Terhangat

Lengan Yang Mengelana


Malam Minggu di Zagalona

Tidak ada malam minggu yang ditunggu.
Kita berbicara menggunakan isyarat udara.
Setiap oksigen dan karbonmonoksida berebut menyetubuhiku di magrib yang kantuk.

Aku merasakan cabang pohon ranggas menggenggam tanganku dengan malas.
Aku hanya bisa melihat samar tubuhmu di antara kaki burung elang yang pincang.

Ada yang terlalu luas untuk dijelajahi bagi laki-laki yang hanya bisa melihat sekelompok shufi melingkar, bergantian memuji-muji nabi
sedangkan laki-laki lain terlelap bersama kaca dan mata kekasihnya.

Dan jarak adalah jarum yang menjahit sajak-sajak di dada yang terbelah.
Suara tangis keledai yang menarik gerobak dengan gugup, membuat aku ingin menggali malam untuk memakamkan tangisku yang dalam


Kebencian Pada Suatu Kota

Aku tidak ingin tinggal di kota
yang setiap hari menyeka kesepian orang-orang
di antara kerumunan dan keramaian.

Berangkat pukul enam pagi membawa sepotong mimpi yang terlalu cepat pergi
Pulang pukul lima sore dibebani rindu rumah yang tidak diijabahi.

Malam memeluk mukaku yang sudah penuh debu
Sebelum tidur, aku berharap jendela dan pintu menahan matahari mengendalikan diriku.

Burung Merpati

Apa yang bisa dimiliki burung merpati yang terkurung di sayapnya sendiri ?

Hanya pekarangan sunyi dan beberapa jemuran sembap yang belum sempat diangkat

Ranting rindu yang patah oleh kabut pagi yang linu,
Angkasa yang pecah menjadi butir hujan dan meluncur ke kaca jendela menjadi luapan di dada.
Menjadi banjir yang membawa kenangan menggenang menghalangi laju tumbuh pepohonan pinggir jalan.

Magrib di Dua Kota

Khartoum dan kegelisahan biji-biji tasbih yang bergantian mencium jari-jari sore.

Menanti azan maghrib yang terbang menebarkan benih-benih keimanan
di ladang-ladang yang mengelupas di jalanan.

Surabaya dan kegugupan peluh yang berkejaran dengan laju kendaraan yang bergerak lamban.

Maghrib hampir sama persis dengan sarapanku yang sedikit.
Sama-sama menjadikanku tamu untuk rumahku.
Aku lebih senang terdampar dan tersesat di kemacetan.

Lengan yang Mengelana

Di lengan ayah, ombak laut pantai Patawana
dan tawa ibu di plaza Tambaruni merayap ke pipi.

Mereka tidak berani menyalakan lampu kamar di dekatku.
Ranjang lengang tanpa awan hitam yang berpegangan di bulan.

Ayah tidur di sampingku.
Meredakan hujan yang tak kunjung reda di badanku.
Melenyapkan kebakaran yang menyebar cepat sewaktu-sewaktu.

Lengannya menjangkau jauh ke dalam dunia yang dirampas masa remajaku.

Penulis: Yahya Ayyash

1 komentar: