Terhangat

KEIKHLASAN ITU ADA BAYARANNYA !


🌍www.majalahelnilein.com
👤M. Nasrullah M.
🌜Khartoum, 25 Nov 2016

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih menjadi santri di sebuah Pesantren di Provinsi Banten, saya mendengar salah seorang Ustadz berkata kepada Ustadz di sebelahnya yang juga kawan beliau di Pesantren tersebut, beliau kira-kira berkata begini “Ikhlas itu bukanlah tidak digaji ataupun bergaji kecil”, itu memang sudah sangat lama sekali saya mendengarnya kira-kira sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu, namun perkataan ini cukup membekas di ingatan saya sampai saat ini karena yang saya tahu, banyak Pondok Pesantren yang berdiri dan berjalan karena keikhlasan beliau-beliau yang diberi honor tidak seberapa, namun di sisi yang lain saya pun mengiyakan akan pentingnya kesejahteraan Ustadz dan Ustadzah di Pesantren sekaligus sebagai tanda memuliakan kedudukan beliau-beliau.

Meski saya sendiri tahu bahwa banyak juga sekolah berbasis Pondok Pesantren yang mengambil dari Orangtua muridnya uang yang hanya cukup untuk makan sehari-hari dan untuk honor guru yang tak seberapa. Dan ketika tulisan ini akan saya buat saya masih belum menemukan titik temu yang pas untuk permasalahan ini sampai akhirnya saya membaca risalah karya Said Nursi. Saya tergerak untuk menulisnya karena teringat beberapa waktu yang lalu ketika salah senior saya yang juga seorang yg berpengaruh di negara tempat kami menimba ilmu dari para Masyaikh (julukan untuk para Syeikh-syeikh besar) mengatakan “Ikhlas itu tak bisa diukur dengan hati”, saat itu perkataan tersebut hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Ustadz saya beberapa waktu yang lalu, tapi kami semua paham maksudnya, bahwa seorang yang dikatakan ikhlas itu berhak meminta bayaran atas jasa baiknya.

Perkataan tersebut secara bahasa memang persis namun terasa aneh didengar di telinga saya saat maksud serta orang berbeda yg mengucapkannya. Karena pemahaman kami dan apa yang diajarkan kepada kami di Pesantren bahwa ikhlas itu tak meminta balas jasa, bahkan ikhlas itu juga mengorbankan hartanya untuk kebaikan bersama bukan malah meminta harta, seperti apa yg dilakukan para kyai-kyai kami.

Di sini saya ingin mengutip perkataan Said Nursi seorang penggerak pergerakan Islam saat masa-masa kejatuhan Khilafah Utsamani Turki tentang keikhlasan, beliau berkata :

“Ia harus mengedepankan kebenaran dan petunjuk ketimbang mengikuti hawa nafsu dan menguatkan kebenaran daripada kepentingan pribadinya”.

Beliau juga meneruskannya dengan kalimat “Cara mengamalkannya, ia harus mengabaikan upah materi dan maknawi yang datang dari manusia, sekaligus menyadari bahwa pujian, penghargaan, dan penghormatan dari mereka semata-mata berasal dari karunia Allah dan sama sekali bukan karena tugasnya yang hanya sekadar menyampaikan. Dengan begitu ia akan mendapatkan keikhlasan. Jika tidak, ia akan kehilangan keikhlasan”.

Begitulah kira-kira Said Nursi memberikan nasihat untuk para pemuka agama, para ulama, para ahli tareka sufi dan umunya umat Islam yg berkhidmat kepada masyarakat tentang keikhlasan.

Rasulullah S.A.W. bersabda : “Manusia sungguh celaka, kecuali yang berilmu. Yang berilmu juga celaka, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Yang mengamalkan ilmunya juga celaka, kecuali yang berlaku ikhlas. Dan orang yang berlaku ikhlas dihadapkan pada bahaya besar”. Kitab al-Aljuni, Kasyf al-Khafa’, no 2796.

Said Nursi juga mengomentari hadist tersebut, beliau berkata : “Hadist di atas menunjukkan betapa pentingnnya kedudukan ikhlas dalam Islam. Ia menjadi landasan dalam semua urusan agama”. Dari sini sebenarnya kita sudah semestinya meyakini bahwa ikhlas memang sangat dibutuhkan dalam setiap amal perbuatan agar amal apapun yang dilakukan dinilai sebagai ibadah dan dibalas oleh Allah S.W.T. dengan balasan yang lebih baik. Bahkan Allah S.W.T. “menyinggung” sangat banyak tentang ikhlas di dalam Al-Quran :

“Sesungguhnya Kami menurunkan (Al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah hanya milik Allah agama yang bersih dari syirik”, (Q.S Azzumar ayat 2-3).

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka menerima pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”, (Q.S Al-Baqaroh ayat 262)

Juga Allah mengabarkan kepada kita, khususnya kepada para Ustadz, Masyaikh dan Dai-dai yang berdakwah di jalan Allah untuk mengambil teladan dari keikhlasan Nabi Luth dalam berdakwah dan tidak mengaharapkan imbalan atas ajakan mereka kepada ketaa’atan, Allah berfirman :

Dan (Nuh berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. (Q.S. Hud 29 )

“Dan aku (Luth) sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta Alam.

Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)". (Q.S. Yunus 72 )

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa keikhlasan jelas ada bayarannya, namun sebaik-baik bayaran dari keikhlasan itu datangnya dari Allah Tuhan semesta Alam. Adapun kehormatan duniawi dan upah yang didapatkan dari sisi manusia tidak lain merupakan sesuatu yang belum pasti, dan datangnya tetap bukan karena usaha kita namun karena Allah yang memberikannya.

Ikhlas juga memang tidak bisa dilihat oleh manusia dan diukur dengan hati karena perkara hati merupakan perkara yang Gaib, namun Allah mengetahui siapa diantara kita yang ikhlas, Allah juga sudah memberikan kriteria orang ikhlas dan bagaimana caranya menjadi mukhlis (orang yang ikhlas) melalui Rasul-Nya maupun Kalam-Nya. Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadikan kita manusia yang ikhlas. Aaamiin, wallahu ‘Alam.
__________________________

Follow IG : @MajalahelNilein
FP Facebook : Majalah el Nilein Sudan ( https://www.facebook.com/pg/Elnilein/about/ )

Tidak ada komentar