Terhangat

Ku Tunggu Kau di Surganya

Pagi di desa Sumberejo kecamatan Batur wilayah Kabupaten Banjarnegara yang berada dibawah puncak Dieng itu begitu dingin, mata hari baru saja menampakkan sinarnya, burung-burung bersiul di dahan-dahan pepohonan. “pak’eee, pak’eee” keheningan pagi di rumah kediaman Bapak Said dipecahkan oleh teriakan Putri Bungsunya Afifah. “opo to nduk….” Timpal Bapak Said yang sedang duduk di Ruang Tamu bersama sang Istri menikmati secangkir Teh dan sepiring pisang goring hangat. “ini lo pak, ada berita di Internet, ada seorang wanita palestina di tembak hingga tewas karena menolak melepaskan cadar, hebat benar ya pak, sangat berani, beda dengan di Indonesia, banyak wanita yang membuka auratnya tanpa diminta” kata Afifah. “jadi muslimah harus begitu ndok, harus berpendirian teguh untuk mempertahankan izzah dan kehormatan kita” timpal sang Ibu. “ Afifah mau jadi seperti dia bu, jadi wanita yang berani dan berprinsip serta taat pada Allah, semoga saja mas Baits dapat istri seperti itu juga” ujarnya. “Kabar mas Baits gimana ya nduk, bukannya mas mu bilang mau telepon hari ini, ada kejutan katanya” Pak Said menanyakan kabar putra sulungyan yang sudah dua tahun menjadi relawan kemanusiaan di Palestina. “sebentar, nduk kirim pesan dulu” jawabnya.
Assalamulaikum mas, gimana kabarnya? Jadi telepon ndak? Bapak sama ibu, nanyain mas, katanya ada kejutan, kejutan apa sih? Bikin penasaran aja. Afifah membuka percakapan.
Setelah 30 menit berlalu hp Afifah bordering, “walaikumsalam dek, Alhamdulillah kabar mas baik-baik saja dan selalu dalam perlindungan Allah, sepertinya tidak jadi telpon, ada banyak pasien yang harus diobati, ini mas baru saja selesai mengoperasi korban ledakkan ranjau, titip salam kangen buat bapak dan ibu.
****
Hawa mencekam memenuhi udara di kota Hebron yang berada di tepi barat Palestina. Bangunan luluh lantah menghiasi sudut-sudutnya. Sesekali tembakan senapan memekikan hawa kematian di sudut-sudut kota yang dirampas hak miliknya oleh tentara Israel yang biadab. Tatapan penuh kebencian yang mendalam memancar dari mata para serdadu, nyalang mencari alasan untuk menganiaya bahkan membunuh warga palestina. Kendati telah habis alasan yang bisa mereka dapatkan sebagai pembenaran atas tindakannya, dengan ringan dan tanpa merasa bersalah mereka menganiaya warga palestina. Parade kekejian di trotoar jalan silih berganti dengan aktor utama yang sama, tentara Israel sebagai sang antagonis dan warga palestina sebagai korbannya.
            Seorang gadis  palestina bernama Zahra berumur 19 tahun berjalan tergesa-gesa. Matanya yang tajam menoleh beberapa kali kebelakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Cadar hitam yang dikenakannya sejak kecil tak mampu menyembunyikan ketakutannya yang terpancar dari tatapan matanya yang penuh curiga. Beberapa kali ia tersandung reruntuhan bangunan yang berceceran di trotoar. Ia sangat tahu sekali teramat berbahaya berjalan sendirian di kota kelahirannya ini. Ratusan cerita kembali terngiang dibenaknya tentang kekejaman demi kekejaman yang menimpa saudara-saudarinya yang dilakukan oleh kaum Yahweh. Gang demi gang ia lewati dengan penuh rasa was-was, khawatir jika ada tentara yang muncul dari balik gang. Jikalau tidak ada alasan yang teramat mendesak Ia tidak akan keluar rumah, ia harus mengantarkan obat-obatan ke Rumah Sakit tempat Ayahnya bekerja suka rela merawat korban luka-luka. Kemarin malam Ayahnya mengabarkan obat bius telah habis di Rumah Sakit sedangkan sore nanti aka ada pasien yang menjalani operasi. Tetiba ia mendengar suara samar yang sangat ia hafal. Suara yang selalu menghantuinya, suara yang menyimpan cerita pilu, suara yang jika  ia dengar di pagi hari maka ia akan kembali mendengarnya di malam hari sebagai mimpi buruk. Suara itu, suara derap berat sepatu tentara Israel yang ia dengar ketika ia dipaksa bersembunyi oleh ibunya di kolong ranjang.  Tepat ketika ia masuk di kolong ranjang suara itu terdengar semakin dekat dan berhenti tepat didepan pintu rumahnya yang mungil. Kemudian keheningan menyelimuti ia dan ibunya untuk beberapa detik, sebelum suara pintu yang didobrak mengagetkannya dan bulir-bulir air mata membasahi wajahnya yang ketakutan. Pintu kamar yang sudah dikunci rapat pun didobrak, kemudian dua orang tentara Israel menatap bengis ibunya yang berdiri gemetaran sambil mengacungkan sebilah pisau dapur dengan tangan gemetar. “ Hai moslemah bodoh, apa yang bisa kau lakukan dengan pisau dapurmu itu, hendak membunuhku hah!!” sang tentara membentaknya dengan wajah bengis merendahkan.
“pergi kalian, pergi!!! Jangan menggangguku” jawabnya sambil mengacung-acungkan pisau. “hahahahaha, dasar kau bodoh. Sebodoh pakaian yang kau kenakan” timpal tentara Israel lainnya. “apa kau ingin selamat??” ujar tentara pertama. “lepas cadar dan jilbab yang kau kenakan itu” lanjutnya.
“tidak!!!” ibunya berteriak dengan garang, seakan lenyap rasa takut yang tadinya ia rasakan, matanya membeliak menatap tajam dua tentara Israel itu, tangannya yang mulanya gemetar kini kukuh menggenggam pisau. “walau nyawa taruhannya aku tidak akan sudi kau lecehkan dasar tentara Israel busuk!!!” ia berteriak marah. Baginya cadar dan jilbab ialah perlambang kehormatan dan ketaatan pada Allah tuhan semesta alam, menanggalkannya merupakan kehinaan baginya.
Sekejap dua peluru menembus dada dan perutnya lalu ia ambruk membelakangi dua tentara Israel itu, tepat menghadap putrinya yang bersembunyi di kolong ranjang. Ia menatap putrinya yang dengan sekuat tenaga menahan tangisnya, namun air matanya tak terbendung, tumpah begitu deras menganak sungai menatap ibunya yang berlumuran darah meregang nyawa. Ibu yang sangat ia cintai dengan sepenuh jiwa, yang selalu menanamkan nilai-nilai islam dalam hatinya, kini terkapar tak berdaya. Cadar yang ibunya kenakan terlepas, deraian air mata membanjiri wajah teduh itu, dengan sisa-sisa tenaganya ia taruh satu jari tepat dibibirnya yang mengisyaratkan putrinya untuk tetap diam, sebab tentara Israel belum lama pergi, kemudian ia genggam cadarnya yang terlepas, ia taruh tepat diatas dadanya kemudian ia ulurkan pada putrinya seakan berkata “jagalah cadarmu yang baru kemarin aku hadiahkan padamu, itu adalah simbol kehormatan dan ketaatan kita pada Allah”. lamat-lamat terdengar dua kalimat syahadat ia ucapkan sebagai penutup hayatnya. Tak kuasa Zahra menahan tangisnya lagi, ia mengabaikan pesan ibunya agar tetap diam. Sengguk tangisnya makin lama makin keras, berjam-jam ia meratapi kematian ibunya,  ia peluki jasad ibunya yang tak lagi bernyawa. Ia menangis hingga matanya bengkak dan kehabisan air mata, namun kesedihan yang ia rasakan tidaklah cukup untuk sekedar ditumpahkan dengan air mata ia terus menangis dengan suara yang makin lama semakin parau lalu lenyap sama sekali, ia pingsan  ketika hari mulai gelap, ketika siang kehilangan pelita, seperti Zahra yang kehilangan pelita hidupnya yang amat ia sayangi meninggalkan kegelapan yang amat memilukan.
            Tembakan senapan dari kejauhan menyadarkan Zahra dari lamunan singkatnya yang memilukan, menyisakan sebutir embun di sudut matanya  yang jatuh begitu saja tanpa sempat ia seka, seperti kenangan buruk yang hadir begitu saja tampa sanggup ia cegah. Ketakutannya semakin menjadi, sedang derap sepatu itu semakin mendekat. Ia bimbang antara melanjutkan perjalanan atau bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. Ia memutuskan untuk bersembunyi dibalik reruntuhan rumah yang roboh. Bibirnya tak berhenti mengucap dzikir seraya memohon perlindungan pada Rabb yang maha kuasa.

*****

            “Bedebah, setiap hari kita harus berpatroli seperti ini.” Umpat seorang Tentara Israel berkepala botak. “ini semua akibat penduduk Palestina yang hina, harusnya mereka sadar dan segera angkat kaki dari tanah ini, Kuil Solomon yang berada dibawah Baitul Maqdis sudah menjadi bukti tanah ini diperuntukkan bagi kaum terbaik dan termulia yaitu Yahudi” tentara lain yang bertubuh paling gempal dari yang lain menanggapi. “Pantas saja jika kita bunuhi mereka, darah mereka tak lebih berharga dari lumpur dibandingkan kejayaan kaum Yahudi, kesalahan terbesar mereka adalah beragama Islam, sangat pantas mereka mati, Hahahahahaha” jawab tentara bertubuh paling kekar ia tertawa dengan seringai penuh kebencian. “ Sudah seminggu ini senapanku tak kutembakkan pada orang-orang hina itu, terakhir kali aku tembakkan setengah bulan yang lalu, itupun hanya membunuh seorang anak kecil, akan lebih baik jika hari ini senapanku bisa mencabut nyawa seorang wanita, sebab dari rahim para wanita palestina itulah musuh-musuh kita terus lahir dan merintangi kejayaan kaum kita” tambah tentara bertubuh kekar, sambil mencoba mengarahkan senapannya keberbagai arah seakan siap mewujudkan keinginannya yang begitu keji pada hari itu. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada ujung kain hitam di reruntuhan bangunan di seberang jalan. Satu kilatan aneh muncul di matanya, senyum tipis nan bengis terkembang, lalu dia arahkan bidikkan senapan yang ia genggam kearah kain hitam itu. Ia Tarik perlahan tuas kokang senapannya, dalam hati dia menghitung perlahan, satu….. dua….. tiga….duarr……nyalak senapan memecah keheningan kala itu, kain hitam koyak tertembus hujaman timah yang dimuntahkan moncong senapan. Dua temannya tersentak kaget “Hei apa yang kau lakukan!!, buat apa membuang buang peluru dengan percuma seperti itu?” tentara berbadan tambun berteriak kesal. “lihat kesana bodoh” ujar tentara berbadan kekar seraya menunjuk ujung kain hitam yang terkoyak peluru. “hahahahaha itu hanya kain hitam, buat apa kau tembaki, sudah gila rupanya kau karena tidak membunuh muslim muslim bodoh itu selama dua minggu” tentara berkepala botak mencibir tentara berbadan kekar. “lihat ini, dan perhatikan baik-baik” si kekar mendengus kesal karena merasa direndahkan, dhuarrr….. lagi lagi ia tembakan senapannya pada kain hitam diantara reruntuhan bangunan, berharapa ada satu teriakan histeris dari seorang wanita palestina, sebab dia yakin sekali kain hitam itu adalah ujung jilbab wanita palestina, bahkan teramat yakin sebab sudah sering kali dia menganiaya mereka, memaksa melepas jilbab, menodai mereka kemudian membunuhnya. Dua temannya menertawakannya dengan maksud mengejeknya kemudian dengan penuh kekesalan dan kekecewaan ia tembak lagi kearah kain hitam itu dengan asal, dan mengenai tembok didekatnya, kemudian satu teriakan tertahan terdengar perlahan dan terkembanglah senyum penuh kemenangan di wajah si kekar, dua temannya yang tertawa terbahak-bahak terdiam dan tanpa komando mereka bertiga berjalan keaarah datangnya suara teriakan itu.
****
           
            Jantungnya berdegup cepat tatkala ia mendengar suara percakapan tentara Israel yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja dari tempatnya bersembunyi. “ Sudah seminggu ini senapanku tak kutembakkan pada orang-orang hina itu, terakhir kali aku tembakkan setengah bulan yang lalu, itupun hanya membunuh seorang anak kecil, akan lebih baik jika hari ini senapanku bisa mencabut nyawa seorang wanita, sebab dari rahim para wanita palestina itulah musuh-musuh kita terus lahir dan merintangi kejayaan kaum kita” salah seorang tentara berceloteh dengan ringannya tentang keinginannya untuk membunuh wanita palestina, membuat ketakutan Zahra semakin menjadi, keringat dingin bercucuran, dan pandangannya serasa berputar dan gelap sejenak. Ketakutannya semakin parah, hingga tubuhnya bergetar, ia tidak sadar bahwa ujung jilbab panjangnya menjulur keluar dari tempat persembunyiannya. “Dhuarrrrrr” satu tembakan timah panas mengagetkannya, serasa nyawanya berhamburan meninggalkan raganya kala itu, hampir ia menjerit histeris, jikalau saja ia tidak menguatkan diri dan memaksakan diri untuk mengigit ujung baju yang sengaja ia gigit untuk meredam gemetar ketakutan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tembakan yang datang tiba-tiba dari arah belakang tubuhnya membuatnya hampir pingsan dilanda ketakutan, terasa begitu dekat sekali.  Ia coba memberanikan diri untuk menoleh kebelakang karena ada hawa panas yang menguar dan bau terbakar. Apa yang ia lihat membuatnya terperanjat ketakutan, ujung jilbabnya telah terkoyak dan ujung runcingnya pun telah lenyap, menyisakan pola koyak yang mengerikan, asap tipis mengepul dari lubang di tanah yang ditembus peluru. Untaian dzikir yang ia dengungkan semakin cepat, memohon perlindungan dari semua kengerian kepada Allah yang maha segalanya, kendati baginya kematian yang syahid pun dengan bahagia akan diterima jika itu adalah ketentuan yang digariskan untuknya. Ia amat percaya balasan dari Allah adalah sebaik-baik balasan. Sejak kecil ia telah terbiasa menyaksikan kematian, bahkan kematian ibu kandungnya terjadi dihadapannya. Ia tumbuh atas bimbingan ayahnya yang seorang dokter. Ia faham sekali bahwa terlahir sebagai orang Palestina artinya terlahir sebagai pejuang. Pejuang untuk tanah yang dicintainya terlebih lagi berjuangan untuk agamanya. Meskipun penuh dengan kesulitan, ia sangat bangga menjadi seorang Palestina, menjadi seorang Mujahidah, menjadi tentara Allah yang berani menjemput surganya.
            Ia dengar dua tawa berbarengan yang bernada mengejek pada tentara yang menembak kearahnya karena mengira ujung jilbabnya yang ditembak hanya sekedar kain biasa dan tidak ada siapa-siapa dibelakang reruntuhan, ia bisa bernafas lega. Namun setelahnya Zahra mendengar percakapan singkat antara mereka dan “Si Penembak” kukuh dan bersikeras bahwa ada seseorang dibalik reruntuhan, lalu selongsong peluru kembali ia tembakkan “Duaarrr” hancur ujung jilbab Zahra yang terjulur keluar tembok persembunyiannya tanpa sisa, rasa kaget kembali menyusupi hatinya, namun kali ini ia bisa lebih menguasai diri. Kemudian setelahnya tidak ada percakapan lagi yang ia dengar dari tentara Israel, senyap begitu saja. Namun keheningan itu dirobek oleh satu desingan peluru yang dimuntahkan oleh moncong senapan milik tentara Israel “Si Penembak” tadi tanpa sedikit pun Zahra duga, menembus tembok, dan menyerempet lengannya serta mengoyakkan pakaiannya kemudian mulus meluncur ke reruntuhan tembok. Zahra tak kuasa menahan rasa sakitnya, ia gigit ujung bajunya, namun tak sanggup menahan seluruh erangan sakitnya, hingga sebagian erangannya terdengar ke seluruh penjuru tempat itu. Darah mengalir membasahi lengan dan bajunya, pandangannya sejenak menghitam, pikirannya mengambang, kosong, semua indranya serasa mati, hanya rasa sakit di lengan kirinya yang menjaganya tidak kehilangan kesadarannya secara keseluruhan.  Derap berat sepatu tentara menyentak kesadarannya. Rasa sakit yang ia rasakan hilang sekejap karena ia tahu apa yang akan ia hadapi  akan lebih dari itu. “Hei wanita jalang dibalik tembok, tunjukkan dirimu!!” teriak tentara bertubuh kekar. Zahra bergeming tak bergerak barang satu inci pun dari tempatnya bersembunyi. “Keluar jalangg!!!!!!!! Dasar pelacur” ujar tentara lainnya. Panas telinga Zahra mendengar panggilan yang disematkan padanya, harga dirinya seperti dirobek-robek. Semenjak kecil ia telah menjaga iffah  dirinya dari hal-hal yang merendahkan kemuliaannya sebagai seorang muslimah. Kemuliaan diri seorang muslimah telah ditanamkan mendalam oleh bundanya sejak kecil, di akhir hayat bundanya berpesan untuk terus menjaga cadarnya dan kematian bundanya lah nasihat yang paling membekas didirinya, kematian bundanya menjadi bimbingan terakhir bundanya, bagaimanakah seorang muslimah harus bersikap dalam menjaga iffah, bukan dengan kata-kata bundanya membimbing di akhir hayat, bukan dengan tulisan, tapi dengan sikap berani mempertahankan kehormatan seorang muslimah meski harus mengadu nyawa. “Hai anak pelacur, keluar kau, jika tidak akan ku tembak kau”. Hilang kesabaran Zahra mendengar hinaann itu, hinaan yang ditujukkan kepada bundanya yang amat teguh dan berani, yang amat taat pada tuhannya, yang amat ia sayangi, amarahnya tersulut berkobar-kobar, ia pun berdiri tanpa rasa takut tersisa di hatinya. “Hai manusia-manusia biadab, kalian tak perlu menghina ibuku, bagaimana rasanya jika hinaan itu ditujukan kepada ibu kalian!!??” Zahra berteriak garang. Ketiga tentara itu tersentak dan terdiam sejenak mendengar teriakan Zahra  yang tanpa rasa takut, suaranya lantang, tak ada sedikitpun getar ketakutan terdengar dari suaranya. “Diam kau muslimah bodoh!!! Dasar kau hina, dasar kau jalang, dasar pelacur” tentara bertubuh tambun menggertak, teriakan Zahra yang  menohok hati nurani mereka sesungguhnya sedikit memberi mereka pencerahan bahwa mereka melakukan hal yang salah, namun dinasihati oleh seorang muslimah yang mereka anggap lebih rendah dari bangsa yahudi membuat ego mereka tak menerima begitu saja, bahkan menyulut amarah mereka dan membuat mereka mengingkari hati nurani mereka. Tentara bertubuh kekar ikut berbicara, “hai muslimah bodoh, tak usah kau berteriak-teriak seperti itu, sebelum nyawamu kami cabut, berikanlah kami sedikit kesenangan, hahaahahaha, buka cadarmu dan semua yang melekat di tubuhmu !!!”. Merasa direndahkan sedemikian rupa Zahra begitu murka, sekonyong-konyong ia pungut sebongkah batu kemudian, ia lemparkan sekuat tenaga dan telak mengenai kepala tentara yang merendahkannya, ia siap menerima resiko tindakkannya. “Dasar keparat, kubunuh kau!!! Ujar tentara yang kepalanya dilempar batu, ia mengokang senapannya dan mengarahkannya pada Zahra, “DUARRRR!!!” satu peluru menembus bahu Zahra, tubuhnya mulai limbung, ia terjerembab ke trotoar, darah mengucur dari lukanya, sekelebat ia melihat senyum teduh ibunya yang amat ia rindui, “ibu, yang kulakukan ini benar bukan?” ujarnya lirih. Ia teringat ayahnya “ Ayah maafkan aku, apakah aku sudah menjadi anak yang baik bagimu?” ia teringat pula pada seorang pemuda baru saja menjadi suaminya sehari yang lalu, selepas akad nikah mereka langsung berpisah karena ada panggilan darurat operasi. Suaminya adalah seorang dokter muda spesialis asal Indonesia yang telah dua tahun menjadi relawan di Hebron membantu ayah Zahra, namanya Baits al-Fath “ mungkin aku tidak bisa menjadi istrimu yang utuh didunia ini, ku tunggu kau di surganya” ia berbisik teramat lirih, dua matanya mengembun namun selengkung senyuman bahagia terukir di wajahnya. “ Allah engkau yang maha kuasa, engkau maha segalanya, ampunilah segala dosaku, muliakanlah aku bersama para syuhada, pertemukanlah aku denganmu, dan nabimu yang mulia, Asyhadu an Laa Ilaaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadarosulullah. “Duarrrr, Duarrrr” dua peluru ditembakkan beruntun oleh tentara bertubuh kekar, satu melesak ke dada sebelah kiri, dan yang lain menembus leher Zahra. Darah mengucur deras dari tubuhnya, ia tersenyum, ia tersenyum mampu menjaga kemuliaanya sebagai bentuk kepatuhannnya pada tuhan semesta alam, nafas terakhirnya ia hembuskan dengan tenang dan perlahan. Angin berhembus perlahan, suasana hening, seakan semesta bisu, berkabung menangisi kematian sang mujahidah dalam diam.

****
            Suasanan Rumah Sakit Hebron teramat sibuk, udara dipenuhi tangisan anak kecil dan erangan orang dewasa yang terluka akibat tembakan maupun ranjau, dua orang dokter terlihat gusar didepan ruangan operasi. Dokter yang pertama berwajah asli palestina berusia sekitar 50 an tahun, sedang dokter yang kedua berwajah asia tenggara, kulit sawo matang, dengan mata yang bulat namun tajam dan berwibawa. “ya bunayya maa ladzi yamna’u Zahra ‘an ityanin muta’ajilin?”[1] ujar sang dokter berwajah Palestina. “ishbir abii, wa an tuhassin dzonnaka ‘ala Allahi[2]” sang dokter berwajah Asia mencoba menenangkan Dokter Palestina yang juga mertuanya itu, padahal ia pun risau karena istrinya tak juga datang, cincin perkawinan  dari perak yang tersemat di jari manisnya diputar-putar dengan tangan kanan, kemudian tanpa sadar cincinnnya terlontar ke sudut ruangan, ia memungutnya sambil menatapnya nanar, entah kenapa ada rasa cemas yang begitu besar menelusup ke relung hatinya yang paling dalam. Didalam ruangan operasi yang tertutup terdengar lirih erangan seorang anak kecil yang terkena serpihan bom fosfor, kakinya hancur berantakkan sebatas lutut. Disampingnya ada ayahnya yang tak hentinya mengusap rambut anaknya yang setengah sadar sambil berdzikir. Dari ujung lorong terdengar derap langkah kaki yang bergema disepanjang lorong, seorang perawat pria tergopoh-gopoh berlari kearah dua dokter itu. “ya thobib ya thobib, khobar muhzin”[3] ia berkata pada dua Dokter itu dengan ter-engah-engah. “askin nafsaka ya akhi, wa bayyin ‘an khobarin alladzi ji’tanaa li ajlihi bil khuduu[4]” jawab dokter berwajah asia itu sembari menenangkan dengan logat arab yang hampir sempurna. “sayyyidah, sayyidah ya thobib..”[5] sang perawat masih kesulitan berbicara “ romaa junuudu isroiil sayyidah Zahra bil bunduqiyyah fa qodhou alaiha”[6]. Suara putus-putus perawat itu bak halilintar menggelegar di siang bolong tat kala musim kemarau di telinga Baits sang dokter berwajah Asia. Dunia serasa berputar, pandangannya menggelap, kesedihan yang begitu dalam menyesakkan dadanya. Usia pernikahannya baru saja sehari semalam, bahkan ia belum sempat mengabari keluarganya di Indonesia akan pernikahannya karena kesibukkannya merawat pasien tak pernah usai. Ia hanya mengirim pesan kepada Adik perempuan bahwa hari itu setelah mengoperasi pasien akan menelepon dan akan memberikan kejutan. Tetes – tetes air mata kesedihan menganak sungai bermuara dari hatinya yang paling dalam, mengalir melalui dua sudut matanya, membentuk aliran sungai di wajahnya yang didera kesedihan yang amat sangat dalam. Dengan sangat lirih, bahkan hanya didengar ia sendiri, ia berkata, “Allah lah pemilik seluruh dunia ini, ia yang menyatukan kita, ia pula yang memisahkan kita. Perpisahan ini hanya sementara sayang, sebab perpisahan sesungguhnya diantara dua jiwa yang saling mencinta adalah ketika salah satu dari mereka di syurga dan lainnya di neraka, tunggu aku di surganya[7]”. Ia seka air matanya hingga tak berbekas, dan ia berjanji untuk tak lagi bersedih, karena perjumpaan yang lebih indah telah disiapkan buatnya di surganya, kemudian ia berlalu menyongsong obat bius dari bantuan kemanusiaan yang baru saja tiba, dan mulai mengoperasi pasiennya. Tak ada waktu baginya untuk bersedih, tak ada sesal, tak ada risau, yang ada hanya syukur yang tiada henti, tawakkal tanpa putus, serta keyakinan yang tak ternoda keraguan sedikitpun bahwa janji Allah nyata, dan Allah lah sebaik-baik pemberi balasan.

oleh: Rif'at Mubarok (yaqutmubarok.blogspot.com)


[1] Wahai anakku, apakah yang merintangi Zahra sehingga tidak bisa datang dengan cepat?
[2] Sabarlah ayah, dan berhusnudzanlah pada Allah
[3] Hai dokter, hai dokter ada berita buruk
[4] Tenangkan dirimu terlebih dahulu, kemudian barulah kamu jelasakan dengan seksama kabar apa yang ingin kau sampaikah sehingga kamu mendatangi kami
[5] Nyonya, nyonya tuan…..
[6] Tentara Israel menembak nyonya Zahra dan menewaskannya
[7] Dikutip dari perkatan Syeikh ‘Aidh Al-Qorny

Tidak ada komentar