Terhangat

TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 183 (At-Tafsiir Al-Wasiith)

oleh: Faridi Abdul Mukti

            Puasa adalah salah satu dari rukun dan kewajiban dalam agama islam. Ia sebagai pendidikan dan perbaikan jiwa manusia. Ia juga sebagai pemelihara bangunan jasmani sekaligus sebagai penguat tekad dan kesehatan. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar RA mengatakan :
سمعت رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلم يقول: بني الإسلام على خمس: شهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمدا رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وحجّ البيت، وصوم رمضان
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Islam itu dibangun diatas lima hal : bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah, dan puasa ramadhan.”
            Puasa dalam pandangan islam adalah riyadhah ruhiyyah (olah jiwa) dan sebagai suatu jalan untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, baik dalam keadaan sendirian maupun terlihat orang lain. Ia juga sebagai madrasah kesabaran, jihad, dan kemampuan menanggung kepayahan. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits nabawi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi bahwasanya :
الصوم شهر الصبر، والصبر ثوابه الجنة
“(Bulan) puasa adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran itu adalah surga.”[1]
            Puasa bukanlah kewajiban yang semata-mata dibebankan kepada kaum muslimin saja, melainkan ia juga merupakan ibadah yang sejak dahulu telah diwajibkan dalam syariat-syariat umat yang lain. Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah : 183)
            Puasa itu menyucikan jiwa dan membuat Allah rida. Tidak ada didalam puasa itu kepayahan yang teramat meletihkan atau sesuatu yang tak tertahankan, karena sesungguhnya puasa itu hanya bilangan hari-hari tertentu yang sedikit dalam setahun, yaitu hanya sebulan.
لو علمت أمتي ما في رمضان من الخير، لتمنّت أن يكون السّنة كلها
“Kalaulah umatku tahu kebaikan yang ada di Bulan Ramadhan, niscaya mereka berharap Ramadhan itu ada sepanjang tahun.”[2]
Sumber : At-Tafsiir Al-Wasiith karya DR Wahbah Az-Zuhaili



[1] DR Muhammad Musthafa Al-A’zhami mengatakan bahwa isnadnya dha’if, karena didalamnya ada Ali bin Zaid bin Jad’an dan dia adalah seorang perawi yang lemah.

[2] Didalam sanad hadits ini ada Jarir bin Ayyub, Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Mathaalib mengatakan Jarir bin Ayyub adalah perawi yang menyendiri dan dia adalah perawi yang lemah sekali.

Tidak ada komentar