Terhangat

MAHASISWA INDONESIA DI SUDAN MELAKUKAN RUKYAT HILAL

Pada hari ahad (5/6) sebagian Mahasiswa International University of Africa yang tinggal di Asrama Maududi dan Yazid bin Habib, pergi ke Jabal Aulia (dataran berbatu yang cukup tinggi ditepian sungai nil) untuk melihat hilal Ramadhan secara langsung. Tradisi ini telah menjadi kebiasaan mahasiswa Indonesia yang tinggal di kedua asrama sejak tiga tahun lalu. Bermula dari penjelasan para masyayikh di majaalisul ilmi yang mereka ikuti tentang keutamaan melihat hilal secara langsung. “ melihat hilal secara langsung seperti ini adalah bentuk implementasi dari hadits-hadits yang kita pelajari tentang hilal, dan ini sangat penting bagi penuntut ilmu seperti kita. Karena bisa jadi sebagian dari kita nantinya akan menjadi orang yang dibebani tanggung jawab untuk menentukan hilal dan semacamnya ketika pulang ke Indonesia. Maka bagaimana kita bisa melaksanakan tanggung jawab itu dengan baik jika tidak mempraktekannya secara langsung” Ustadz Hasan Tonang Lubis selaku ketua rombongan menjelaskan.
Rombongan yang berjumlah sekitar 45 orang itu bertolak dari asrama menggunakan satu buah bus besar  pada pukul 15.15 waktu setempat, membelah panasnya jalanan Khartoum yang cukup ramai sore itu. Suhu udara Khartoum tiga hari terakhir amat panas. Berputar diantara angka 44-46 derajat celcius. Setelah menempuh perjalan sekitar 1,5 jam sampailah rombongan tersebut di tempat tujuan pada pukul 17.45. Sesampainya di tempat tujuan, rombongan bersegera menunaikan sholat ashar berjamaah di lapangan terbuka di pinggiran nil. Masih satu jam lagi waktu tersisa untuk dapat mengamati kemunculan hilal, maka sebagian rombongan ada yang bermain-main di pinggiran nil ataupun berkecipak di tenangnya arus nil untuk menunggu waktu yang tepat mengamati kemunculan hilal.

Sekitar pukul 19.00 seluruh rombongan naik ke bukit berbatu untuk mengamati kemunculan hilal. Setelah menunggu beberapa menit, bukannya tanda-tanda kemunculan hilal yang disaksikan, namun justru amukan badai pasir yang menyapu pemukiman penduduk di bawah bukit terlihat semakin mendekat dari kejauhan dan mengarah ke bukit batu tempat rombongan mengamati hilal. Seluas mata memandang, kaki-kaki langit berwarna abu-abu tertutup debu. Dalam cuaca seperti ini sangat tidak mungkin dapat melihat hilal secara langsung. Maka seluruh rombongan turun dari bukit dan bersegara menunaikan sholat magrib kemudian bersiap pulang untuk menghindari badai debu yang semakin mendekat. Bus beranjak pulang dari jabal aulia sekitar  pukul 19. 45.

Baru sepuluh menit perjalanan ditempuh, rombongan dikejutkan oleh amukan badai pasir yang datang tiba-tiba, memaksa rombongan menutup seluruh jendela bus, sehingga udara terasa panas dan pengap.  Udara diluar sekejap menjadi coklat, jarak pandang hanya beberapa meter saja, hingga lalu lintas jalan melambat. Bahkan beberapa kali bus terpaksa berhenti, karena tidak tersisa jarak pandang yang cukup bagi sopir. Dibalik jendela hanya ada udara kecoklatan membawa debu yang meliuk-liuk dipermainkan angin. Tidak terlihat apa-apa sama sekali. Setelah terjebak dalam amukan badai debu selama kurang lebih satu jam, akhirnya bus bisa kembali berjalan dengan cukup lancar, jendela bus bisa kembali dibuka, dan udara pengap terusir keluar digantikan udara segar. Perjalanan yang harusnya ditempuh hanya satu setengah jam,  molor menjadi kurang lebih dua jam. Selama dalam perjalanan tersiar kabar terlihatnya hilal di Saudi dan negara sekitar, serta dari ulama-ulama Sudan yang menandakan bahwa malam itu adalah permulaan puasa. Meskipun rombongan tidak melihat hilal secara langsung, hal ini menjadi pembelajaran yang berharga, dan semoga bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Bus akhirnya tiba di asrama pukul 09.30, ketika shalat tarawih hampir usai. /TNR12

Tidak ada komentar