Terhangat

Sudan di Mata Bapak Burhanuddin Badruzzaman

Sore hari kemarin (27/06) diadakan ifthar jama'ie bagi seluruh mahasiswa dan WNI di wisma Indonesia. Acara di mulai sekitar pukul 06.45 waktu Sudan yang dipimpin oleh Bapak Fahmi Umar sebagai master of ceremonial dengan apik dan tertib. Dimulai dengan pembacaan kalam illahi acara berlangsung khidmat, disusul sambutan oleh Duta Besar Indonesia untuk Sudan dan Eritheria dan diakhiri dengan tausiyah diniyah yang disampaikan oleh Kautsar Afdhal Lc ketua PPI masa abdi 2015-2016 hingga menjelang maghrib dan kemudian berbuka. Selain mengundang seluruh warga negara Indonesia, buka bersama ini juga turut mengundang tokoh-tokoh persahabatan Indonesia-Sudan dan keluarga Syeikh Surkati seorang Syeikh asal Sudan yang menjadi tokoh berpengaruh di Indonesia. Usai sholat maghrib acara di lanjutkan dengan menyantap makan malam, kemudian setelah itu undangan dipersilahkan pulang atau menetap di wisma untuk melaksanakan sholat tarawih bersama Bapak Duta Besar. Dan ternyata hanya sekitar dua puluh orang yang menetap dan bertarawih di wisma.
Salam witir kami menandakan selesainya sholat tarawih, setelahnya Bapak Dubes merubah posisi tahiyatnya menjadi duduk santai sembari memutar tubuhnya yang kami artikan sebagai ajakan untuk berbincang santai dengan kami, obrolan beliau mulai dengan sapa ramah dan aura kebapakannya yang teramat kami rasakan.
Sudan dimata beliau ternyata berbeda sekali dengan apa yang kita pikirkan, mungkin tiap dari kita ketika pertama kali menginjakkan kaki di Sudan melontarkan banyak keluhan akan cuaca yang panas, fasilitas terbatas, hingga hidup terasa sulit dan tak bebas. “Dari semua negara arab hanya di Sudan saja saya mendapat penghormatan setinggi ini” ,ujar beliau. “ Sudan sangat membenci LSM-LSM yang datang ke Sudan, sering kali diperlakukan agak kurang sopan, tetapi ketika kita berkata bahwa kita adalah orang Indonesia, maka perlakuan itu sekejap berubah menjadi ramah” ,beliau memberikan contoh dengan penuh semangat. Saudi Arabia saja yang mulanya sangat menaruh hormat dan menghargai bangsa Indonesia, dimulai sekitar tahun 1995 mulai berubah disebabkan banyaknya khuddaamaat yang bekerja disana yang akhirnya mempengaruhi hubungan emosional antara Saudi dan Indonesia. Hal lain yang beliau paparkan tentang Sudan adalah tentang kedekatan antara pemimpin dan rakyat. “suatu ketika saya pernah menunaikan sholat Jum'at di masjid kafuuri, saya tidak sadar bahwa yang sholat di samping saya adalah Presiden Omar Basyir” ,beliau menambahkan. Kedekatan para pemimpin dengan rakyat Sudan memang pantas diacungi jempol, kejadian yang beliau alami sangat sering sekali terjadi, menurut penuturan beberapa ikhwan, mereka juga pernah mengalami hal tersebut. Bahkan, tidak jarang Presiden Omar Bashir menjadi wakil nikah di masjid jika ada yang menikah kemudian meminta beliau untuk menjadi wakil nikah, karena di negara ini akad nikah tidak mengharuskan kehadiran pengantin laki-laki dan wali pengantin wanita, tetapi keduanya diwakilkan oleh tokoh tertentu. Ini tentu berbeda dengan apa yang kita temui di negara kita, sedikit saja seseorang mempunyai jabatan terkikislah kerendahan hati yang ia miliki, dan berjalan dengan penuh jumawa, merendahkan orang lain, demi menegaskan bahwa ia lebih tinggi derajatnya, meskipun tidak semua seperti ini, Bapak Dubes contohnya, beliau teramat ramah dan rendah hati. Bapak Dubes juga mengatakan bahwa kita belum bisa mengimbangi kebaikan Negara ini yang telah memberikan beasiswa pendidikan kepada ratusan mahasiswa Indonesia, sementara pada tahun ini, hanya 46 mahasiswa Sudan saja yang diberikan beasiswa untuk berkuliah di Indonesia. Masihkah kah kita mengeluhkan keadaan Sudan?
(Rif'at Mubarok)

Tidak ada komentar