit seseorang yang mengartikan produktif hanya sesempit aktif di suatu organisasi. atau yang terlebih, megejar jabatan tinggi di suatu organisasi.

Ketika definisi sesempit itu sudah melekat dalam diri seseorang, maka kata 'ambisius', atau mungkin yang lebih ringan, kata 'semangat', hanya bisa diterapkan dalam lingkungan organisasi. Dan jika ada orang lain yang mengalihkan ambisinya untuk berkembang dalam hal selain organisasi, maka dengan mudah orang lain itu dicap sebagai orang yang tidak produktif. Karena secara otomatis, fokus orang lain ini terhadap organisasi akan menurun dan terlihat 'tidak aktif'. Dan setelah terlihat 'tidak aktif', maka orang lain ini entah apapun yang ia lakukan akan tetap dianggap tidak produktif.

Itu hanya sedikit gambaran tentang mentalitas pergaulan Orang Indonesia. Judgement. atau lebih spesifiknya, Mahasiswa Indonesia. Dimanapun belajarnya.

Dan dalam perumpamaan di atas sengaja dipilih dua kata sakti mahasiswa dalam kesehariannya. Dua kata yang hampir selalu melekat dalam diri mahasiswa. Dua kata itu adalah Kritis, dan Produktif.

Pengelompokan bukanlah sesuatu yang bisa dipisahkan dalam suatu masyarakat. Tidak harus kelompok formal yang memiliki bentuk fisik. Pengelompokan pola pikir juga pasti terjadi dalam suatu masyarakat. Walaupun bisa dibilang, ini merupakan awal mula dari suatu kelompok fisik, entah itu pergerakan, organisasi, dan lain sebagainya.

Namun yang sangat disayangkan adalah penyempitan pola pikir masih sedikit menjadi budaya di lingkungan Orang Indonesia.

"Yang orang sana ngomongin orang sini, yang orang sini ngomongin orang sana". well, itu masih cukup baik jika topik pembicaraannya bersifat positif. Sedikit naik sifat pengelompokkannya.

"Yang orang sana mengkritik orang sini, yang orang sini mengkritik orang sana". Sampai di titik ini, masih bersifat positif jika kritikannya cukup membangun, atau menyertakan sebuah solusi dalam kritikan tersebut.

Tapi seperti perumpamaan di awal tadi, budayanya kritik masih diartikan dengan mengomentari. Maaf mungkin tepatnya, mengomentari secara pedas. entah ada solusinya atau tidak. Tanpa men-generalisasi, hanya sedikit menceritakan pengalaman. Sedikit menaikkan tingkat pengelompokkan lagi.

"Yang orang sana menghina orang sini, yang orang sini menghina orang sana". Seharusnya semua orang baik sudah mulai berpikir untuk berhenti di tahap ini. Karena selangkah lagi, judgement dan pengelompokan akan berubah menjadi permusuhan.

Tak terlalu buruk jika orang ini tau apa yang dihina dari seseorang ini. Tapi, sekali lagi tanpa men-generalisasi, Budaya Indonesia masih membuat seseorang menghina orang lain secara keseluruhan. Bukan hanya satu hal yang dia anggap sebagai penyebab kesalahan. Bukan hanya perilakunya, namun pribadinya secara keseluruhan.

"Yang orang sana membenci orang sini, yang orang sini membenci orang sana" di titik ini, sebuah fanatisme dengan menyudutkan kelompok lain benar-benar bisa lahir. Fanatisme, maniak, judgement, dan hampir semua hal yang berbicara tentang "Apapun yang kita lakukan, saya benar, kamu salah" lahir dan mengakar dalam diri seseorang.

Mungkin tahapannya ada yang tertukar? Antara mana yang lahir terlebih dahulu? membenci dulu atau menghina dulu?
Well, umumnya orang tak akan menghina jika tidak membenci. Dari sini, bisa dibilang bahwa yang lahir terlebih sulu adalah membenci.

Namun, ketika membenci yang dimasukd adalah fanatisme dan judgment buta tanpa mau melihat satupun sisi positif dari orang lain, maka dari sini bisa dibilang bahwa yang lahir terlebih dahulu adalah membenci. Karena dalam lingkup ini, ketika kita 'hanya' menghina, maka kita masih bisa melihat sisi positif dari orang lain, beda halnya dengan fanatisme dan judgement yang sudah mengakar.

Mengutip dari ungkapan yang cukup familiar, "Jadilah manusia yang memanusiakan orang lain"
Dalam tulisan ini, kita akan coba melihatnya dari sudut pengelompokkan pola pikir.

Kita tidak harus menyalahkan orang lain dengan perbedaan pola pikir, karena itu sudah menyangkut dengan prinsip dan kebiasaan diri seseorang. Kau menyinggungnya, maka kau membuka pintu perselisihan antara manusia.

Jika ternyata harus mengkritik, berilah kritik beserta solusinya. Atau setidaknya, kritik yang membangun. Sentuh hal positif yang ada dalam orang tersebut, lalu berikan usulan agar orang tersebut mulai memfokuskan kepada hal positif tersebut, sembari berusaha mengurangi hal negatif yang membuat kita ingin mengkritik orang tersbut.

Karena kita cukup tau, bahwa selalu ada kebaikan bahkan di tengah buruknya orang terkelam sekalipun.

Dan jika sangat terpaksa harus membenci, kita harus megetahui apa yang kita benci dari orang tersebut. Dan kita harus mengetahui kapan berhenti membenci orang tersebut. Mungkin ketika hal negatif yang kita tidak setujui mulai turun intensitasnya. Atau mungkin ketika hal positif yang kelompok itu miliki mulai meningkat intensitasnya.

Well, kita tak harus membenci seseorang secara kesuluruhan dan men-generalisasi secara buta. Kita juga tak harus membenci seseorang selama-lamanya.

Jadi sederhananya bisa dikatakan,
yang lebih penting dari bersikap kritis, adalah menjadi baik.
yang lebih penting dari berperilaku produktif, adalah menjadi bijak.


Wallahu A'lam bish Shawwaab.



Penulis: Muhammad Izzuddin
Sumber Gambar: darmawanaji.com

Tidak ada komentar