Terhangat

Bukan Sekedar Kupu-Kupu


Apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika membaca judulnya? Tentu seekor hewan kecil nan cantik yang hinggap dari satu tangkai ke tangkai yang lain, yang berpindah dari satu bunga ke bunga yang lain. Tidak, bukan itu yang penulis maksud. Ia adalah sebuah akronim yang cukup masyhur pada beberapa dekade terakhir, bahkan ia seakan telah menjadi syndrome yang telah menjangkiti kebanyakan mahasiswa zaman ini. Kuliah pulang-kuliah pulang itulah kupu-kupu yang penulis maksud, gambaran tentang sebuah kondisi mahasiswa yang mengisi kegiatannya dengan pergi ke tempat kuliah atau pulang ke kos atau ke kios-kios, tidak lebih.

Ketidakpedulian, seringkali menjadi faktor utama seorang mahasiswa bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Ia hanya belajar dan belajar, tidak peduli dengan perkembangan lingkungan dan masyarakatnya, baik masyarakat kampus maupun masyarakat luar kampus. Ia berdalih study oriented. Padahal study tidak pernah menghendaki para peserta didiknya hanya cerdas dari sisi intelektualnya saja melainkan emosional dan spiritualnya. Sungguh study yang malang, selalu dijadikan kambing hitam karena ego pribadi.

Keikutsertaan kita dalam sebuah organisasi setidaknya bisa mengurai satu per satu benang yang membungkus peran dan potensi kita selama ini. Karena belajar tidak sekedar materi kuliah melainkan proses interaksi dengan banyak orang dengan segala sifat dan tabiatnya, proses memberikan manfaat dan mengambil manfaat, proses mengungkapkan bahasa baik verbal maupun non verbal dan banyak lagi yang lainnya yang tidaklah kita dapatkan kecuali dengan mendermakan sebagian pikiran, tenaga dan waktu kita dalam organisasi.

Terlalu sederhana bahkan teramat kerdil, kalau mahasiswa yang identik dengan semangat dan idealismenya kemudian hanya menjadi simbol kaum terpelajar saja. Ia asyik dengan kepintaran pribadi, menjadi mutiara yang terbungkus yang enggan membagi secercah sinarnya kepada yang lain. Tak ayal lagi, kehadirannya tak ubahnya seperti ketidakhadirannya. Ada atau tidak adanya ia di dunia, sama saja. Disinilah organisasi mengajarkan kita untuk banyak memberi. Karena sesungguhnya yang menentukan nilai kita di dunia ini adalah sebanyak apa kita memberi, memberikan manfaat tentunya. Itulah sebaik-baiknya manusia. Rasulullah SAW bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat terhadap manusia yang lain.” (lihat: Musnad Asy-Syihab Al-Qudho’i hadits no. 1234, Asy-Syekh Al-Albani mengatakan hasan dalam Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir hadits no. 3289)

Bukankah berbuat baik bisa dilakukan tanpa melalui organisasi? Betul, tapi hasilnya tentu berbeda. Sebatang lidi tentu tidak akan mampu membersihkan setumpuk dedaunan dengan bersih. Tapi dengan seikat lidi, tumpukan daun mana yang tidak bisa dibersihkan? Begitupula dengan domba, serigala akan mudah menerkam domba yang menyendiri, terpisah dari kelompoknya.

Kawan, Tidak ada yang pernah tahu di titik mana pemberhentian perjalanan hidup kita, di paruh bayakah atau di usia senja atau bahkan ketika masih muda belia. Kontribusi, sekecil apapun itu tentu akan sangat berarti bagi orang lain dan diri sendiri. Kontribusi melalui kerja-kerja kolektif tanpa mengesampingkan kerja-kerja individu lewat sebuah organisasi. Organisasi yang bertabur manfaat, bukan organisasi yang menebar mafsadat.

Kawan, masihkah kita terhalang untuk bergerak dan berkontribusi hanya karena takut wajah kita rusak oleh sengatan matahari atau peluh yang kian deras membanjiri? Padahal Allah tidak melihat semua itu. Rasulullah SAW bersabda:

«إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Dia melihat hati-hati kalian dan amal-amal kalian.” (lihat: Shahih Muslim hadits no.2564)
“Ketika hidup ini hanya untuk diri sendiri, maka ia akan terasa singkat dan tak bermakna. Tapi ketika hidup ini kita berikan untuk orang lain, ia akan terasa panjang, dalam dan penuh makna” (Sayyid Quthb)

Wallahu a’lam (Faridi)

Tidak ada komentar