Terhangat

Seminar Urgensi Media Islam Di Era Globalisasi dan Malam Nonton Bareng Film Tausiyah Cinta


Khartoum-25/02/16. Warga Negara Indonesia di Sudan ter-khususnya mahasiswa/i Indonesia kembali mendapatkan kunjungan dari seorang tokoh dari Indonesia. Setelah sebelumnya dikunjungi tokoh da'i yang aktif memerangi liberalisme pada bulan November silam yaitu Dr. Adian Husaini, kini Warga Negara Indonesia di Sudan mendapatkan kunjungan dari tokoh perfilman islam, yaitu al-Ustadz Izharulhaq yang merupakan produser film Tausiyah Cinta yang tayang di bioskop-bioskop tanah air pada bulan januari lalu. Kunjungannya ke Sudan merupakan kunjungan dalam rangka bisnis, namun di tengah-tengah kesibukkannya dalam perjalanan bisnisnya ia sempatkan untuk bertatap muka dengan mahasiswa dan mengadakan seminar ini. Kiprah beliau dalam dunia perfilman telah dimulai sejak dini, tepatnya ketika beliau masih mengeyam pendidikan di Darul Hikmah beliau pernah ditawari untuk bermain film, namun karena beberapa alasan beliau menolak dan menyatakan bahwa ia ingin membuat film bukan bermain film. Beliau mengungkapkan bahwa dalam era informasi yang semakin cepat berbasis internet terjadi ghozwul fikri yang sangat dasyat, dimana  90 % media dikuasai asing yang mempunyai misi-misi untuk menghancurkan generasi muda dengan apa yang mereka tayangkan. Kemudian beliau juga menyatakan tentang pentingnya manuver yang luwes dalam dakwah dan menyeluruh di semua lini dan tepat dengan keadaan, dan dakwah tidak hanya dimaknai berbicara dari mimbar ke mimbar saja. "Pada zamannya Sayd Quthub lebih memilih menulis dalam perjalanan dakwahnya dari pada memanggul senapan, karena sepucuk senapan hanya dapat menembus satu kepala tiap tembakan jika tepat sasaran, namun tulisan dapat menembus jutaan kepala manusia. Namun beda hal-nya dengan zaman ini, dimana film lebih diminati dari pada buku, maka kami memilih film sebagai lapangan dakwah kami". ujarnya menjelaskan. Beliau juga menyatakan ketika kita belum bisa menjadi seorang creator yang baik, maka setidaknya kita harus menjadi  apreciator yang baik terhadap karya-karya yang bermuatan dakwah, sehingga jalannya dakwah menjadi lebih lagi. satu hal yang perlu kita banggakan bahwa pemutaran Tausiyah Cinta di Sudan merupakan pemutaran film yang pertama di mancanegara. (Red-Rif'at)

Tidak ada komentar