Terhangat

Purnama Disunting Solahuddin (Akad Nikah Purnama Sari Tambunan dan Solahudin)

picture by: Hawas Muhammad
Pada selasa 28 Mei 2016 yang bertepatan dengan 21 Sya’ban 1438 H, dua insan bertaut dalam satu ikatan suci. Bertempat di komplek Mujahidin (belakang kuliah Thib IUA,Khartoum), akad nikah antara Solahudin bin Idris Mahasiswa IUA asal Aceh jurusan Dirosah Islamiyah semester 8 dan Purnama Sari Tambunan mahasiswi University of Holly Qur’an and Islamic Sciences jurusan fiqh wa usuluhu dilangsungkan sekitar pukul 17.15 bertepatan dengan kedatangan Duta Besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eriteria, Bapak Burhanuddin Badruzzaman.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an oleh saudara Hidayatulloh yang membacakan surat Ar Ruum ayat 21 sampai ayat 22, kemudian dilanjutkan dengan khutbah nikah yang disampaikan oleh Ustadz Syafrizal. Beliau menjelaskan betapa agungnya sebuah pernikahan yang merupakan  mitsaaqon ghalidza (perjanjian yang amat kukuh), serta pernikahan juga merupakan penyempurnaan setengah agama seorang muslim. Ketika setengahnya telah disempurnakan, maka tinggallah ia menjaga setengahnya lagi dengan cara bertakwa kepada Allah dengan Sebenar-benarnya takwa. Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang Hak dan Kewajiban yang harus dipenuhi oleh pasangan suami-istri.
Setelah khutbah nikah ditutup dengan salam, maka tibalah pada acara inti yaitu  akad nikah. Prosesi akad nikah diawali dengan pembacaan ketentuan-ketentuan pernikahan oleh Bapak Fahmi Umar selaku wakil Petugas Pencatat Nikah (PPN)  KBRI Khartoum. Akad nikah berlangsung agak tersendat karena mempelai laki-laki merasakan nervous, sehingga ijab qobul  harus diulang tiga kali berturut-turut. Bahkan pada kali kedua, pengucapan ijab qobul ditulis di atas kertas oleh Bapak Fahmi Umar untuk memudahkan mempelai laki-laki. Setelah bersusah-payah menaklukan kekeluan lidah, akhirnya terucaplah ijab qobul  dengan lancar tepat pukul 18.28, kemudian Bapak Fahmi Umar bertanya kepada kedua saksi yaitu Ustadz Syafrizal dan Bapak Duta Besar RI untuk Sudan dan Eriteria tentang keabsahan akad nikah tersebut. Serentak dua saksi menjawab sah. Ketika kata “sah” diucapkan oleh dua saksi, atmosfer  ruangan yang tadinya tegang, berubah menjadi gegap gempita oleh takbir yang menggema serta sumringah senyuman yang terpancar dari tiap wajah yang menyaksikan prosesi yang amat sakral itu. Bersama dengan sah-nya ikatan kedua mempelai, maka sempurna pula separuh agama keduanya, dan terbukalah ladang ibadah yang indah dan penuh pahala untuk keduanya. Kemudian keduanya dengan bangga menunjukkan buku nikah yang telah dibubuhi tanda tangan masing-masing. Selepas usainya prosesi ijab kabul, Tio Kurniawan selaku pembawa acara mencairkan suasana dengan pantun-pantun jenaka. Diantaranya:
Pesan dikirim oleh kak Alfan
Lalu diterima oleh Saleh Al Jufri
Selamat untuk Solahudin dan Tambunan
Semoga bisa saling melengkapi
Ada peristiwa yang lucu namun mengharukan saat itu. Ketika mempelai wanita mencium tangan mempelai pria, terlihat keduanya canggung dan kaku, bahkan serta merta keduanya menjauh dan menjaga jarak. Tiba-tiba satu diantara undangan yang menyaksikan berteriak “baru sah kok jauh-jauhan?”, teriakan itu disambut gelak tawa para hadirin, dan bersaut-pautlah teriakan bernada serupa yang membuat pasangan pengantin baru itu semakin rikuh dibuatnya. Begitulah indahnya proses pernikahan yang tidak dimulai dari pacaran, sangat indah dan mengharukan. Tentu beda cerita jikalau hal itu terjadi pada pasangan yang mendahului pernikahannya dengan pacaran, mencium tangan  bukanlah hal yang pantas dirikuhkan dan dianggap spesial.
            Setelah itu, Bapak Drs. Burhanuddin Badruzzaman memberikan sambutan. Beliau mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang diundang ke akad nikah semacam ini di Sudan. “ Suatu kebanggaan bagi saya menjadi saksi nikah, siapapun yang akan menikah di Sudan hubungi saya untuk menjadi saksi nikah, karena hal itu membuat saya merasa kembali muda dan bernostalgia ketika menjadi pengantin baru, sayang ibu tidak ikut.” Beliau berseloroh sambil tersenyum hangat. Beliau juga memberikan nasehat kepada mempelai untuk siap menghadapi segala ujian yang akan datang ketika sudah bersama. Terutama adalah penyakit bosan. Beliau mengatakan pada mulanya memang terasa menyenangkan, tetapi akan datang suatu saat dimana kita merasa bosan pada satu sama lain. “Cinta tidak ada yang kekal, yang dapat mengekalkan adalah kasih sayang, contohnya seperti kasih sayang orang tua terhadap anaknya, itu kekal, cinta selalu identik dengan nafsu”. Ujar beliau, sebelum beliau beranjak pergi untuk menghadiri undangan dari Duta Besar Ethiopia.
            Akhir acara ditutup dengan do’a yang dibawakan oleh Ustadz Abdullah Al Manan dan diamini oleh seluruh yang hadir dengan khusyu’ . Semoga kedua mempelai bisa saling mengiringi dan melengkapi. Semoga sang istri bisa menjadi purnama yang selalu menghiasi pandangan suaminya. Semoga sang suami bisa menjadi Solahuddin bagi keluarga yang dipimpin, serta membawa kemenangan pada tiap peperangan melawan ujian kehidupan dan mengantarkan pada akhir yang husnul khotimah. Semoga keduanya bisa menjalin keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin. (Times New Roman 12).

Tidak ada komentar